
Pak Haji Syamsul akhirnya meninggalkan kawasan masjid Uswatun Hasanah setelah Pak Haji Imron meminta dengan sangat agar pak Haji Syamsul tak membuat masalah lebih besar lagi dengan tuduhan tak berdasarnya pada Ridwan.
Setelah kepergian Pak Haji Syamsul, tampak Ridwan ditenangkan oleh Pak Haji Imron agar tidak sampai emosi, selain itu acara pertemuan dengan warga pun akhirnya terpaksa dibubarkan karena suasana yang jadi tidak nyaman.
"Pak Haji Syamsul itu memang arogan, semua juga tahu karakternya."
Kata salah satu warga yang usianya cukup jauh di atas Ridwan dan termasuk dalam pengurus masjid Uswatun Hasanah.
"Benar itu, memang siapa saja juga tahu kalau Pak Haji Syamsul itu ibarat bumi dan langit dengan Pak Haji Imron."
Ujar yang lain.
Ridwan meneguk air putih kemasan gelas sekali lagi hingga habis, hatinya kini sangat tersayat-sayat, mengingat apa yang dikatakan pak Haji Syamsul barusan dan juga mengingat apa yang dikatakan pak Haji Syamsul pada Mbak Wening sebagaimana yang diceritakan kakaknya, rasanya hati Ridwan seperti ingin menyimpan rasa dendam karena amarah yang begitu besar.
Astaghfirullah...
Tapi Ridwan berusaha istighfar, ia rasanya langsung teringat akan nasehat Abah Yai di pesantren, bahwa tidaklah baik seorang muslim menyimpan dendam.
"Lebih baik nak Ridwan istirahat saja dulu nak, besok panjenengan ada jadwal mengajar bukan?"
Kata Pak Haji Imron, tampak Ridwan mengangguk.
Ridwan akhirnya beranjak dari majelis, ia memilih pulang ke rumah.
Setelah mengucap salam kepada semuanya, Ridwan pun pamit.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, Ridwan sesekali menatap langit untuk berusaha menahan air matanya supaya tidak sampai tumpah.
Astaghfirullah...
Astaghfirullah...
Ridwan terus beristighfar, ia sekuat tenaga untuk tidak sampai dikuasai amarah dan rasa kesal yang teramat sangat pada Pak Haji Syamsul.
Sungguh, berkat apa yang dilakukan Pak Haji Syamsul, rasanya Ridwan seolah dibangunkan dari tidur dan mimpi yang melenakan.
Ya, Ridwan sadar jika hidup di dunia ini terlalu banyak manusia yang mau menghormati dan baik pada manusia lain adalah karena bergantung pada status Sosial.
Ridwan juga merasa jadi ingin menyalahkan dirinya sendiri karena telah mengijinkan hatinya sempat mendambakan Anisa sejak dulu.
Ya, Anisa, gadis itu, gadis tercantik yang pernah Ridwan kenal.
Gadis petama.yang masuk ke dalam mimpi, gadis pertama yang membuat hati Ridwan tergetar manakala melihat lawan jenis.
Hingga tanpa terasa Ridwan akhirnya sampai di depan rumah nya yang kecil lagi sederhana, yang dindingnya sebagiannya masih terbuat dari kayu, lantainya juga masih hanya dari semen, jendela serta pintu juga kayunya mulai banyak yang keropos.
Ridwan sejenak berhenti, hatinya tersayat lagi, membayangkan bahwa kondisi ekonomi sosialnya yang memang terpaut sangat jauh dengan Anisa membuatnya terluka hati.
Astaghfirullah...
__ADS_1
Sedemikian kah orang berharta harus memandang rendah orang yang tak miliki harta sebanyak dirinya?
Serendah itukah orang tak berharta di mata orang-orang yang merasa telah berjaya dalam hidupnya?
Sungguh pun tak ada manusia yang ingin lahir dalam kondisi sulit, tapi kenapa selalu ada saja yang merasa bahwa miskin adalah aib yang akhirnya membuatnya jadi dikerdilkan, direndahkan, disepelekan.
Ridwan menghela nafas, ia kembali melangkahkan kakinya menuju rumahnya.
Ia naik ke teras rumah, lalu pelahan membuka handel pintu rumahnya.
"Assalamualaikum..."
Ucap Ridwan lirih, sayup terdengar suara TV dari ruang tengah.
Ridwan masuk ke dalam setelah mengunci pintu utama.
Tampak di ruang TV, ibunya duduk bersandar sambil selonjor di atas ranjang besi tua. Ibu tertidur dengan TV yang masih menyala.
Tampaknya beliau kelelahan hari ini karena membantu Mbak Wening mengurus keripik pisangnya.
Ridwan menghela nafas, ia juga melihat kamar mbak Wening dan Ajeng yang telah sepi pertanda mereka sudah tidur.
Ridwan akhirnya memutuskan masuk ke kamarnya sendiri saja, ia duduk sejenak di tepi tempat tidurnya, diusapnya wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Terngiang kembali semua kalimat Pak Haji Syamsul yang menyakitkan di telinga Ridwan.
Ya Allah, semoga ada masanya nanti, aku bisa membuktikan bahwa anak pesantren juga bisa sukses.
Sukses itu Allah yang berikan. Kemampuan meraih sukses dan kesempatan meraih sukses juga Allah yang berikan.
Jika ada mahluk Allah yang bersikap sombong pada mahluk Allah yang lain, sejatinya berarti manusia itu belum tahu arti sukses itu sendiri.
Mereka baru tahu kulitnya saja, covernya saja, tidak tahu hakikat dari sukses itu apa, hingga berani memandang rendah orang lain.
Ridwan yang hatinya masih begitu bercampur aduk, akhirnya memutuskan untuk ambil air wudhu saja, lalu ia akan sholat hajat saja, meminta Allah agar kelak ada masanya ia berada di posisi yang sama seperti Pak Haji Syamsul, namun ia ingin tidak mau sombong seperti Pak Haji Syamsul.
**-------------**
Sementara itu, Iis di rumahnya tampak sedang menyiapkan materi untuk ia mengajar besok pagi ketika hp nya ada panggilan masuk.
Iis yang meletakkan hp nya di atas kasur, sedangkan ia sendiri tengah duduk di depan meja belajar akhirnya beranjak sebentar untuk melihat panggilan dari siapa gerangan yang masuk ke hp nya.
Tampak nomor baru tertera di layar hp nya, Iis yang sebetulnya malas jika ada nomor baru masuk ke hp nya, kali ini tampak tak bisa mengabaikan, pikirannya entah kenapa langsung kepada Anisa.
Iis mengangkat panggilan dari nomor baru itu dan...
"Halo..."
Terdengar suara dari seberang sana.
__ADS_1
Lirih, tapi Iis masih dengan jelas bisa mendengarnya dan mengenali.
Anisa, ya tentu saja Anisa, ia mengenali betul suara itu milik Anisa.
"Nis..."
Panggil Iis,
"Is... iya ini aku."
Kata Anisa dari seberang sana.
"Kami di mana Nisa? Semua panik nyari kamu Nis."
"Mbok Rat nyari aku ya Is?"
Tanya Anisa.
"Jangankan Mbok Rat, aku aja tadi nyari kamu sampai perempatan, semua orang aku tanya, saking khawatirnya aku sama kamu tuh."
Kata Iis.
"Iya Is, aku tahu kamu baik banget sama aku, kamu satu-satunya orang yang benar-benar peduli sama aku selain Mbok Rat."
Lirih Anisa.
"Sekarang kamu di mana? Biar aku jemput."
Kata Iis yang lupa motornya sedang ada di bengkel.
"Tidak Is, aku akan tetap di sini, malau aku sepertinya akan minta agar bisa dipindahkan ke tempat yang lebih jauh lagi, yang tidak usah pulang ke rumah lagi sampai kapanpun juga."
Kata Anisa.
"Nisa, jangan begitu Nis."
"Tidak Is, keputusanku susah bulat."
"Nisa..."
"Is, aku hanya bisa ingat nomormu saja, nomor yang lain ada di hp ku dan aku tidak akan menggunakannya entah sampai kapan. Tapi yang jelas, tolong sampaikan pada Mbok Rat agar jangan sampai menghawatirkan aku lagi."
"Tapi bagaimana kalau nanti Mbok Rat menanyakan keberadaan kamu?"
Tanya Iis.
"Yang penting aku baik-baik saja Is, bilang saja begitu."
**-----------**
__ADS_1