
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh..."
Ridwan mengucap salam sambil menoleh ke arah kanan, mengikuti imam yang hari ini Pak Haji Imron yang tampak di depan.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh..."
Lalu menoleh ke arah kiri, dan Pak Haji Imron pun mulai berdzikir,
"Astaghfirullahal'adziim Alladzii laaailaaha illa huwal hayyul qoyym wa atuubu ilaih,"
"Laaailaaha illallah wahdahulaa syarikalah lahul mulku walahul hamdu yuhyuu wayumiitu wahuwa 'alaa kulli syaiin qodiir,"
"Allahumma antas salaam, waminkas salaam, wa ilaika ya'uudus salaam, fahayyinaa robbanaa bis salaam, waadzkilnal jannaata daaros salaam, tabarokta robbanaa wa ta'aalaita ya dzal jalaali wal ikrom."
Setelah itu Pak Haji meneruskan membaca Alfatihah, ayat qursi dan kemudian bacaan tahmid, takbir, tahlil, istighfar, sholawat dan lain-lain.
Sebagian makmum yang ada urusan lain bergerak pelan mundur satu persatu, sementara yang memiliki waktu dan ingin berlama di dalam masjid seperti Ridwan memilih tetap tenang dan terus ikut berdzikir bersama Pak Haji Imron hingga selesai.
Sementara itu, di luar sana gerimis turun tipis-tipis, tetesan airnya terdengar berjatuhan di atas kanopi masjid hingga menimbulkan suara dan irama yang khas.
Beberapa kucing liar berlarian ikut berteduh di halaman di bawah kanopi masjid yang juga digunakan untuk parkir jamaaah.
Ada yang memilih di bawah mobil, ada juga yang malah naik ke atas motor, ada pula yang memilih di sudut pelataran karena masih kecil.
Pada jamaah yang satu persatu keluar dari dalam masjid ada yang acuh tak acuh, ada yang mengusir, tapi ada juga yang peduli, dan kebanyakan yang peduli adalah anak-anak mahasiswa yang banyak kos di daerah situ.
Salah satu dari mereka seringkali menitipkan makanan untuk kucing liar pada marbot, yang membuat beberapa kucing liar di sekitar masjid akhirnya mulai terlihat banyak.
"Tidak apa, yang penting tidak masuk ke dalam, kita belum sepandai orang-orang di Madinah dan Mekah atau Turki yang bisa membebaskan mereka masuk. Selama kita tidak menyakiti dan memberi makan secukupnya, lalu saat berteduh kita ijinkan, inshaAllah itu sudah termasuk bagian dari amal salih."
Begitulah pesan Ustadz Soleh dulu ketika masih mengisi ceramah untuk pengajian setiap malam jumat di masjid Uswatun Hasanah.
Dan dari pesan inilah, yang akhirnya membuat banyak jamaah mulai membuka hati untuk para kucing liar yang membutuhkan sedikit sedekah manusia untuk mereka bertahan hidup.
Kini tampak Marbot memberikan makanan yang dititipkan padanya oleh salah satu anak mahasiswa yang sepertinya ia anak orang berada di kota asalnya.
Gerimis masih turun tipis-tipis, saat Ridwan dan Pak Haji Imron serta beberapa orangtua lainnya selesai berdzikir lalu keluar dari dalam masjid.
Mereka tampak mendapati pemandangan rinai gerimis yang diterpa cahaya lampu jalan jadi semacam tirai benang tipis transparan.
Begitu juga beberapa kucing liar yang tengah makan di pelataran parkir masjid.
Seorang Bapak dan anak kecil yang merupakan jamaah masjid yang tadi sudah pulang lebih dulu tampak tergopoh-gopoh kembali, anak laki-lakinya terlihat habis menangis,
"Ada apa ini Pak Sulton?"
Tanya Pak Haji Imron, yang mendapati Pak Sulton tetangga sebelah rumahnya membawa anak bungsunya menangis.
"Ini Pak Haji, tadi lihat anak kucing kecil minta dibawa pulang, saya tidak ijinkan malah nangis di rumah ngamuk-ngamuk."
__ADS_1
Tutur Pak Sulton.
Pak Haji Imron tersenyum, begitu juga yang lain, termasuk pula Ridwan.
Tampak akhirnya Ridwan menghampiri si anak, lalu berjongkok agar sama sejajar dengan si anak.
"Mau memelihara kucing Le?"
Tanya Ridwan.
Anak kelas satu SD itu mengangguk.
"Jangan untuk dimainkan kasar nggih, disayang, diperlakukan baik, dikasih makan cukup, karena nanti di akhirat kucing akan diberi waktu menunggu kita di Shirothol Mustaqim. Mereka akan menemani kita menyebrang hingga selamat, mengantar kita masuk surga bilamana kita memperlakukan mereka dengan baik."
Kata Ridwan.
Tampak anak itu mengangguk,
"Nggih Pak Ustadz."
Ridwan mengelus kepala anak itu dengan lembut,
"Sebetulnya saya kurang suka dengan kucing."
Keluh Pak Sulton,
"Sabar, bismillah, niatkan semua karena Allah, ini memang bukan perkara suka dan tidak suka, mereka ini diciptakan sebagai ujian sekaligus amanah, karunia juga."
Ujar Pak Haji Imron.
Ridwan mengangguk.
"Salah satu sahabat Nabi, sampai mendapatkan julukan Bapaknya kucing juga karena kasih sayangnya pada kucing-kucing yang ia temui. Berbeda dengan pada saat masa kejayaan Firaun, yang juga sangat memuliakan kucing hingga nyaris didewakan, di era Islam datang, berbuat baik pada kucing adalah karena Allah, karena ia mahluk Allah yang lemah, kita berbuat baik karena mereka diciptakan oleh Allah."
Kata Ridwan.
Pak Sulton menghela nafas,
"Ini akan berat, tapi jika Bapak ikhlas, inshaAllah bapak akan mendapatkan keberkahan."
Tambah Ridwan seraya kembali berdiri.
Pak Sulton akhirnya mengangguk,
"Ya inshaAllah Pak Ustadz."
Kata Pak Sulton kemudian.
Ridwan lantas berjalan ke arah para kucing yang sedang makan, seekor kucing yang paling kecil berwarna hitam pekat, yang sepertinya baru dibuang tampak celingak-celinguk bingung mau ikut makan tapi di tabok sana sini.
__ADS_1
Marbot masjid menangkapkannya untuk diberikan pada Ridwan agar bisa memberikannya pada si anaknya Pak Sulton.
"Kalau mau dimandikan di petshop Pak, jadi mereka lebih paham harus bagaimana."
Kata salah satu jamaah yang masih cukup muda. Pak Sulton mengangguk.
Bersamaan dengan itu, sebuah mobil hitam yang merupakan mobil mahal tampak memasuki halaman masjid.
Pak Haji Imron yang tentu saja tak asing dengan mobil itupun langsung menyambut manakala mobil tampak berhenti di parkiran dan kemudian tak lama sang pemilik keluar.
"Alhamdulillah... Mas Wisnu, apa kabar? Masya Allah, lama sekali tidak bertemu."
Kata Pak Haji Imron ramah.
Wisnu juga terlihat tersenyum, ia dengan santun menyalami Pak Haji Imron dan mencium punggung tangannya.
"Saya mau ikut sholat sebentar Pak Haji, lalu saya ada perlu dengan Pak Haji sebentar."
Ujar Wisnu.
Pak Haji Imron pun mengangguk,
"Oh nggih monggo, monggo..."
Pak Haji Imron mempersilahkan dengan ramah.
Wisnu sekilas bertatapan dengan Ridwan saat akan berjalan ke arah tempat wudhu pria.
Keduanya saling melempar senyuman dan anggukan santun.
Saat Wisnu telah pergi ke arah toilet pria yang juga di sana ada tempat untuk wudhu, Pak Sulton dan anaknya pamit pada Pak Haji Imron serta pada Ridwan.
"Dirawat yang baik ya,"
Kata Ridwan lagi berpesan.
Anak Pak Sulton mengangguk, tangannya memeluk anak kucing kecil yang kini langsung terlihat nyaman.
Ridwan tersenyum menatap kepergian Pak Sulton dan anaknya, sedangkan Pak Haji Imron tengah bicara dengan beberapa jamaah soal Wisnu.
"Itu Mas Wisnu anaknya Bu Sundari kan Pak Haji?"
"Enggih, yang dulu membiayai renovasi masjid kita delapan puluh persen lebih adalah dananya dari dana pribadi beliau."
"Masya Allah..."
Semua yang mendengar tampak takjub.
**--------------**
__ADS_1