
Langit sore hari ini tertutup mendung di beberapa titik, matahari yang mulai beringsut ke barat sinarnya juga jadi terlihat redup.
Iis membuka tiga pintu rumahnya agar terlihat lebih luas.
Ruangan depan yang biasa ia gunakan untuk anak-anak les juga terlihat telah dirapihkan, dari karpet dan juga meja-meja pendek tempat anak-anak meletakkan buku, begitupun dengan dashboard.
Iis berdiri di teras rumah, menatap jauh jalanan di depan sana yang terlihat lengang.
Mungkin sebentar lagi hujan akan turun, dan jika hujan turun sebelum anak-anak berangkat, maka bisa jadi anak-anak yang les hari ini akan ijin lagi.
Iis menghela nafas, karena tiba-tiba saja ia mengingat tawaran mengajar les privat di tempat kakak Bu Windi.
Rasanya jika Iis menolak, seperti ia sudah sombong dan tak menerima rezeki.
Tapi...
Iis duduk di kursi teras, terpaku menatap pohon rindang di halaman rumahnya.
Ya...
Ridwan.
Iis tentu saja mengingat kata-kata Ridwan yang memintanya untuk tidak menerima tawaran mengajar les privat karena alasan letak tempatnya yang jauh.
"Is..."
Suara Ibu tiba-tiba saja terdengar memanggil Iis dari arah dalam, Iis menoleh ke arah Ibu yang kini menyusul keluar lalu duduk di kursi panjang yang terbuat dari bambu yang ada di teras rumah mereka.
Ibu duduk bersebelahan dengan Iis, tampak Ibu menatap putri kesayangannya dengan senyuman terkembang.
"Ibu kenapa to? Kok senyum-senyum begitu?"
Tanya Iis kepada Ibunya,
"Harusnya Ibu yang tanya, kamu ini kenapa? Kok seperti galau kalau kata anak jaman sekarang."
Ujar Ibu membuat Iis tersenyum geli,
"Tidak ada apa-apa Bu,"
Kata Iis.
Ibu menghela nafas,
"Kamu ini, apa dikira mudah membohongi Ibu bilang kamu sedang tidak apa-apa?"
Tanya Ibu.
Iis terlihat hanya terdiam, matanya beralih kembali menatap jalanan di depan sana. Jalanan kampung yang kini ada tukang penjual cilok lewat.
"Ridwan apa kabar?"
Tanya Ibu kemudian,
Iis mantuk-mantuk.
"Mas Ridwan sehat, Bu. Beliau masih sibuk mengurus pondok yang baru mulai aktif,"
__ADS_1
Kata Iis.
"Sudah mulai ada yang masuk?"
"Sudah Bu, sepertinya sudah lebih dari sepuluh anak, pengurus pondok juga sudah mulai tugas mengurus anak-anak."
"Jadi itu beda sama pesantren nya Abah yai ya?"
Tanya Ibu.
"Beda Bu, ini seperti asrama, sebetulnya lebih tepatnya ini macam panti anak Yatim dan duafa, mereka tinggal gratis, sekolah, dan belajar ngaji."
"Ooh."
Ibu mantuk-mantuk,
"Jadi tidak dipungut biaya sama sekali?"
Tanya Ibu.
Iis mengangguk,
"Tidak Bu, seluruh biaya operasional ditanggung oleh yayasan Pak Sahudi, yang uangnya dari peninggalan Pak Sahudi, pengelolaan sawah ladang, serta sumbangsih anak-anak beliau. Kelak, jika yayasan semakin berkembang dengan mendirikan sekolah umum, lalu juga pondok semakin banyak anak yatim dan duafa yang bisa ditolong, donatur satu-persatu pasti akan datang Bu."
Ujar Iis,
"Semoga semuanya berjalan sesuai harapan, tentu saja Almarhum Pak Sahudi akan sangat bahagia di alam sana jika akhirnya harta yang ia tinggalkan sungguh-sungguh bisa bermanfaat,"
Iis mengangguk,
"InshaAllah Bu,"
"Ibu mau masak dadar telur dan mie goreng pedas, kamu mau digorengkan kerupuk udang tidak?"
Tanya Ibu seraya berdiri.
"Kerupuk udangnya masih to Bu?"
Iis menatap Ibunya,
"Masih satu bungkus, nanti Ibu goreng."
Ujar Ibu,
Iis pun mengangguk.
**--------------**
Dan sebagaimana Iis yang tengah menatap mendung di langit sore hari ini, Anisa di balik jendela kamarnya di lantai dua juga terlihat sama.
Wajahnya murung, tak seperti calon pengantin putri biasanya.
Tak ada senyuman cerah, tak ada pula binar di kedua matanya.
Ya...
Tentu saja ini karena Anisa tak benar-benar mencintai Wisnu, ia memilih Wisnu menjadi suaminya karena ia ingin bisa keluar dari rumah orangtuanya tanpa harus mencari alasan lain selain ikut suami.
__ADS_1
Anisa memilih Wisnu juga karena hanya dialah satu-satunya pemuda yang dengan mudah mendapatkan restu dari keluarganya dan benar-benar akan bisa melindungi Anisa dalam banyak perkara.
"Wisnu itu laki-laki impian banyak gadis, siapapun gadis itu pasti akan dengan senang hati dipinang pemuda macam Wisnu."
Suara Pak Haji Syamsul seolah kembali terngiang-ngiang.
"Di mana lagi kau akan mendapatkan pemuda dengan paket sekomplit Wisnu, dia tampan, dia santun, dia baik, dia anak yang berbakti, dia pengusaha sukses, dia juga berpendidikan tinggi."
Pak Haji Syamsul entah berapa kali mengulang kata-kata itu di depan Anisa, seolah ingin putrinya itu sungguh-sungguh bisa nantinya berpikiran sama dengannya.
Bahwa...
Dinikahi Wisnu adalah sebuah keberuntungan, dan sudah sepantasnya Anisa harus berbangga hati, harus bahagia, harus merasa menjadi gadis yang terberkati.
Anisa berjalan menjauhi jendela dan kemudian menatap setelan kebaya putih yang terlihat begitu cantik dan indah.
Kebaya itu di pakaikan pada manekin yang diletakkan di dalam kamar.
Lusa, kamarnya juga akan mulai dihias, bahkan pagi tadi Anisa juga sudah mulai dilulur dan dipijat agar seluruh urat dibadannya lebih rileks.
Andai...
Andai pernikahan yang akan segera digelar adalah pernikahan yang benar-benar ia inginkan karena bersama laki-laki yang dicintainya, mungkin untuk menjalani seluruh ritual dari hari ini hingga nanti prosesi di hari H, Anisa akan melakukannya dengan bersemangat.
Anisa duduk di tepi tempat tidur, seluruh undangan telah disebar, pasti Ridwan juga sudah menerima undangan Anisa yang memang sengaja Wisnu yang mengurus semuanya.
Anisa menghela nafas,
Ya...
Undangan pernikahan bahkan Anisa akhirnya memutuskan untuk tidak mencantumkan nama satupun.
Ia memasrahkan semuanya pada Wisnu, soal siapa saja yang diundang untuk menghadiri resepsi pernikahan mereka.
Anisa tidak ingin ikut campur, atau malah lebih tepatnya Anisa tidak ingin ikut berpikir.
Saat ini, yang ingin Anisa fokuskan hanyalah mempersiapkan diri seutuhnya untuk tidak sampai mengurungkan niat lagi.
Ah tidak,
Tentu saja Anisa tak boleh melakukannya.
Wisnu tak pantas diperlakukan demikian. Ia orang baik. Ia laki-laki yang baik.
Mempermalukannya, tentu adalah hal yang terlalu jahat untuk Wisnu.
Maka...
Karena itulah, Anisa saat ini hanya ingin fokus mempersiapkan dirinya untuk pernikahan yang akan digelar, dan juga mempersiapkan diri untuk hari-harinya bersama Wisnu kelak setelah hari akad mereka selesai.
Anisa masih terduduk di tepi tempat tidur, matanya juga masih menatap kebaya putih yang begitu cantik.
Kebaya yang akan dikenakannya saat akad nikah nanti, sengaja dipesankan Bibik Sundari, Ibunya Wisnu, calon mertua Anisa, dari butik ternama di luar kota.
Sudah jelas, Wisnu dan keluarganya memang sangat menyayangi Anisa.
Jadi, seharusnya, nikmat Tuhan mana lagi yang hendak kau ingkari Nis?
__ADS_1
**-------------**