Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
6. Keluarga Dan Sahabat


__ADS_3

Gerimis turun menjadi hujan tepat saat Ridwan memasuki halaman rumahnya.


Ridwan mempercepat langkahnya menuju teras rumahnya yang lantainya juga hanya berlapis semen dan dibeberapa sisinya terlihat ada yang berlubang.


"Assalamualaikum..."


Ucap Ridwan sambil membuka pintu rumahnya, dan kemudian masuk ke dalam rumah.


Mbak Wening melongok dari ruang dalam di bingkai pintu tengah,


"Waalaikumsalam."


Jawabnya.


"Kunci sekalian saja Wan."


Lanjut Mbak Wening.


"Inggih Mbak."


Sahut Ridwan.


Ridwan mengunci pintu kayu rumahnya, lantas berjalan ke arah ruang dalam.


"Ajeng menunggumu untuk makan bersama, gantilah pakaian lalu kita makan sama-sama."


Ujar Mbak Wening.


"Oh Ajengnya sekarang di mana?"


Tanya Ridwan, tak menyangka sejak tadi keponakan kecilnya sampai rela menunda makan menunggu dirinya pulang.


"Di kamar Ibu, tadi sih habis maghrib belajar dulu."


Ridwan tersenyum.


"Alhamdulillah, anakmu anak yang luar biasa Mbak."


Kata Ridwan.


"Ah kalau lagi rewel ya sama saja dengan anak lain."


Ujar Mbak Wening.


Ridwan tertawa kecil.


"Namanya juga anak-anak, putra-putri Gus aku di pesantren juga begitu, tapi ya tetap mereka yang penting dididik tidak sampai meninggalkan sholat."


Kata Ridwan.


Mbak Wening mengangguk.


"Alhamdulillah, kalau untuk sholat, Ajeng memang tidak sulit untuk di suruh, bahkan untuk maghrib dan isya ya selalu ikut jamaah dengan Ibu, meskipun Mbak dapat tamu bulanan."


Tutur Mbak Wening.


"Alhamdulillah, anak sholihah adalah rezeki terbaik Mbak."


"inshaAllah."


Mbak Wening lantas membuka tudung saji, bersamaan dengan itu Ibu keluar dari kamar bersama Ajeng.


"Dahar Bu."


Kata Mbak Wening.


"Buatkan teh hangat Ning, tidak usah dikasih gula."


Pinta Ibu.


Ajeng berjalan mengiringi si mbahnya menuju ruang makan.


"Kamu sekalian Wan? Dibuatkan teh?"


Tanya Mbak Wening.


Ridwan menggeleng.


"Tidak usah Mbak, aku akan minum air putih saja."

__ADS_1


Jawab Ridwan.


"Oh ya sudah."


Mbak Wening lantas berjalan menuju dapur untuk membuatkan teh Ibunya.


"Ridwan ganti baju dulu Bu."


Kata Ridwan pada Ibunya.


Ibunya mengangguk.


"Ya, gantilah."


Ridwan lantas menuju kamarnya.


Ajeng duduk di samping Mbah nya,


"Lauk apa Jeng?"


Tanya Mbah.


"Gorengan tempe Mbah."


Ajeng menunjuk gorengan tempe yang diletakkan di tengah, di dekat sambel lebihan siang tadi.


"Ibu tidak masak sayur."


Kata Ajeng seperti bisik-bisik pada Mbah nya.


"Itu kan sayur."


Mbah menunjuk tumis pepaya.


"Pepaya kan buah."


Kata Ajeng.


"Tapi itu ditumis berarti sekarang sayur."


Ujar Mbah.


Kenapa jenis makanan bisa berubah-ubah? Batin Ajeng heran.


Mbak Wening kembali ke ruang makan dengan gelas seng berwarna hijau yang motifnya seperti milik tentara.


Tampak asap mengepul dari gelas itu, mengeluarkan aroma teh melati dari sana.


Mbak Wening meletakkan gelas itu di dekat Ibunya.


"Kata Ajeng kamu tidak masak sayur."


Tutur Ibu.


Mbak Wening seperti Ibunya, langsung menunjuk tumis pepaya.


"Itu kan sayur."


Kata Mbak Wening pula, yang akhirnya malah membuat Ibu terkekeh-kekeh.


Ridwan keluar dari kamar telah berganti pakaian.


Kaos oblong dan celana komprang berwarna hitam.


Ia mendekati meja makan, sempat heran melihat Ibunya terkekeh-kekeh sendirian.


"Ada apa ta Bu?"


Tanya Ridwan.


Ibunya akhirnya bercerita, jika Ajeng mengkritisi menu makan malam ini tak ada sayurnya..


"Tapi kan itu sudah ada tumis pepaya kan sayur."


Mbak Wening membela diri.


Ajeng di tempatnya menggelengkan kepalanya.


Ridwan jadi tersenyum,

__ADS_1


"Mungkin maksud Ajeng sayur yang pakai kuah Mbak, sayur sop, atau sayur asem atau sayur bayam."


"Hihihi..."


Ajeng tertawa kecil sambil menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.


**--------------**


Pondok Darussalam,


Para pengunjung kajian yang datang malam ini cukup banyak, Istikomah dan Anisa terlihat duduk bersebelahan di atas hamparan tikar yang digelar di teras pondok.


Halaman pondok terlihat penuh para pengunjung yang juga duduk lesehan di atas tikar dan juga terpal yang digelar di atas tanah.


Kanopi baja ringan terbentang dari ujung ke ujung, hingga menghalangi hujan membasahi para pengunjung kajian.


Suara Abah Yai Sulthon terdengar dari beberapa salon yang di pasang di sudut-sudut baik di dalam maupun di luar.


Abah Yai sendiri berada di kediamannya yang terletak di belakang pondok.


Beliau memang tak pernah duduk dekat jamaah bilamana kajian untuk pengunjung dan santri perempuan.


Dua kali dalam satu minggu, memang pondok dibuka untuk umum, orang warga kampung maupun juga dari mana-mana boleh datang untuk menimba ilmu.


Banyak orang duduk dengan buku di pangkuan, mencatat apa yang Abah Yai sampaikan.


Beberapa santri ada yang menulis di kitab yang semuanya memakai tulisan Arab, lalu mereka biasanya menulis di bagian bawah tulisan itu, sepertinya apa yang disampai Abah Yai adalah yang ada di buku-buku pegangan para santri itu.


Hari ini yang diterangkan adalah tentang rumah tangga.


Kewajiban dan hak masing-masing yang harusnya sama-sama belajar supaya cita-cita mendirikan rumah tangga yang sakinah, mawadah, warrohmah bisa tercapai.


Tentu, belajar bukanlah hanya belajar saja, namun harus sama-sama berniat karena Allah menjalaninya dengan sebaik mungkin.


"Menawi ibu lan bapa sederek sedoyo rumahtanggane diridhoi Allah merga sedoyone bertakwa karena Allah Ta'ala, inshaAllah sedoyonipun diparingi keberkahan, ketenangan lan kenyamanan."


"Nah, pripun kedaeh ibu lan bapak sederek saged..."


Terdengar suara Abah Yai yang berwibawa, di tengah gemericik air hujan yang menjatuhi atap kanopi, suara Abah Yai terkadang bisa terdengar jelas kadang juga tak begitu jelas.


Tapi orang-orang tetap antusias bertahan mendengarkan ceramah Abah Yai hingga selesai.


Di mulai dari setelah isya, kajian berakhir pukul delapan lewat lima belas menit.


Hujan masih turun meskipun tak lagi terlalu deras.


Pengunjung satu persatu membubarkan diri, terutama sebagian yang membawa kendaraan sendiri.


Istikomah mengajak Anisa pulang saja karena Istikomah khawatir Ibunya sendirian, lagipula hujan entah kapan akan benar-benar berhenti.


"Aku hanya ada satu jas hujan, kamu saja yang pakai, tidak apa-apa."


Ujar Istikomah pada Anisa.


Istikomah dan Anisa memang bersahabat sejak kecil, meski mereka hanya sempat satu sekolah ketika SD, namun sampai hari ini Istikomah sudah jadi Guru mereka tetap dekat.


Anisa sendiri sebetulnya sedang menyiapkan diri memasuki pendidikan pasca sarjana.


Sayangnya peristiwa naas yang dialaminya dengan sang Ibu membuatnya terlalu terpukul, hingga seperti kehilangan semangat lagi.


Lama mengurung diri di rumah, dan hari ini adalah kali pertama Anisa kembali bersedia diajak pergi ke kajian Abah Yai di Pondok Darussalam setelah sekian minggu tak mau.


"Tidak ah, kamu saja Is yang pakai, kan kamu yang harusnya tidak boleh sakit, nanti anak muridmu akan kehilangan jika kamu sakit."


Tolak Anisa lembut.


Istikomah menggeleng, ia membuka bagasi motornya, lalu memberikan jas hujannya yang ia ambil dari sana pada Anisa.


"Pakailah Nisa, aku tidak apa-apa, aku cukup sehat untuk hanya terkena sedikit hujan."


Kata Istikomah.


Anisa akhirnya mengalah mengambil jas hujan dari tangan Istikomah.


"Dari dulu kamu selalu baik padaku, terimakasih Is."


Kata Anisa.


**------------**

__ADS_1


__ADS_2