Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
175. Mencoba Ikhlas


__ADS_3

Wisnu memelankan mobilnya begitu sudah mendekati rumah Mbak Tiwi, dan berhenti begitu akhirnya dekat pintu pagar bambu rumah Iis.


Wisnu tak bisa parkir tepat di depan pagar rumah Iis, dan terpaksa mengambil sedikit lahan di depan pagar rumah Mbak Tiwi karena ada sepeda motor yang terparkir persis di depan pagar.


Sepeda motor yang tak terlalu asing untuk Wisnu pastinya.


"Turun sekarang Nis?"


Tanya Wisnu pada Anisa di sampingnya yang tampak sedang menatap sepeda motor yang terparkir tak jauh di depan mobil mereka dan juga kemudian melihat ke arah rumah Iis yang kini pintu utama rumahnya terlihat terbuka.


Jelas saat ini di rumah Iis sedang ada tamu, dan tamunya adalah pemilik sepeda motor yang kini terparkir di sana.


Anisa menghela nafas, ia merasakan hatinya langsung tak karuan.


Meski ia sadar betul jika seharusnya ia sudah terfokus pada niat diri untuk menikah dengan Wisnu sebentar lagi, dan tak boleh lagi terganggu dengan apapun yang dilakukan oleh orang dari masa lalu, tapi...


"Ayok."


Terdengar lagi suara Wisnu yang mengajak turun dari mobil.


Anisa menoleh ke arah Wisnu yang kini sudah melepas sabuk pengamannya dan bersiap keluar dari mobil.


Bersamaan dengan itu dari rumah Iis, tampak keluar seorang pemuda yang tentu saja Anisa dan Wisnu kenali betul siapa dia.


Pemuda itu keluar diiringi Ibunya Iis yang mengantar hingga teras depan rumah.


"Maaf ya Nak, Ibu bukannya memaksa atau bagaimana, tapi..."


"Tidak apa-apa Bu, saya mengerti, nanti saya akan bicara dengan Ibu dan Mbak Wening di rumah."


Kata Ridwan memotong kalimat Ibunya Iis karena tidak ingin Ibunya Iis seperti terbebani sekali dengan permintaannya sendiri.


"Sebetulnya Ibu malu dan tak enak, tapi rasanya, melepaskan anak gadis seperti Iis untuk sembarang laki-laki, Ibu tidak rela."


Lirih Ibunya Iis.


Ridwan menunduk, ia sendiri sebetulnya merasa begitu banyak kekurangan selama ini, bahkan cintanya untuk Anisa saja sampai dilecehkan keluarga Anisa, bukankah itu menunjukkan bahwa sebetulnya dirinya juga adalah laki-laki yang tak sempurna?


Tapi...


Ibunya Iis entah kenapa memandang dirinya seolah berbeda, dalam segala kekurangan yang Ridwan rasakan ada pada dirinya, Ibunya Iis justeru ingin Ridwan menjadi suami bagi putri kesayangannya.


Putri yang merupakan gadis baik dan sangat mengagumkan. Gadis yang istimewa dari kecerdasan dan juga kepribadiannya.


Sungguh, Ridwan sebetulnya merasa Iis seharusnya bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik daripada dirinya.


Tapi Ridwan...


Ah ia kembali merasakan debar dalam dadanya yang kini seolah semakin luar biasa.


Ia telah bermaksiat mata karena kepolosan Ibunya Iis mengajak Ridwan menjenguk Iis yang seharusnya tak boleh dilakukan.


Mungkin, Ibunya Iis tak sampai berpikir ke arah sana, di mana rambut anak gadisnya juga adalah aurat, meski Iis tertidur di bawah selimut tebal dan tak tampak lekuk tubuhnya pun tetap itu tak boleh dilihat seorang laki-laki yang bukan mahrom.

__ADS_1


Maka...


Ridwan merasa sungguh telah melakukan kesalahan yang teramat besar pada Iis, ia telah mencuri kehormatan Iis sebagai muslimah dengan pandangan matanya meski tanpa sengaja.


Tidak...


Ini jelas tidak boleh.


Ini tentu saja seharusnya tak boleh terjadi.


Jadi, Ridwan sebagai laki-laki yang sedang berusaha belajar menjadi laki-laki sholeh yang baik dan bertanggungjawab, tentu saja ia harus sungguh-sungguh mempertimbangkan keinginan Ibunya Iis.


Ridwan kemudian kembali berpamitan pada Ibunya Iis.


Saat itu, terdengar suara pintu mobil ditutup, Ridwan dan Ibunya Iis pun menoleh ke arah depan pagar di mana tampak kini Wisnu dan Anisa berjalan beriringan memasuki halaman depan rumah Iis.


Suasana pun kemudian terasa begitu canggung, manakala kedua mata Ridwan dan Anisa tak sengaja bertemu.


Saat akhirnya Wisnu dan Anisa sampai di teras rumah lalu bersalaman dengan Ibunya Iis, tampak Ridwan memilih turun dari teras.


"Pak Ustadz, ayo temani saya dulu, jangan pulang."


Kata Wisnu ramah dan hangat.


Sikap pemuda itu memang selalu begitu hangat pada Ridwan.


Tampak Keduanya bersalaman pula, meski Ridwan rasanya cukup gugup dengan pertemuan yang tak ada dalam rencana bahkan dibayangannya pun tak pernah.


"Saya harus segera ke kantor yayasan Mas Wisnu, maaf sekali, nanti saja kapan-kapan."


"Oh Yayasan sudah berjalan?"


Tanya Wisnu.


"Untuk pondok dan rumah tahfiz, minggu ini akan mulai aktif, ya bismillah, semoga ke depannya bisa lancar."


Kata Ridwan.


"Aamiin,"


Wisnu mengaminkan, lalu...


"Kalau mau ikut jadi donatur hubungi panjenengan to?"


Tanya Wisnu pula,


Ridwan tampak mengangguk,


"Oh alhmdulillah kalau begitu, nanti saya hubungi njenengan Pak Ustadz."


Ujar Wisnu, yang lantas dijawab anggukan kepala oleh Ridwan.


Anisa sendiri langsung memilih masuk ke dalam rumahnya Iis dan menuju kamar Iis di mana Iis seperti baru saja membuka matanya karena mendengar suara berisik orang mengobrol di depan rumah.

__ADS_1


Anisa menyunggingkan senyuman lebar, meski dadanya kini terasa seolah sedang dipukuli batu besar.


Iis berusaha bangun dari posisinya berbaring, Anisa segera menghambur menolong Iis.


"Jangan dipaksa bangun Is,"


Kata Anisa.


Iis tersenyum,


"Aku tidak apa-apa kok Nis, hanya demam dan sakit kepala saja, ini juga udah mendingan, alhmdulillah."


Kata Iis yang tetap berusaha bangun dan duduk.


"Kamu ini, masih kerasa panas kok badanmu."


Ujar Anisa saat membantu Iis duduk bersandar pada tumpukan bantal, dan menyentuh kulit lengan Iis yang terasa masih panas.


"Ini udah mendingan daripada pagi tadi."


Kata Iis.


Anisa mengangguk saja, mencoba memperlihatkan jika ia percaya dengan apa yang dikatakan Iis.


Tentu saja, Iis pasti juga sedang mensugesti dirinya, bahwa ia tidak apa-apa dan akan segera sembuh.


"Ada siapa di depan? Kamu sama calonmu?"


Tanya Iis yang akhirnya telah duduk bersandar pada bantal dengan nyaman.


Anisa meletakkan parsel buah di atas meja kamar Iis, lalu duduk di sisi tempat tidur Iis, berhadapan dengan Iis.


Dipaksakannya senyuman di atas luka hatinya, ia menatap Iis lekat-lekat.


"Ada Mas Ridwan, dia jenguk kamu."


Kata Anisa dengan suara yang sedikit bergetar, dan Iis bisa merasakannya.


"Ngg... Anisa, aku bisa menjelaskannya Nis, itu... itu tidak seperti yang kamu bayangkan."


Iis langsung panik dan gugup.


Anisa meraih tangan Iis dan menggenggamnya dengan lembut.


"Tidak apa Is, andaikan memang iya pun aku sudah tidak apa-apa, aku..."


Anisa sejenak menghentikan kalimatnya, karena tiba-tiba ia ingin menangis.


Ia memang tak bisa memungkiri hatinya sakit dan hancur, tapi ini bukan salah siapapun, ini hanya masalah keadaan yang tak memungkinkan Anisa dan Ridwan bersama.


Ya...


Bukan salah siapapun, bahkan juga bukan salah othor.

__ADS_1


(Hihihi... met pagi all, semangat monday, money day)


**------------**


__ADS_2