Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
33. Kaget


__ADS_3

"Nis, udah nih, yuk."


Iis tiba-tiba mendekati Anisa yang dari tadi hanya keliling-keliling toko buku, dari satu rak ke rak yang lain, tapi tak ada satupun buku yang diambil.


"Sudah?"


Tanya Anisa pada Iis.


Tampak Iis membawa empat buku, itu jelas melebihi niat awalnya yang tadinya hanya akan beli dua buku saja.


"Kok beli empat?"


Tanya Anisa begitu mereka sudah berdekatan.


Iis nyengir lebar,


"Mumpung lagi dapat promo, bagus soalnya, ini buku catatan Duta Unicef, aku lama sekali ingin baca ini, akhirnya nemu bukunya, dari pertama ingin baca, tidak ada terus."


Kata Iis.


Anisa melihat buku berjudul Totto-Chan, Gadis Cilik Di Jendela yang ditunjukkan Iis.


"Ini buku soal apa?"


Tanya Anisa.


"Kisah anak kecil perempuan yang sempat dianggap nakal di sekolah lamanya, namun beruntung Ibunya sosok wanita yang mengerti kejiwaan anak, ia lantas mencarikan sekolah yang tepat untuk anaknya, yang akhirnya anak itu bisa sukses."


"Kisah anak-anak?"


Anisa mantuk-mantuk.


"Mengisahkan anak-anak, tapi ini buku yang cocok untuk dibaca orangtua dan guru."


Kata Iis seraya mengajak Anisa ke kasir.


"Kenapa? Kan itu kisah anak-anak."


"Nisa, tidak semua hal yang di dalamnya ada tokoh anak-anak adalah untuk dikonsumsi anak-anak. Ini buku yang bisa untuk pegangan orangtua yang merasa anaknya hyper aktif seperti Totto-Chan, bagaimana cara mengarahkan anak macam itu, bagaimana mendampingi anak semacam itu. Mereka yang kerapkali dianggap tidak manut, pembangkang, dan biasanya susah diatur, sering akhirnya malah cuma dimarahi saja oleh orangtua. Alih-alih anaknya terpicu untuk nurut, yang ada makin memberontak."


"Lalu bagaimana dengan Guru?"


Tanya Anisa, keduanya kini sudah berada di depan kasir yang kebetulan tidak sedang antri.


Ah yah, memangnya kapan ada toko buku antri?


Mungkin hanya saat ada bazar buku saja, tapi rasanya itupun tak antri-antri amat.


"Guru bisa menjadikan cara Pak Guru sekolah baru Totto-Chan sebagai contoh, bagaimana caranya berinteraksi dengan anak-anak yang memiliki keaktifan lebih, juga kecerdasan yang lebih dibanding yang lain."


"Lima ratus dua puluh satu ribu rupiah."


Kasir menyebutkan nominal yang harus dibayar Iis.


Iis tampak membuka tas kecilnya untuk mengeluarkan dompet, lalu membayar tagihan bukunya.


"Terimakasih atas kunjungannya."


Kata si kasir sambil memberikan buku-buku Iis yang telah masuk Paper bag.


Iis menyambutnya sambil mengangguk dan tersenyum, lalu beranjak dari sana beriringan dengan Anisa meninggalkan toko buku untuk berpindah ke kedai di sebelahnya.


Gerimis turun rintik-rintik ketika Iis dan Anisa keluar dari toko buku untuk pindah tempat.


"Sepertinya akan hujan Is."


Kata Anisa.


"Tak apalah, besok Sabtu inih."


Ujar Iis.


Anisa tersenyum simpul.


Mereka mencari tempat duduk yang agak ke sudut.


duduk lesehan dengan posisi saling berhadapan.

__ADS_1


Meja pendek kotak dengan lapisan taplak plastik kotak-kotak berwarna hitam putih itu tampak bersih.


Kertas menu yang dilaminating ada juga di sana, bersebelahan dengan tempat sendok, tusuk gigi, dan juga satu set saus, kecap, sambal dan cuka.


Keranjang kecil dengan bungkusan aneka kerupuk juga ada di sana.


"Pesan apa Mbak?"


Seorang pelayan bertubuh kecil mendekat, wajahnya terlihat lelah, mungkin karena sudah bekerja seharian.


Pelayan yang seperti masih sangat belia itu menatap Iis dan Anisa yang kini langsung melihat kertas menu.


Lalu,


"Aku baso saja."


Kata Iis.


Anisa mengangguk,


"Aku juga baso, tapi yang telur ya."


Ujar Anisa.


"Kalau Mbak?"


Pelayan itu pada Iis, seolah bertanya baso pesanan Iis apakah sama dengan Anisa juga atau tidak.


"Kalau aku yang urat saja."


Kata Iis.


"Minumnya nopo nggih?"


Tanya pelayan.


"Aku es teh saja."


Kata Iis.


"Aku jeruk anget saja."


Ujar Anisa.


Sementara itu, di luar benar saja, gerimis pelahan sudah menjadi hujan.


Mata Anisa menerawang jauh keluar kedai, melihat hujan yang kini turun deras.


"Jangan khawatir, kita pulang setelah reda saja."


Kata Iis.


Mendengar ucapan Iis, tampak Anisa kemudian akhirnya memandang Iis lagi.


"Kamu lagi banyak pikiran ya Nis?"


Tiba-tiba Iis bertanya.


Anisa tampak nyengir,


"Soal yang kamu chat?"


Tanya Iis.


Anisa sejenak menghela nafas, bersamaan dengan itu pelayan tadi datang kembali membawakan pesanan minuman mereka.


"Sudah bicara dengan Abah soal laki-laki pilihan kamu sendiri?"


Tanya Iis lagi.


Anisa pelahan menggeleng, ia menarik gelas jeruk angetnya, lalu menyeruputnya sedikit.


"Cobalah katakan baik-baik Nis, kalau kamu bicara baik-baik pasti nanti juga Abah kamu memahami."


Ujar Iis.


"Masalahnya aku takut laki-laki pilihan aku itu sekarang sudah tidak tertarik lagi padaku, aku takut ia sebetulnya sudah punya pilihan lain lagi."

__ADS_1


Lirih Anisa.


"Lho, kenapa begitu?"


Iis tampak menatap Anisa.


"Entahlah Is, aku bingung."


"Kamu tanya saja padanya, kalian masih lancar komunikasi kan?"


Tanya Iis.


Anisa menggelengkan kepalanya.


"Is."


Anisa memanggil Iis.


"Ya Nis."


"Kamu masih ingat dulu saat kita lulus SMP, aku pernah cerita dapat surat dari teman laki-laki?"


Tanya Anisa.


Iis terdiam sejenak, seperti berusaha mengingat, lalu...


"Yang kamu bilang bingung mau jawab apa?"


Tanya Iis mengingat sekilas yang terjadi dengan Anisa saat dulu baru lulus SMP.


Anisa pun kini tampak mengangguk.


"Iya Is,"


Iis menghela nafas,


"Anak laki-laki itu apa mendatangimu?"


Tanya Iis.


Anisa menatap Iis.


Lalu,


"Ya Is, setelah sekian lama, bertahun-tahun, akhirnya ia datang lagi, tapi mungkin ia sudah lupa dengan perasaannya, ia tak menanyakan apapun soal suratnya, ia pasti sudah lupa, ia pasti hanya menganggap saat itu hanyalah cinta monyet biasa."


Kata Anisa.


Iis mengaduk es tehnya dengan sendok,


"Dia datang lagi bukankah salah satunya untuk itu? Kenapa kamu malah ragu, dia masih ingat kamu dan sengaja datang pasti karena masih menganggap kamu istimewa dong Nis."


Kata Iis.


Anisa menggelengkan kepalanya pelan,


"Dia datang bukan sengaja karena ingin menemuiku Is, dia datang karena mengantar jemput Kakaknya."


Ujar Anisa.


"Antar jemput kaka...?"


Iis terlihat mengerutkan kening, sejenak keduanya berpandangan, dan...


"Nis, anak laki-laki itu apakah?"


Iis rasanya entah kenapa tak sanggup menyebutkan nama.


Tapi...


Anisa mengangguk.


"Ya Is, dia Ridwan, adik Mbak Wening."


Jawab Anisa.


Dan di luar saja, hujan turun deras diiringi suara geluduk di langit sore.

__ADS_1


**----------**


__ADS_2