
Suasana kantor Notaris yang akan membantu proses penandatanganan surat kuasa atas beberapa aset Pak Sahudi dari para ahli waris untuk kepentingan yayasan dan juga umat tampak sepi karena memang hari ini sebetulnya adalah hari libur.
Hanya satu karyawan senior yang sepertinya sudah menjadi kaki tangan Notaris yang akan membantu semua prosesnya, dan karyawan itu yang merupakan seorang laki-laki kini meletakkan tiga bendel kertas, dan juga stampel, pulpen, dan juga bak stampel sidik jari yang seperti wadah bedak padat perempuan.
Ridwan tampak memandangi ruangan dengan luas sekitar 7 x 6 meter persegi tersebut.
Beberapa rak buku tampak memenuhi dinding ruangan, ada juga satu pot bunga di pojok ruangan, AC dengan pengharum ruangan aroma jeruk yang digantung di mesin AC, foto Pak Jokowi dan juga Pak Yai Ma'ruf Amin yang mengapit burung garuda pancasila.
Ridwan bersama Pak Haji Imron serta Pak Bagas dan asisten pribadinya duduk dalam satu set sofa di ruangan tersebut, menunggu Notaris hadir untuk menyaksikan proses penandatanganan.
Sekitar lima belas menit menunggu, saat akhirnya seorang perempuan dengan penampilan sederhana namun tetap terlihat anggun dan elegan muncul di ruangan tersebut didampingi karyawannya yang tampaknya memang sudah senior.
"Maaf Tuan-tuan, lama menunggu."
Kata Ibu Notaris kepada yang hadir di sana.
Senyuman ramah tersungging di wajahnya yang ayu, perempuan berusia empat puluh tahunan yang masih cantik meski tak berlebihan dalam penampilannya.
Ibu Notaris itu duduk di satu kursi yang menghadap kepada para klien khususnya hari ini,
"Ini Mas Handoyo, beliau merupakan karyawan sekaligus keponakan saya, jadi apabila nanti ada hal-hal yang misal akan ditanyakan lagi, bisa langsung menghubungi beliau, inshaAllah akan siap kapan saja kalau Mas Handoyo ini."
Kata Ibu Notaris yang logat bicaranya seperti orang jawa.
Ibu Notaris lantas meraih tiga bendelan kertas di atas meja di depan mereka yang tadi sudah lebih dulu diletakkan oleh Handoyo, karyawannya.
"Maaf Tuan-tuan, ini kebetulan karena selepas Asar saya ada acara, jadi bisa kita mulai sekarang saja ya?"
Tanya Ibu Notaris, semua pun mengangguk.
__ADS_1
"Sebetulnya ini saya sebagai Notaris harus memberi tanggal sesuai penandatanganan, tapi berhubung hari ini hari minggu, maka saya memakai hari besok, yaitu hari senin. Ini karena Pak Bagas meminta pemakluman jarak kota Pak Ustadz dan Pak Haji yang cukup jauh, dan juga kesenggangan waktu Pak Ustadz yang hanya bisa hadir di akhir pekan."
"Sebetulnya memang untuk Sabtu, kantor kami buka setengah hari, tapi kemarin Pak Bagas berhalangan karena ada rapat mendadak di kepulauan seribu dan Pak Ustadz juga baru berangkat ke Jakarta ya kalau tidak salah?"
Ibu Notaris ke arah Ridwan yang tampak mengangguk.
"Baiklah, saya akan bacakan sebentar surat kuasa yang kemarin lebih dulu dibuat saudara-saudara Pak Bagas kepada Pak Bagas untuk menyerahkan sejumlah aset kepada yayasan, dan juga menguasakan semuanya pada Pak Ustadz."
Ridwan mengangguk, Pak Haji Imron dan Pak Bagas tampak mantuk-mantuk,
Ibu Notaris pun membacakan setiap yang tertulis pada surat kuasa dan juga akta hibah dengan jelas, setiap point penting Ibu Notaris juga menjelaskan dengan detail agar kedua belah pihak sama-sama memahami tujuan daripada kuasa itu dibuat.
Setelah semua dibacakan dan dijelaskan, Ibu Notaris memberikan ruang dan waktu untuk kedua belah pihak bertanya apa yang sekiranya tidak dipahami.
Dan karena semua merasa sudah tidak ada hal yang perlu dipertanyakan, maka Ibu Notaris pun mempersilahkan Pak Bagas, Pak Haji Imron dan Ridwan untuk menandatangani akta dan surat-surat yang telah dibuat, tak lupa juga tentu saja sidik jari penghadap.
Seluruh proses tak lupa didokumentasikan oleh karyawan Notaris yang telah dikenalkan bernama Mas Handoyo.
Kata Ibu Notaris.
Pak Bagas tampak mengangguk,
"Nanti asisten saya yang datang ke kantor saja tidak apa-apa Bu,"
Ujar Pak Bagas.
"Semoga semuanya lancar ya Pak Ustadz, kebetulan SK Kementrian sudah terbit, nanti akan disertakan seluruhnya dengan akta-akta yang telah ditandatangani akan kami berikan salinannya."
"Oh nanti kami minta fotokopi yang dilegalisir mungkin empat atau lima rangkap nggih Bu."
__ADS_1
Kata Pak Bagas.
Ibu Notaris mengangguk,
"Kami akan siapkan Pak, termasuk fotokopi SK juga akan kami siapkan yang telah dilegalisir."
"Alhamdulillah, jadi semuanya sekarang sudah selesai?"
Pak Haji Imron begitu lega.
Ibu Notaris mengangguk,
"Iya Pak Haji, untuk seluruh proses surat-surat, semuanya telah selesai, nanti tinggal proses ke depannya adalah Pak Ustadz tentu saja yang menjalankan amanah dari keluarga pak Sahudi."
"InshaAllah... Saya akan berusaha, dan tentu saja semua sesuai dengan izin Allah, yang memampukan Allah."
Kata Ridwan.
"Bismillahirrahmanirrahim..."
Pak Haji Imron menambahkan, Ridwan pun mengangguk seraya tersenyum simpul.
Ibu Notaris ikut tersenyum, melihat sosok Ridwan tampak sekali ia adalah gambaran Ustadz dari kota kecil yang masih bersahaja dan masih rendah hati.
"Sukses Pak ustadz, semangat menyebarkan kebaikan dan berbagi ilmu untuk umat."
Kata Ibu Notaris, tampak Ridwan mengangguk lalu tersenyum.
Pak Bagas akhirnya mengajak semuanya berpamitan dengan Ibu Notaris, dan tentu saja Pak Haji Imron setuju sekali karena ia pun harus segera pulang ke kampung halaman mengingat perjalanan akan memakan waktu yang cukup lama.
__ADS_1
Semua pun akhirnya berpamitan dan tampak Pak Bagas berserta Pak Haji Imron serta Ridwan saling bersalaman.
**------------**