Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
19. Sayang Disayang


__ADS_3

Ridwan dan sepedanya sampai juga di parkiran pasar yang sudah mulai dibangun cukup baik dan juga mulai ditata rapi.


Ridwan memarkirkan sepedanya di antara sepeda yang lain.


Untuk kota pesisir seperti kota di mana Ridwan tinggal, memang masih banyak orang memakai sepeda untuk bepergian.


Selain karena lebih hemat tak usah beli bahan bakar, sepeda juga lebih ramah untuk masuk gang sempit dan kecil misal jalan raya sedang sangat macet.


Tapi, tentu itu karena kota pesisir merupakan tanah datar, hingga orang yang memilih menggunakan sepeda tentu tak terlalu kesulitan sebagaimana misalnya menggunakan sepeda di daerah pegunungan, yang jalannya menanjak dan menurun.


"Nitip nggih Pak."


Kata Ridwan sopan,


seorang tukang parkir yang usinya sudah cukup sepuh mengangguk.


"Nggih Mas, monggo... monggo..."


Kata si tukang parkir.


Ridwan lantas mengambil bungkusan yang di mana di dalamnya ada kotak bekal makan siang Anisa yang dititipkan oleh Mbok Rat atas ide mbak Wening.


Ah sebetulnya ini jelas adalah kesempatan emas untuk Ridwan bisa bertemu dengan Anisa, bahkan bukan hanya bertemu, tapi pastinya akan ada waktu sebentar untuk bicara.


Ridwan lantas berjalan menyusuri area depan pasar yang memang dikhususkan untuk pertokoan.


Tampak Ridwan mencari toko emas milik pak Haji Syamsul.


Hingga, tampak kemudian satu plang cukup mencolok di antara plang toko mas yang lain, TOKO MAS TRESNA H.Syamsul.


Ridwan mempercepat langkahnya, seekor kucing liar berlari melewati Ridwan membuat Ridwan terkejut.


Tampaknya kucing itu akan dipukul seseorang di dalam pasar.


Ridwan menghela nafas, ia melanjutkan langkahnya lagi, hingga ia sampai di depan toko emas yang cukup besar jika dibandingkan dengan toko emas lainnya.

__ADS_1


"Mas, cari Mbak Anisa."


Kata Ridwan pada seorang satpam yang berdiri di depan toko mas.


"Mbak Nisa?"


Satpam itu memandangi Ridwan dengan pandangan seperti menyelidik.


Belum lagi satpam itu bertanya lagi, Anisa yang duduk di bagian kasir di sebelah Ayahnya yang juga mengasiri, di mana tempat duduknya ada di tengah ruangan toko dan mudah melihat ke segala sisi tanpa sengaja memandang ke arah Ridwan dan satpam tokonya, Anisa pun cepat berdiri dari duduknya dan memilih mendekat meski masih terhalang etalase.


"Nis."


Ridwan tentu saja menyambut senang Anisa yang kini berdiri di balik etalase.


"Ada apa?


Tanya Anisa dengan suaranya yang lembut mendayu-dayu, membuat hati Ridwan seperti kapas yang terbang terbawa angin.


"Nisa,"


Meskipun di antara mereka ada etalase emas di mana di dalamnya untuk memajang gelang dan kalung, tapi tetap saja Ridwan jantungnya seperti sedang lomba balap karung.


Anisa sendiri juga tak jauh berbeda, wajahnya yang putih bersih terlihat bersemu merah, tersenyum malu-malu laksana bulan yang muncul di kala belum tanggal purnama.


"Ngg .. Ini ada titipan dari mbok Rat, Nis."


Ridwan meletakkan bungkusan kotak makan siang titipan Mbok Rat untuk Anisa di atas etalase di antara mereka berdua dengan tangan gemetaran.


"Oh, kok bisa sama kamu?"


Tanya Anisa, suaranya masih terdengar begitu lembut.


Ridwan tersenyum, meski ia hanya berani menatap Anisa sekilas saja.


"Tadi mengantar Mbak Wening, kebetulan aku mau ke pasar, Mbok Rat nitip ini, katanya Anisa tidak bisa makan nasi beli di warung."

__ADS_1


Kata Ridwan.


Anisa tertawa kecil.


"Sebetulnya tidak masalah kalau masakannya kebetulan cocok, cuma kebetulan warung dekat sini agak terlalu asin untuk lidah Nisa."


Kata Anisa.


"Ooh..."


Ridwan mantuk-mantuk sambil tersenyum.


"Ehm... Ehm!!"


Tiba-tiba terdengar suara pak Haji Syamsul seolah sengaja mengganggu Anisa dan Ridwan.


Keduanya jelas saja paham kode yang diberikan Pak Haji Syamsul.


Ridwan yang tak enak akhirnya permisi pada Anisa, membuat Anisa jadi menatap Ridwan dengan tidak enak.


"Terimakasih yah."


Kata Anisa pada Ridwan.


"Sama-sama Nis."


Kata Ridwan.


"Ehm!! Nis, ini banyak yang harus di layani."


Pak Haji Syamsul seperti tak sabar.


Anisa menghela nafas.


Tidak Abahnya, tidak pula Mbak Faizah. Mereka sama saja.

__ADS_1


**--------------**


__ADS_2