
Anisa sudah selesai memasukkan beberapa baju yang akan ia bawa pindah ke rumah barunya.
Wisnu sendiri di lantai satu bicara serius dengan Pak Haji Syamsul, mertuanya.
Tampak Pak Haji Syamsul mendengarkan Wisnu yang bicara panjang lebar tentang keinginan Anisa yang tak mau lagi tinggal di kota ini, dan Wisnu yang juga akan terpaksa mengalah setiap sabtu dan Minggu pulang ke rumah di kota asalnya sampai nantinya ia membangun pabrik perhiasan sendiri di sana.
"Aku sebagai orangtua tak akan mencoba mengatur apapun lagi, aku rasa kamu jauh lebih tahu apa yang benar-benar Anisa inginkan dan butuhkan."
Kata Pak Haji Syamsul.
Wisnu menghela nafas, sekilas laki-laki muda yang selalu tenang itu kemudian tersenyum,
"Saya hanya berusaha menyelami perasaan Anisa, Pak, dan lagi, tidak ada tujuan dalam hidup saya saat ini selain membahagiakan Anisa, apalagi jika kelak ia menjadi Ibu dari anak-anak saya."
Ujar Wisnu.
Pak Haji Syamsul mantuk-mantuk,
Sungguh ia semakin lega karena melihat bagaimana Wisnu memperlakukan Anisa, semakin yakinlah diri Pak Haji Syamsul atas pilihannya.
Ia jelas tak salah memilih Wisnu untuk Anisa. Wisnu memang yang terbaik.
Tak usah menunggu terlalu lama, saat kemudian Anisa turun dari lantai dua menemui suami dan Bapaknya.
__ADS_1
Anisa membawa tas kecil dan juga tas selempangnya, sementara koper pakaian dan beberapa dus untuk membawa beberapa barang lain seperti tas, dompet, sandal, sepatu dan juga beberapa buku bacaan favoritnya.
Ah buku, ada beberapa buku yang ia bawa bahkan sebetulnya adalah milik Iis, tapi Anisa sangat menyukai buku itu, jadi Anisa pikir, ia mungkin akan menyampaikan permintaan maaf saja nanti pada Iis karena bukunya ia bawa pindah.
"Sudah siap semuanya?"
Tanya Wisnu pada Anisa yang telah berdiri tak jauh dari dia duduk.
Anisa tampak mengangguk,
Wisnu pun berdiri untuk lantas berjalan mendekati Pak Haji Syamsul guna bersalaman.
Anisa yang melihat Wisnu menyalami dan mencium tangan Pak Haji Syamsul, akhirnya Anisa pun mengikuti.
Pak Haji Syamsul membuka suara ketika Anisa bergantian dengan Wisnu menyalami tangan Pak Haji Syamsul.
"Ya Bah."
Anisa mengangguk,
"Yang nurut pada suamimu, kamu tak akan bisa menemukan laki-laki sebaik dia di manapun."
Ujar Pak Haji Syamsul lagi.
__ADS_1
Anisa pun kembali mengangguk.
Wisnu menelfon drivernya untuk masuk ke rumah mengambilkan koper dan beberapa barang lainnya yang telah dirapikan ke dalam dus oleh Anisa.
"Anisa pamit Bah, maafkan Nisa jika mungkin selama ini sering mengecewakan Abah."
Lirih Anisa seraya berlinang air mata.
Anisa kembali mencium tangan Pak Haji Syamsul yang kini telah mulai keriput.
Tangan tua itu yang selama ini telah menghasilkan banyak uang untuk penghidupan Anisa dan juga Mbak Faizah.
"Tidak usah menangis, jangan sampai nanti ada yang melihat matamu sembab lalu berpikir bahwa kamu tidak bahagia dengan pernikahanmu,"
Kata Pak Haji Syamsul,
Anisa pun menyeka air mata yang membasahi pipinya.
Sungguh ia tak menyangka akan mendengar suara Pak Haji Syamsul tak lagi dengan nada tinggi.
Anisa berdiri, Wisnu merangkul bahu isterinya,
Pak Haji Syamsul lantas mengantar kepergian anak dan menantunya keluar. Merelakan dan melepaskan anak perempuannya untuk tak lagi tinggal di rumah ia dibesarkan.
__ADS_1
**-----------**