Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
112. Gelisah Yang Sama


__ADS_3

Tak jauh berbeda dengan Ridwan, di kamarnya, Wisnu juga tampak sama tak bisa tidur, ia terlihat begitu gelisah.


Kadang duduk, kadang berbaring, kadang duduk di kursi depan meja kerja, kadang pindah lagi ke sofa di sudut ruangan dekat jendela kaca kamarnya.


Wisnu jelas merasakan gejolak dalam dirinya kini sungguh besar, rasa takut jika nanti Anisa menolak lalu akhirnya memutuskan untuk pergi tak tahu ke mana.


Atau Anisa menerima namun pada akhirnya ia tetap tak bisa maksimal melindungi Anisa sebagaimana yang ia inginkan.


Apalagi, pernikahan jelas bukanlah hal yang bisa dianggap remeh temeh dan main-main saja.


Ini adalah perkara yang seharusnya mereka lakukan satu kali seumur hidup saja.


Wisnu menghela nafas, mencoba memejamkan matanya sambil berusaha menenangkan diri.


Terbayang lagi dalam benak bagaimana wajah Anisa yang pucat dan tubuhnya yang gemetaran manakala berhadapan dengan keluarganya.


Sungguh hati Wisnu begitu terenyuh dan iba, sejak kecil dulu Wisnu memang sudah merasa kasihan pada Anisa, dan kali ini rasa itu menjadi bertambah besar.


Ia merasa Anisa memang sungguh-sungguh tidak beruntung dalam hidupnya.


Ia begitu tertekan, terkungkung, dan sangat tidak bahagia.


Anisa, dengan wajah secantik dia, yang seharusnya beruntung menjadi anak bungsu seorang pemilik toko emas cukup terkenal di daerah itu malah justeru terlihat sama sekali tak bisa menikmati kehidupannya.


Wisnu membuka matanya kembali pelahan, ia melirik jam dinding kamarnya yang nyaris mendekati angka dua belas malam lebih.


Di jam yang sudah mendekati dini hari, Wisnu belum juga mampu tidur, ini jelas akan berlangsung sampai nanti, bahkan mungkin akan sampai subuh.


Wisnu bangkit dari duduknya, ia lalu memilih mematikan lampu kamarnya saja hingga benar-benar gelap dan hanya cahaya lampu teras yang masuk menembus dari jendela kaca.


Wisnu mendekati tempat tidurnya, lalu naik ke atas tempat tidur untuk kemudian berbaring.


Ia kembali menghela nafas, tatkala setiap kali ada sesak di dadanya terasa lagi.


Anisa...


Sudah sejauh ini, mana mungkin aku tak mau peduli?


Sudah sejauh ini, mana mungkin aku akan diam saja?


Batin Wisnu merasa benar-benar sedih.


**---------------**

__ADS_1


Nit nit... Nit nit...


Terdengar suara alarm di kamar Iis.


Iis membuka matanya yang masih digelayuti rasa kantuk yang teramat.


Tampak gadis itu memaksakan diri bangun untuk kemudian duduk di atas tempat tidurnya.


Rasa kantuk yang bergelayut itu tentu saja tak lantas menjadi alasan Iis membatalkan niatnya untuk bangun sholat malam.


Setelah selesai membaca doa bangun tidur, Iis pelahan turun dari tempat tidurnya, kedua kakinya yang menjuntai ke bawah berusaha mendapatkan sepasang sandal dalam rumahnya yang biasa ia pakai.


Sandal jepit berwarna pink dengan gambar kupu-kupu itu lantas Iis pakai dan menemani langkah kaki Iis keluar dari kamar.


Krik...


krik...


krik...


Suara jangkrik di luar rumah yang sayup terdengar bersahutan dengan suara serangga malam lainnya menghiasi malam yang sunyi.


Iis terus membawa langkahnya menuju dapur lalu masuk ke kamar mandi.


Terkecuali jika ia sedang benar-benar lelah atau juga sedang tidak sehat, barulah Iis tidak memaksakan diri karena memberikan hak istirahat pada tubuh agar bisa kembali sehat adalah kewajiban.


Setelah cuci muka dan berwudhu, Iis keluar dari kamar mandi dan membaca doa.


Bersamaan dengan itu, derit pintu kamar Ibunya pun yang terbuka terdengar, yang tak usah menunggu lama sampai terdengar juga suara langkah ibu yang mendekati dapur.


"Is..."


Ibu yang baru muncul di dapur ketika melihat Iis baru saja mengusap wajahnya karena selesai membaca doa setelah wudhu.


"Oh, nggih Bu, kok sudah bangun?"


Tanya Iis yang karena biasanya Ibunya akan bangun nanti jam tiga pagi, dan akan meneruskan dengan mengaji sampai subuh.


"Kan Ibu mau goreng ayam buat bekal nanti di mobil."


Jawab Ibu.


"Oalah, astaghfirullah, iya Bu, maaf Ibu, Iis lupa sekali."

__ADS_1


Kata Iis.


Ibu tampak tersenyum,


"Lha yo tidak apa-apa, wong memang Ibu yang mau goreng kok Is, kan Ibu juga bilang apa, kamu itu capek dari pagi belum istirahat, jadi lebih baik Ibu saja yang masak."


Ujar Ibu.


"Tidak apa-apa kok Bu, Iis kan ikhlas melakukannya, apalagi kan buat Ibu."


Mendengar itu Ibu jelas langsung menghela nafas, rasa bangga dan haru bercampur jadi satu langsung rasanya.


"Wis sana sholat dulu, nanti kamu batal."


Kata Ibu pula.


"Nggih tek sholat dulu sebentar Bu."


Kata Iis.


"Iya."


Sahut Ibu.


"Ini Ibu juga mau sholat."


Kata Ibu lagi.


"Nanti Iis bantu siapkan bekal buat di mobil Bu, tek sholat dulu."


Kata Iis lagi, seolah takut sekali Ibunya akan capek sendirian.


Ibu jadi tersenyum,


"Iyo... Iyo... sana sholat, lalu berdoa supaya jodoh sama Ridwan."


Seloroh Ibu yang membuat Iis semula sudah akan masuk kamar jadi merajuk.


"Aaah Ibuuu lhoooo..."


Ibu pun terkekeh-kekeh.


**-------------**

__ADS_1


__ADS_2