Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
92. Tiba Di Rumah


__ADS_3

"Alhamdulillah..."


Ibu tampak begitu lega melihat Ridwan sampai rumah lagi dengan selamat.


Hari telah larut ketika Ridwan akhirnya tiba di kampung halamannya lagi dan langsung diantar oleh Pak Haji Imron dengan mobil yang sengaja lewat jalan memutar agar melewati rumah Ridwan terlebih dahulu.


Mbak Wening yang memang sudah diberitahu oleh Ridwan bahwa ia tengah dalam perjalanan pulang, sengaja tidur di kursi panjang ruang tamu untuk jaga pintu.


Hingga saat terdengar ada suara mobil berhenti di depan halaman, Mbak Wening langsung sigap bangun dan membukakan pintu untuk sang adik.


Ridwan tampak menyalami Ibunya, sementara kantong plastik berisi oleh-oleh telah dibawa masuk ke ruang tengah oleh Mbak Wening.


"Sempat macet tadi Bu di Pemalang, jadi ini telat satu setengah jam."


Kata Ridwan.


"Yo tidak apa-apa, alhmdulillah sudah sampai rumah dengan selamat, tidak baik mengeluhkan perkara kecil ketika karunia yang lebih besar sudah didapatkan."


Ibu mengingatkan.


"Nggih Ibu, alhmdulillah."


Ridwan tersenyum.


"Niing, ini Ridwan dibuatkan teh anget."


Kata Ibu pada Mbak Wening yang sedang membongkar isi tas plastik berisi oleh-oleh dari Ridwan.


"Kalau kue itu dari Pak Bagas, kerupuk warna warni dan telor asin itu dari Pak Haji Imron, tadi di Indramayu dan di Brebes Pak Haji lumayan banyak borong oleh-oleh, anak-anaknya pada nitip."


Kata Ridwan.


"Ealah, pak Haji Imron itu lho sama anak-anak sayang betul."


Kata Mbak Wening yang membuka bungkusan kerupuk lalu memasukkan ke dalam toples yang memang khusus untuk kerupuk kebetulan sudah dua hari kosong.


"Ning, ini lho wedang buat Ridwan."


Ibu jadi mengomel karena Mbak Wening malah asik bongkar oleh-oleh dan sekarang sibuk icip-icip.

__ADS_1


"Iyo Bu, ini juga mau dibuatkan, woles to bu... Woles..."


Kata Mbak Wening.


Mendengarnya Ibu jadi menghela nafas sambil geleng kepala,


"Ridwan cuci muka dulu Bu, sekalian rendam baju kotor."


Kata Ridwan sambil masuk ke dalam kamar membawa ranselnya.


"Eeeh, sudah malam, rendam baju kotornya besok saja."


Kata Ibu.


Ridwan pun akhirnya mengangguk, ia tak mungkin membantah apa yang dikatakan sang Ibu.


Ridwan masuk ke kamar, mengeluarkan beberapa potong pakaian, dan satu sarung.


Al-Qur'an kecil juga turut keluar dari sana dengan tasbih dan peci, untuk kemudian ia letakkan di atas meja lagi.


Setelah semua barang keluar, di mana termasuk juga dompetnya, Ridwan menggantungkan ranselnya itu di paku belakang pintu.


"Ini Wan wedang teh nya."


Kata Mbak Wening yang meletakkan satu gelas wedang teh yang kebul-kebul panas.


Aroma melati tercium harum dari wedang teh buatan Mbak Wening.


"Nggih Mbak, nanti tek cuci muka dulu."


Kata Ridwan.


Mbak Wening pun mengangguk.


"Oh iya, sudah makan belum Wan? Mau dibuatkan mie rebus tidak?"


Tanya Mbak Wening lagi,


"Ooh iya Wan, kamu kalau belum makan yo makan dulu, biar tidak masuk angin."

__ADS_1


Kata Ibu menimpali.


"Nanti Ridwan buat sendiri Mbak, tidak apa-apa."


Sahut Ridwan.


"Lho kok malah buat sendiri, wis Mbak buatkan, kamu sana cuci muka, nanti begitu selesai, mie rebusnya juga sudah matang."


Kata Mbak Wening.


Ridwan jadi tersenyum.


"Nggih sampun Mbak, tapi kalau tidak merepotkan."


"Walah cuma mie rebus, merem juga matang."


Seloroh Mbak Wening membuat Ridwan mengulum senyuman lagi.


"Mbak mu itu kalau ngomong suka asal keluar saja Wan."


Ibu juga jadi tersenyum setiap mendengarkan Mbak Wening bicara, anak perempuannya itu nyatanya memang lebih clemang-clemong dibandingkan Ridwan yang laki-laki.


Ridwan itu bukan hanya pendiam, tapi juga santun sekali jika bicara. Dari dulu sebelum masuk pesantren, Ridwan memang sudah begitu, sopan dan santun pada siapa saja, lalu begitu masuk pesantren ia lebih bertambah lagi.


Tentu saja ini juga yang pastinya di ajarkan oleh para kyai di pesantren.


Ridwan pun berjalan ke belakang rumah untuk menuju kamar mandinya.


Terlihat di langit bulan separo telah menggantung dengan cahayanya yang berkilauan.


Menyinari pohon rambutan dan mangga yang kini rambutannya sedang mulai berbuah meskipun masih kehijauan.


Sungguh Allah mengatur segala hal di dunia ini dengan begitu sempurna, alam raya sebesar inipun Allah urus dengan begitu luar biasa tertata.


Maka, Ridwan jadi merenungi ayat Kursi yang kerap dibacanya.


"Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Yang hidup kekal dan terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Tidak mengantuk dan juga tidak pernah tidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Tidak ada yang mampu memberi syafaat di sisi Allah tanpa ijinnya. Allah mengetahui apa semua yang ada di hadapan dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidaklah merasa berat memelihara keduanya, dan Allah maha tinggi lagi maha besar."


**-------------**

__ADS_1


__ADS_2