
Wisnu dan Anisa akhirnya ke rumah lama Wisnu menjelang maghrib, namun tak disangka tak diduga, di sana telah ada Pak Haji Syamsul, Mbak Faizah dan Bibi Sundari, Ibunya Wisnu.
Anisa tampak gemetaran, ia sungguh tak ingin lagi kembali ke rumahnya sendiri yang kini telah menjelma bak neraka untuk hidupnya.
Anisa sudah bilang pada Wisnu, jika ia ingin tinggal di Purwokerto saja.
Ia akan tinggal di sana, lalu bekerja apapun yang penting halal. Anisa bahkan sudah membawa seluruh ijazah yang ia miliki dan juga seluruh tabungan yang ia punya.
Setidaknya, ini adalah bukti jika Anisa memang sudah bertekad bulat untuk merubah jalan hidupnya.
Jika...
Di satu jalan yang dijalani hanya berisi air mata, dijalani dengan terpaksa dan tak mampu sungguh-sungguh ikhlas bersabar, maka Anisa pikir memilih jalan lain agar hidup bisa berubah adalah keharusan.
"Pergilah ke kamar, biar aku yang akan bicara dengan mereka."
Kata Wisnu pada Anisa.
Tapi...
"Nisa! Pulang!"
Suara Pak Haji Syamsul menggelegar.
Suara berat yang keras dan garang itu laksana petir di sore hari yang membuat hati Anisa semakin tak tenang.
Anisa tanpa sadar tangannya meraih kemeja bagian belakang Wisnu, dan hal itu membuat Wisnu semakin mampu merasakan tangan Anisa gemetaran sekali, yang tentu saja hal itu membuat dada Wisnu ikut sesak, namun sekaligus mampu menjadikan Wisnu semakin ingin melindungi Anisa.
Ya, melindungi Anisa, membela Anisa, menjaga dan menjauhkan Anisa dari semua orang yang hanya akan membuat dia takut, sedih, dan semua perasaan yang tak membuat Anisa bahagia.
"Maaf Pak Haji jika saya lancang, tapi saya dengan segala kerendahan hati, saya mohon biarkan Anisa tetap tinggal di sini."
Wisnu akhirnya membuka suara, hal ini membuat Pak Haji Syamsul, mbak Faizah dan juga Bibi Sundari terkejut.
Ketiganya bahkan tampak membelalakkan matanya, apalagi Pak Haji Syamsul yang wajahnya bahkan sampai merah.
"Ba... Bagaimana mungkin kau meminta anak gadis orang lain tinggal di rumahmu sedangkan kau sendiri memutuskan untuk mengakhiri perjodohan!!!"
Pak Haji Syamsul tampak murka.
Anisa semakin mendekat pada Wisnu, apalagi Anisa melihat Mbak Faizah melotot ke arahnya seolah akan memangsanya.
"Pak Haji Syamsul, maaf, bagaimanapun ini rumah saya, dan Wisnu adalah anak saya, mohon pelankan suara anda pada anak saya!"
Bibi Sundari tampak tak bisa menerima Pak Haji Syamsul sampai membentak Wisnu dengan suara sekeras tadi.
Pak Haji Syamsul menatap Bibi Sundari, laki-laki tua yang kini tengah benar-benar dalam emosi tinggi itu rasanya ingin semakin meluap, namun Bibi Sundari tiba-tiba berdiri,
"Anisa."
Panggil Bibi Sundari,
__ADS_1
Anisa yang berdiri di dekat punggung Wisnu terlihat mengangguk pelan, tangannya masih memegangi kemeja belakang Wisnu dengan gemetaran.
Anisa, memang menjadi begitu lemah jiwanya sejak kematian Umi nya.
Meski dari dulu memang Anisa bukan anak yang lepas dan mampu berekspresi dengan bebas, tapi begitu kematian Uminya, kini Anisa semakin menjadi pula.
Menghadapi situasi seperti sekarang, sungguh membuat Anisa begitu terguncang. Kedua kakinya bahkan rasanya sudah tak mampu menopang tubuhnya untuk terus berdiri, jika saja ia tak mencoba mengambil sedikit kekuatan dari Wisnu di sampingnya dengan memegangi bagain belakang kemeja Wisnu.
"Anisa, apa kamu benar ingin tinggal di sini?"
Tanya Bibi Sundari dengan tatapan dan nada suara yang tajam.
"Ibu..."
Wisnu yang merasa tak nyaman dengan apa yang dilakukan Ibunya berusaha menengahi.
Tapi Bibi Sundari yang kesal dengan Pak Haji Syamsul tentu saja harus melakukan ini.
"Jika ingin tinggal di sini, menikahlah dengan Wisnu, Bibi sangat tahu bahwa Wisnu benar-benar mencintaimu. Tapi jika tidak, lebih baik kamu pulang dengan Abahmu."
Kata Bibi Sundari.
"Bu!"
Wisnu sungguh tak habis pikir, bagaimana Ibunya bisa melakukan hal itu pada Anisa yang jelas sedang dalam posisi serba tak nyaman.
Wisnu sudah memutuskan untuk tidak memaksakan Anisa menjadi miliknya, karena baginya mencintai adalah apapun yang membuat yang dicintainya bahagia.
Tidak!
Bukan!
Bukan seperti itu.
Tapi...
"Kenapa? Ini adalah kenyataan yang harus kalian hadapi. Ibu juga tidak akan bisa mengijinkan Anisa tinggal lagi di sini jika tak ada ikatan apapun denganmu!!"
Bibi Sundari jadi marah.
Anisa yang kini dihadapkan pada pilihan yang sungguh sulit akhirnya memilih berbalik dan dengan energi yang tak banyak tersisa lagi, Anisa lari keluar rumah Wisnu.
Wisnu menatap ketiga orang di ruang tamu rumah lamanya,
"Kalian orang-orang yang usianya saja dewasa, tapi sama sekali tak bijaksana dalam menghadapi satu masalah!"
Tandas Wisnu marah, lantas kemudian berbalik dan mengejar Anisa.
Bibi Sundari terduduk lemah, ia tak pernah melihat Wisnu seperti itu. Ia sangat benci dengan situasi dan kondisi ini.
Anisa yang pada dasarnya jiwanya memang sudah tak sehat sejak Uminya meninggal, di mana ia bahkan juga sempat depresi berat, kini mendapat guncangan lagi akhirnya seperti hampir gila.
__ADS_1
Ia berlari tak tentu arah, membuka jilbabnya dan membuangnya sembarangan.
Wisnu yang melihat Anisa berlarian ke jalanan sambil membuka jilbab, tentu saja langsung menambah kecepatan larinya, begitu sudah dekat, Wisnu langsung meraih Anisa dan memeluknya dengan erat.
Anisa menjerit-jerit sekuat tenaga, mengundang banyak orang yang lewat maupun yang ada usaha kios di sana semuanya jadi keluar untuk memastikan apa yang terjadi.
"Tenanglah Nisa, aku ada di sini, kamu tidak sendirian."
Kata Wisnu.
Anisa menjerit dengan keras, menangis sejadi-jadinya, sampai ia lelah, lalu akhirnya pingsan.
"Pacarnya to Mas Wisnu?"
Beberapa orang yang mengenal Wisnu mendekat dan berusaha ikut menolong.
"Nggih Pak, calon isteri saya."
Jawab Wisnu tanpa ragu.
"Ooh nggih kami bantu angkat Mas."
Kata beberapa orang laki-laki.
Tapi Wisnu tentu saja tak mengijinkan.
"Tolong panggilkan becak saja pak, saya akan bawa ke klinik."
Kata Wisnu.
Mereka pun akhirnya langsung memanggil becak yang banyak mangkal tak jauh dari sana.
Dari gerbang komplek di mana rumah lama Wisnu berada.
Wisnu menggotong Anisa seorang diri ke arah becak, lalu dengan duduk memeluk Anisa yang kini mulai sedikit sadar dan kembali menangis, Wisnu minta cepat di antarkan ke klinik.
"Aku ndak mau pulang Nu, aku ndak mau pulang, Mbak Faizah pasti akan menamparku lagi, Abah mungkin akan menyekapku juga."
Rintih Anisa pilu.
"Mereka membenciku Nu, mereka membenciku, karena aku membuat Umi meninggal, karena aku tidak seperti Mbak Faizah yang selalu rengking satu."
Anisa terus menangis,
"Aku anak yang tak bisa membanggakan Abah dan Umi, itu sebabnya mereka membenciku, apalagi aku juga membuat Umi meninggal. Harusnya... harusnya aku saja Nu yang meninggal, harusnya aku saja yang waktu kecelakaan meninggal. Kenapa malah Umi Nu? Kenapa malah Umi?"
Anisa menangis tersedu-sedu, membuat Wisnu sungguh-sungguh tak kuat melihatnya. Wisnu memeluk Anisa dengan erat,
"Sudah Nisa, sudah, jangan memikirkan apapun lagi, jangan dulu. Sudah... Jangan sedih lagi, jangan takut, aku yang akan melindungi mu Anisa. Aku. Ya, aku."
Kata Wisnu.
__ADS_1
**--------------**