Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
145. Mas


__ADS_3

Ridwan di dalam kamar tampak melepas jaketnya, lalu melepas kemejanya dan menyisakan kaos dalam warna putih.


Sejatinya, cita-cita Ridwan memang kelak ingin seperti Buya Yahya, yang bisa melakukan sunah-sunah Rosulullah sampai hal-hal terkecil, yang salah satunya adalah memakai pakaian dua lapis.


Hanya saja, berhubung Ridwan belum sampai ke tahap memakai jubah atau gamis atau apapun sebutannya, Ridwan pun melakukan sesuatu yang berdasarkan apa yang ia mampu lebih dulu saja.


Ridwan menggantung jaket dan kemejanya di gantungan belakang pintu, yang rencananya akan ia rendam besok pagi sebelum subuh dan akan dicucinya selepas pulang dari Masjid.


Ridwan lantas meraih handuk dan akan bersiap mandi, saat ia akan membuka pintu kamarnya, lalu sayup terdengar Mbak Wening menyebut nama Iis.


Sayup Ridwan mendengar Mbak Wening bicara pada Ibu,


"Bu Guru Iis itu dari keluarga baik-baik Bu, kan Wening sudah sering cerita juga kan, itu Ibunya Bu Guru Iis juga baik sekali orangnya. Sejak Ajeng les di tempat Bu Guru Iis, lalu Wening kerja di Pak Haji Syamsul, kan Ibunya Bu Guru Iis itu enak sekali diajak bicara."


"Iyo, kamu wis cerita bolak balik sama Ibu, kalau begitu ya kita doakan yang terbaik saja untuk Ridwan, kalau memang jodohnya dengan Bu Guru Iis yo semoga nanti ada jalannya. Kan semua sudah diatur oleh Allah,"


Ibu terdengar menjawab sebijak biasanya, yang jawaban tersebut, ternyata membuat Ridwan jadi tersenyum sendiri lagi di dalam kamar.


Berdiri di balik pintu kamar dan menahan diri lebih dulu untuk keluar dari kamarnya, Ridwan kini justeru jadi teringat lagi yang barusan terjadi di rumah Iis.


Ya Iis, begitu perempuan yang membuat Ridwan kagum itu memintanya memanggil.


Panggilan selayaknya teman, yang di mana Ridwan memang menjadi merasa lebih dekat.


Flashback,


"Sekretaris, nopo Pak Ridwan yakin saya akan bisa menjalankan tugas-tugas sebagai sekretaris yayasan Pak?"


Tanya Iis begitu Ridwan menyampaikan keinginannya.


Ridwan mengangguk tanpa ragu sama sekali,


"Tentu saja Iis bisa, melihat panjenengan adalah sosok yang senang belajar dan sangat bertanggungjawab dengan pekerjaan, selalu maksimal menjalankan tugas, maka saya yakin, inshaAllah panjenengan bisa dan mampu menjadi sekretaris yayasan yang mumpuni."


Jawab Ridwan.


"Ya Allah, Pak Ridwan, panjenengan jangan seperti itu,"

__ADS_1


Iis tampak tak enak dipuji sedemikian rupa.


Meski hatinya sebagai perempuan tentu saja begitu berbunga-bunga dipuji laki-laki yang sejatinya ia sukai itu, namun Iis juga takut dalam rasa suka dipuji itu kelak membuat diri lupa dan akhirnya jadi takabur.


Iis selalu ingat nasehat Abah Yai di pondok, di pengajian yang ia ikuti yang memang diperuntukkan untuk umum dua sampai tiga kali dalam seminggu.


Bahwasannya Iblis dikeluarkan dari syurga bukanlah karena ia bermaksiat, namun karena ia berlaku sombong.


Ada riwayat bahkan, Rosulullah menasehati Fatimah, putri kesayangan beliau, untuk tidaklah merasa bangga apabila dipuji, kata Rosulullah, "Wahai Fatimah, janganlah engkau merasa bangga atas pujian yang ditujukan padamu, karena sesungguhnya jika ada kesombongan sedikit saja padamu, aku kelak tak akan bisa menolongmu. Sungguh, pisau yang diletakkan di leher jauh lebih baik daripada pujian manusia atas dirimu."


Dan...


Karena itulah, Iis menerima pujian Ridwan pun tentu jadi antara senang karena ia sebagai perempuan yang dipuji laki-laki yang ia sukai, namun sekaligus juga ia takut pujian Ridwan sebagai manusia melenakan dirinya.


Bersamaan dengan itu, untunglah Ibunya Iis muncul dengan mangkuk mie rebus dan juga satu piring gorengan tempe dan tahu yang baru saja matang.


Aroma mie rebus yang khas langsung tercium lezat begitu Iis yang membantu Ibunya menyuguhkan mangkuk mie dan gorengan meletakkannya di depan Ridwan.


"Monggo Pak Ridwan."


Kata Iis mempersilahkan,


Kata Ibu.


"Iis saja Bu."


Kata Iis cepat.


Tapi Ibu buru-buru menolak,


"Eh kamu di sini saja temani Pak Ridwan,"


Kata Ibu,


"Aduh, Bu, panggilnya Ridwan saja Bu, tidak apa-apa, sama Iis juga panggil Ridwan saja."


Ujar Ridwan meski terlihat masih agak malu-malu, namun tampak berusaha sebiasa mungkin,

__ADS_1


Tampak Ibunya Iis tentu saja tersenyum senang,


"Ooh, betul itu, Ibu panggilnya Nak saja nggih, sapa tahu nanti jadi anak Ibu juga kan nak..."


Ibu malah seperti bercanda, meski niat hatinya tentu saja itu serius sebagai harapan.


Mendengarnya Ridwan tampak tersenyum, sedangkan Iis tentu saja menatap Ibunya dengan mata membulat karena tak menyangka Ibunya bisa bicara sedemikian lugasnya.


Ibu yang tahu Iis menatapnya setengah protes langsung tampak nyengir, dan langsung cepat-cepat masuk ke ruang dalam lagi,


"Ibu ambilkan minum putih dulu, sebentar... Sebentar..."


Kata Ibunya Iis berusaha menghindari tatapan putrinya.


"Duh maaf Pak."


Kata Iis tak enak,


Ridwan tersenyum dalam posisi menunduk sambil mengaduk mie rebus di depannya agar bumbunya tercampur rata.


"Tidak apa-apa Is, pagi tadi juga Mbak Wening dan Ajeng menggoda Iis kan? Dan panggil aku Ridwan saja Is, sama seperti Iis minta aku panggil Iis saja."


Sahut Ridwan.


Iis tampak senyum-senyum,


"Tapi panjenengan bakal jadi bos saya kan di yayasan, kalau panggil Ridwan saja sepertinya saya nanti tidak sopan."


Ujar Iis,


"Ya kalau begitu di luar sekolah dan wilayah kerja saja."


Iis tersenyum mendengarnya, lalu...


"Mas saja? Mas Ridwan ya?"


Flashback berakhir.

__ADS_1


**------------**


__ADS_2