Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
102. Makan Siang


__ADS_3

"Oh itu sepertinya Ridwan pulang."


Kata Ibu pada Iis manakala mendengar suara motor yang mendekati halaman rumah,


Mendengar Ridwan pulang bukannya Iis senang atau lega malah tampak jadi gugup, ia tentu tadi berharap mampir karena memang sudah janjian dengan Mbak Wening, tapi entah kenapa sampai di rumah Mbak Wening, malah Mbak Wening tidak ada.


Mengantar keripik ke warung katanya, tapi sampai siang begini tidak juga pulang, jadi entah sebetulnya Mbak Wening pergi ke mana lagi.


Di hubungi hp nya juga ditinggal di rumah, karena hp mbak Wening yang memang mudah ngedrop.


Walhasil, jadilah Ibunya Mbak Wening meminta Iis untuk menunggu saja, karena Mbak Wening juga tidak bilang apa-apa soal keripik milik Iis.


Iis yang kini duduk di ruang tamu terlihat begitu gugup, karena melihat Ridwan yang kini benar sampai di depan rumah dengan motornya.


"Assalamualaikum..."


Terdengar Ridwan mengucap salam,


"Waalaikumsalam..."


Ibu menjawab sambil berdiri untuk menyambut kedatangan putranya.


Iis juga menjawab salam Ridwan meskipun dengan suara lirih, dan tetap duduk di kursi tamu meskipun rasanya ingin sembunyi di bawah taplak meja.


Ridwan masuk ke dalam rumah lalu meraih tangan Ibu untuk bersalaman.


"Ada Bu Guru Iis."


Kata Ibu begitu Ridwan mencium punggung tangannya,


Ridwan menatap Iis sejenak, dan tampak Iis tersenyum canggung,


"Bu, ini Ridwan belanja untuk di rumah. Mbak Wening ke mana?"


Tanya Ridwan kemudian,


"Lah wong ini Bu Guru Iis juga lagi nunggu kakakmu itu tidak tahu ke mana dari pagi, katanya antar keripik tapi sampai siang belum pulang."


Kata Ibu.


"Apa jemput Ajeng sekalian mungkin Bu."


Kata Ridwan.


"Oh apa iyaya, soalnya ini Ajeng juga belum pulang. Lah tapi yo harusnya ingat ada janji dengan Bu Guru Iis lho yo itu jan si Wening piye to."


Ibu menggelengkan kepalanya.


Ridwan tampak mengulum senyum,


"Sebentar ini Ridwan bawa ke ruang tengah dulu."


Kata Ridwan akhirnya.


"Oh iyo... iyo."


Sahut Ibu sambil mengikuti Ridwan yang akan menuju ruang tengah, lalu...

__ADS_1


"Bu Guru, sebentar nggih..."


Kata Ibu pada Iis yang mengangguk sambil tersenyum,


"Di sambi dulu, Bu, teh sama suguhan sederhananya."


Kata Ibu pula mempersilahkan, Iis pun kembali mengangguk.


Ridwan berjalan mendekati meja makan, lalu meletakkan dua kresek motif lerek-lerek berisi bahan belanjaan.


"Yang ini sabun, shampo, odol dan detergen serta pewangi Bu."


Ridwan menunjukkan satu kresek lerek yang sebelah kanan.


"Dan ini yang satunya mie instan, telur, minyak, dan jajan buat Ajeng."


Kata Ridwan.


"Oalah kamu ini lho Wan, kenapa belanja sebanyak ini."


Ibu sampai bingung karena Ridwan memborong begitu banyak.


Lalu Ridwan mengeluarkan satu amplop yang sudah ia isi dengan uang, dan diberikannya pada Ibu.


"Apa ini Wan?"


Tanya Ibu heran,


"Alhamdulillah, kemarin waktu ke Jakarta, setelah tandatangan, ada rezeki dari Allah lewat tangan pak Bagas Bu."


Kata Ridwan.


Tanya Ibu tambah heran,


"Enggih Bu, katanya itu untuk terimakasih sudah mau bantu mereka, Ridwan sebetulnya ingin menolak, tapi kata Pak Haji Imron itu tidak boleh, saru katanya."


"Oalah..."


Ibu matanya berkaca-kaca.


"Pak Bagas bilang, selama nanti yayasan baru berjalan, untuk gaji pengurus akan ditanggung oleh anak-anak Pak Sahudi. Setelah nanti semuanya berjalan dengan baik, barulah mereka akan benar-benar melepas semuanya."


"Jadi sama saja kamu bekerja di sana?"


Tanya Ibu.


"Enggih Bu, memang ini kan sebetulnya proyek untuk umat, bukan untuk bisnis, nanti yang untuk bisnisnya itu ya dari pengelolaan sawah dan beberapa lahan yang nantinya akan menyokong berjalannya yayasan untuk pondok anak yatim dan duafa, serta rumah tahfiz."


Kata Ridwan menjelaskan. Ibu yang tak begitu paham tampak hanya mantuk-mantuk saja, karena ia sebagai orangtua yang tidak pernah merasakan bangku pendidikan tinggi, yang hanya sekolah sampai bisa baca tulis saja, tentu untuk Ibu bisa memahami semua yang dikatakan Ridwan sangatlah sulit.


"Ya sudah Bu, Ridwan ganti baju dan cuci muka dulu."


Kata Ridwan.


"Kamu sudah sholat?"


Tanya Ibu.

__ADS_1


"Sampun Bu, tadi di mushola sekolah."


"Ya syukurlah, kalau begitu cuci muka lalu makan, itu Bu Guru Iis juga belum makan lho kayaknya kasihan, nanti Ibu suruh makan sekalian saja sama kamu ya."


Ujar Ibu.


"Oh nggih Bu,"


Ridwan setuju saja.


Ibu lantas memindahkan dua kantung belanjaan Ridwan ke kursi yang untuk menonton TV.


Lantas ia ke dapur untuk mengambil dua piring kosong dan juga gelas dari rak piring jadul berwarna biru.


Dibawanya dua piring dan gelas kosong itu ke ruang makan, lalu dibuka tudung saji yang digunakan untuk menutupi makanan di atas meja.


Satu cobek sambal terasi dengan petai goreng tampak di tengah-tengah, di sisi yang lain ada sayur lodeh dengan potongan lombok ijo, serta ditambah pula satu piring ikan pindang dan tahu kuning serta tempe digoreng tanpa tepung.


"Oh, Ridwan lupa Bu, itu tadi Ridwan juga belu bakwan Bu, kayaknya enak sekali jadi Ridwan beli."


Ridwan baru ingat bakwan yang ia beli dari warung tempat ia belanja manakala keluar dari kamar sambil membawa handuk kecil berwarna coklat.


"Oh iya, iya... Ibu pindahkan ke piring ya..."


Kata Ibu yang akhirnya kembali ke dapur, sekalian mengambil gogok berisi air putih untuk nanti minum Ridwan dan Iis.


Setelah memastikan semua persiapan makan siang Ridwan dan Iis sudah cukup, termasuk juga memindahkan bakwan sayur yang dibeli Ridwan ke piring kosong, Ibu pun kembali ke ruang tamu untuk menemui Iis.


"Bu..."


Iis tampak berdiri begitu Ibu keluar,


"Mungkin sebaiknya saya pulang dulu saja nggih, nanti gampang saya ke sini lagi, soalnya malam nanti Ibu saya kan sepertinya akan berangkat, jadi nanti sore saya ke sini lagi."


Kata Iis.


"Lho... Lho... Wis sudah tanggung ditunggu saja, palingan juga nanti si Wening pulang, apa nanti kalau sampai jam dua belum pulang, yo Bu Guru Iis tinggal ambil saja keripik pisang yang ada. Kalau lima kilo sepertinya ada kok Bu Guru."


Kata Ibu.


"Aduh, bagaimana nggih, saya tidak enak barangkali itu pesanan orang lain kan Bu. Tidak apa-apa nanti saya ke sini lagi saja sehabis Asar."


Kata Iis.


"Eh... eh... Tapi jangan pulang dulu to, itu Ibu sudah siapkan makan siang lho."


Ujar Ibu.


Mendengar disuruh makan jelas saja Iis jadi terkejut, dan makin terkejut lagi saat kemudian,


"Makan siang Bu Guru di sini kan sudah jam makan ini, nanti masuk angin lho kalau telat makan, itu sudah Ibu siapkan sekalian sama Ridwan nggih..."


Iis pun langsung lemas,


Apa?


Makan... siang... dengan... Ridwan?

__ADS_1


**--------------**


__ADS_2