Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
49. Memenuhi Undangan


__ADS_3

Sore hari, Anisa pulang ke rumah dengan membawa seekor kucing, ia meminta Mbok Rat merebuskan daging ayam untuk anak kucing yang baru ia adopsi.


Anak kucing itu sudah Anisa buatkan kandang lengkap dengan semua peralatannya.


"Nis."


Tiba-tiba Mbak Faizah muncul dari pintu tengah melihat Anisa yang sibuk dengan Mbok Rat.


Mbak Faizah melirik kandang berisi anak kucing Anisa, tapi ia tampaknya tak terlalu peduli, tidak suka tapi juga tidak melarang, biasa saja.


Mbak Faizah tentu lebih peduli hal lain, yaitu undangan ke rumah Bibi Sundari.


"Siap-siap to Nis, sudah sore ini lho."


Kata Mbak Faizah dengan pasang wajah cemberut.


Anisa menghela nafas,


"Siap-siap apa sih Mbak?"


Tanya Anisa malas,


Sebetulnya ia tahu dan masih ingat jika hari ini mereka ada undangan ke rumah Bibi Sundari, tapi Anisa benar-benar tidak ingin pergi, ia sudah mengatakan dengan jelas jika ia tak mau pergi, tapi Mbak Faizah tetap saja memaksa.


"Aku sudah adukan pada Abah kalau pagi tadi kamu berani pada Mbak karena tidak mau ikut acara ke tempat Bi Sundari."


Ujar Mbak Faizah,

__ADS_1


Anisa mendengus, lalu...


"Aku tidak apa Mbak jelek-jelekan terus pada Abah, aku tidak peduli lagi."


"Nisa! Kata Abah kalau kamu begini terus,. sepulang Abah dari Tanjung, Abah akan menemui keluarga Bibi Sundari untuk sekalian saja menikahkan kamu dengan Wisnu."


Kata Mbak Faizah.


"Lho kok gitu."


Anisa tentu saja matanya menatap nanar Mbak Faizah.


Sungguh ini sudah keterlaluan, bagaimana bisa mereka sedemikian niatnya membuat kehidupan Anisa berjalan semau mereka sendiri.


"Ini tidak adil Mbak."


"Nangis lagi, sedikit sedikit nangis, kamu itu kan sudah bukan bocah Nisa."


"Mbak..."


"Siap-siap makanya, kalau tidak ingin kami yang urus semua persiapan pernikahannya."


Kata Mbak Faizah sambil bersiap masuk lagi ke ruang tengah.


"Mbak! Mbak Faizah!!"


Anisa berteriak memanggil nama Mbak Faizah, tapi kakaknya melenggang saja,

__ADS_1


"Wis Mbak Nisa, ikuti saja kemauan mbak Faizah, makin dilawan makin begitu, kan dari dulu Mbak Nisa sudah tahu sifatnya."


"Tapi harusnya jangan begitu Mbok caranya, hatiku sakit. Sepertinya dia tidak pernah menganggap Nisa adiknya."


Mbok Rat tampak menatap Anisa dengan iba.


Tapi, apa yang bisa Mbok Rat lakukan untuk membela anak majikannya yang malang itu?


Posisi Mbok Rat yang hanya asisten rumah tangga dan juga pengasuh untuk dua anak perempuan Pak Haji Syamsul itu nyatanya tak seberapa kuat untuk memberikan masukan atas masalah yang terjadi.


"Pergilah dan bicara baik-baik dengan Bibi Sundari langsung Mbak Nisa, siapa tahu Bibi Sundari akan mendengarkan apa yang anda sampaikan."


Anisa menatap Mbok Rat, lalu setelah itu Anisa melihat ke arah kucing yang baru ia adopsi dan kini sedang menatapnya seperti paham bahwa Anisa sedang tidak baik-baik saja.


"Biar nanti Kucingnya dijaga Mbok dulu, pulang dari Bibi Sundari baru dibawa ke lantai atas."


Ujar Mbok Rat.


Anisa terdiam,


"Daripada nanti-nanti malah Abah sudah turun tangan."


Kata Mbok Rat lagi, Anisa pun mengangguk.


Anisa akhrinya berjalan gontai masuk ke ruang tengah, menuju lantai atas dan bersiap mandi sore untuk mengikuti apa yang diinginkan Mbak Faizah.


Mbok Rat menatap Anisa yang menjauh dengan senyuman miris.

__ADS_1


**------------------**


__ADS_2