
"Ketemu Iis atau Ustadz Ridwan?"
Tanya Anisa pada calon suaminya.
"Ustadz Ridwan sama Iis,"
Kata Wisnu.
Tampak perubahan pada wajah Anisa sekilas lalu, Wisnu menghela nafas, ada sisi hatinya yang merasa terbakar melihat Anisa sepertinya belum sepenuhnya bisa melupakan sosok Ridwan.
Tapi...
Wisnu toh bisa apa? Mau marah pun ia merasa tak ada energi untuk melakukanya, apalagi di saat ini di mana mereka tengah berada di area pemakaman, yang sebetulnya saat lewat di sana pun kita tidak boleh mengobrol tidak jelas.
Ya...
Bayangkan saja, kita lewat di tengah area makam yang semua di sana adalah ahli kubur.
Para ahli kubur itu, kita sama sekali tak tahu nasibnya, mungkin ada yang tengah kesulitan karena disempitkan kuburnya, mungkin ada yang tengah disiksa, mungkin juga ada yang menangis menunggu anak keturunannya mendoakan namun mereka di dunia hanya tenggelam dalam kesibukan mencari uang.
Di kala kita lewat di tengah area pemakaman, para ahli kubur itu melihat kita yang lewat bukannya mendoakan mereka, bukannya mengirimkan hadiah untuk mereka berupa memohonkan ampunan agar yang sedang disempitkan bisa diluaskan, yang sedang disiksa bisa dihentikan siksanya, atau yang sedang menangis pilu bisa sedikit terangkat kesedihannya, malah kita asik mengobrol dan tetap hanyut dalam perkara dunia.
Mereka yang andai bisa tangannya akan berusaha menjangkau kita untuk minta tolong, mereka yang andai bisa akan berteriak meminta tolong, lalu kita kebanyakan melupakan itu.
Sungguh, jangankan para ahli kubur, bahkan keranda mayat saat kita lewat pun ia akan berkata, akulah kendaraan kalian nanti.
Itu sebabnya, pergi ke pemakaman adalah seharusnya untuk banyak mengingat kematian, banyak mendoakan, bukan mengobrol, bukan berbincang, apalagi bercanda dan selfie-selfie.
"Kita keluar dulu Nis, tak patut kita bicara di tengah area makam,"
Kata Wisnu akhirnya dengan tetap sabar dan selalu bisa memaklumi bahwa Anisa memang nyatanya butuh waktu untuk menerima Wisnu sepenuhnya, dan melupakan Ridwan sepenuhnya juga.
__ADS_1
Anisa pun mengangguk, ia mengikuti langkah Wisnu yang menuju keluar area pemakaman.
Setelah kemudian mereka sampai di parkiran, barulah Wisnu mengajak bicara lagi.
"Jadi bagaimana? Mau tetap keluar kota atau ditunda saja Nis?"
Anisa yang mendapat pertanyaan dari Wisnu sejenak terdiam, seolah berusaha berpikir apa yang sebaiknya ia lakukan.
Lalu...
"Tetap pergi saja, sesuai rencana awal."
"Yakin tidak apa-apa?"
Tanya Wisnu lagi, seolah benar-benar ingin memastikan Anisa memang akan baik-baik saja.
Anisa menatap Wisnu, tersadar kembali dirinya bahwa ini adalah sudah menjadi bagian dari keputusannya sendiri.
Anisa pun mendekati Wisnu,
"Ayo kita pergi, nanti keburu siang."
Kata Anisa meraih lengan Wisnu, membuat Wisnu mengangguk lalu tersenyum.
**----------------**
Mbak Wening mengantar Mas Amin sampai di depan teras rumah.
Hari sudah menjelang siang, dan Mas Amin harus cepat kembali ready karena admin ojek sudah mulai berisik Mas Amin istirahat terlalu lama.
Mas Amin memang salah satu tukang ojek yang masuk dalam komunitas ojek online lokal yang menerima orderan lewat aplikasi chat, maka ia pun tidak bisa terlalu lama off dari grup admin, dan melewatkan orderan yang masuk.
__ADS_1
"Dua hari lagi tek ambil ya Ning pesanannya."
Kata Mas Amin.
Mbak Wening pun mengangguk mengiyakan,
"Sekalian nanti aku ajak anakku supaya ketemu Mas Ridwan, biar nanti ikut rumah Tahfiz Mas Ridwan itu ya Ning?"
Kata Mas Amin.
Mbak Wening mengangguk,
"Iyo, sayang kalau punya anak tidak diajari ngaji juga, wong yang bakal jadi dibawa sampai mati kan justeru ngaji itu, yang nanti bermanfaat untuk orangtua juga ngaji itu."
Kata Mbak Wening, tampak Mas Amin mantuk-mantuk.
"Nanti yang sulung tek ajak,"
Mbak Wening mengangguk.
"Mumpung masih kecil, jadi saat dia mencari jati diri bisa menemukan dirinya lewat jalan yang benar."
"Iyo Ning bener, sekarang ini melihat pergaulan di luar mengerikan Ning, aku apa lagi, sering ngojek sampai malam, lihat anak muda mudi usia sekolah masih di jalanan, ada yang bergerombol, ada yang berduaan, miris melihat mereka. Aku itu tidak bisa merasa benci atau apa Ning, tapi malah kasihan dengan mereka, mungkin mereka tidak betah di rumah hingga akhirnya memilih di jalanan seperti itu."
"Iyo genahan Mas,. makanya mudah-mudahan anak kita tidak sampai terjerumus ke dalam pergaulan yang negatif, yang hanya akan membuat anak-anak kita menyesal di hari tuanya. Ya ini kewajiban kita Mas, mengarahkan dan mendampingi mereka."
Mas Amin setuju.
Setelah itu, Mas Amin pun pamit, ia naik ke atas motornya dan kemudian pergi meninggalkan rumah Mbak Wening.
Tampak Mbak Wening menghela nafasnya menatap ke arah ujung jalan di mana Mas Amin menghilang tak terlihat lagi.
__ADS_1
**---------------**