
"Duh... Tapi saya..."
Iis tampak bingung bagaimana caranya menolak tawaran baik Ibunya Ridwan.
Bukan hanya karena enggan merepotkan dan pastinya malu karena tiba-tiba disuguhi makan siang, Iis juga rasanya pasti tak akan bisa menelan nasinya harus makan satu meja dengan Ridwan.
Ya Allah, Othor makan mendoan berapa piring hari ini sampai niat sekali mengerjai aku. Batin Iis. Hihihi...
Ibu baru akan kembali memaksa Iis agar mau masuk ke ruang dalam, saat di luar sana, terdengar suara Ajeng dan Mbak Wening yang seperti biasa sedang adu mulut tak jelas.
"Wong sudah dibilang meri itu yo anake entok."
Kata Mbak Wening.
"Ikh, anake bebek, Buuuu..."
Ajeng terdengar ngotot.
"Lah wisan terserah kamu, anak kucing sekalian."
Kata Mbak Wening lagi kesal sambil menghentikan sepedanya di halaman depan.
"Ajeng sama Ibunya yo begitu Bu Guru, setiap hari ribut terus macam kucing."
Kata Ibu pada Iis yang jadi nyengir,
"Assalamualaikum..."
Ajeng yang lebih dulu turun dari sepeda terdengar mengucap salam dari depan teras,
"Waalaikumsalam..."
Jawab Ibu dan Iis nyaris bersamaan.
Ajeng tampak masuk ke dalam rumah, dan langsung menjumpai mbah nya yang sedang berdiri dengan Bu Guru Iis.
"Bu Guru."
Ajeng menyapa.
Iis tampak mengangguk sambil tersenyum,
Ajeng menyalami mbah nya, lalu kemudian menyalami Iis, baru setelah itu cepat lari masuk ke ruang dalam untuk langsung cuci muka dan nantinya salin dengan baju rumahan.
"Dasar anak bandel, diajari tidak pernah mau dengar Ibunya."
terdengar Mbak Wening yang masih mengomel saat turun dari sepeda, lalu berjalan menuju bangunan rumah.
"Assalamualaikum..."
Mbak Wening mengucap salam sambil masuk ke dalam rumah, dan cukup kaget mendapati Iis ada di sana.
"Lho Bu Guru Iis."
Mbak Wening menatap Iis yang langsung tampak menyunggingkan senyuman lega.
Ya tentu saja, Mbak Wening datang, pertanda Iis bisa langsung pulang karena keripiknya akan bisa langsung ia bawa.
Mbak Wening sejenak melihat ke arah halaman, dan baru menyadari di depan ada dua motor terparkir, yang satu motor Ridwan, lalu satunya motor Iis.
Mbak Wening nyengir, lalu menyalami Ibunya dan juga menyalami Iis.
__ADS_1
"Ini lho Bu Guru Iis menunggu dari tadi pulang mengajar, kamu ini lho ada janji dengan orang malah ngelayab."
Kesal Ibu.
"Ealah Bu, dengarkan dulu penjelasan Wening to, kan belu jelas sebab dan musababnya, jangan langsung marah to."
Kata Mbak Wening.
"Ibu jemput Ajeng kerja kelompok Mbah, anu ada PR Bahasa Jawa nama anak-anak hewan dan tulisan hanacaraka."
Kata Ajeng laporan.
"Oalah, lha yo haruse kasih kabar Bu Guru Iis to, kamu ini lho Ning, ngawur sekali."
Ibu tetap marah meskipun Ajeng telah memberikan laporan sekaligus pembelaan pada Mbak Wening, Ibunya.
"Maaf nggih Bu Iis."
Kata Ibu pula akhirnya pada Iis yang terlihat hanya bisa tersenyum,
"Lha Wening malah tahunya Ibunya Bu Guru Iis lho sudah kasih tahu kalau keripiknya tadi sudah sekalian saya bawakan ke rumah karena memang hari ini sekalian saya ke warung depan rumah Pak Haji Syamsul,"
Ujar Mbak Wening.
"Lho? Jadi keripiknya sudah di rumah to Mama Ajeng?"
"Enggih Bu Guru Iis, soalnya tadi memang biar sekalian saja, jadi niatnya sih supaya Bu Guru Iis tidak usah repot."
"Lah kamu itu, mau antar keripik lho tidak bilang pada Ibu dulu, kan kalau tadi tahu Bu Guru Iis tidak perlu sampai menunggu lama sekali."
"Tadi perasaan Wening bilang kok Bu."
Kata Mbak Wening,
"Lha kan rumah Bu Guru Iis yo kan rumah juga to Bu?"
Mbak Wening malah jadi membalikkan keadaan.
Ibu jadi menghela nafas.
"Nggih tidak apa-apa kok Bu, bukan salah Mamanya Ajeng, ini.murni miskom saja antara saya dengan Ibu saya di rumah."
Kata Iis kasihan Mbak Wening jadi kena marah ibunya terus.
"Kalau begitu saya permisi nggih."
Iis pun akhirnya kembali pamit,
Iis tampak mendekati Ibu untuk mengajak salaman, manakala Ibu menolak dengan halus,
"Makan siang dulu Bu Guru, nanti habis itu pulang tidak apa-apa, wong sudah dikerjai menunggu lama sekali kok yo."
Kata Ibu.
"Oh iya Bu Guru, makan siang dulu,"
Mbak Wening lantas mengamit lengan Iis dan setengah memaksa ke ruang tengah.
"Lah iyo, wong sudah Ibu siapkan kok."
Kata Ibu pula.
__ADS_1
Tepat saat akhirnya Iis dipaksa sampai di ruang tengah, tampak Ridwan keluar dari kamarnya telah berganti kaos biasa dan celana komprang di atas mata kaki.
"Bu Guru teladan kita ini Bu Iis, monggo Bu Guru, anggap saja kita ini keluarga."
Kata Ridwan.
"Nah betul itu kata Ridwan, Bu, kita ini keluarga, ya siapa tahu lho jadi keluarga beneran."
Celetuk Mbak Wening, yang tentu saja langsung membuat Iis jadi makin salah tingkah, sementara Ridwan hanya menanggapinya dengan senyuman saja.
Mbak Wening kemudian mempersilahkan Iis duduk di kursi ruang makan.
"Wah sambal dan sayur lodeh masakan Ibu ini sudah jelas bestie to yo."
Kata Mbak Wening sok pakai bahasa gaul tapi salah.
Iis yang mendengar jadi ingin tertawa tapi takut dosa kecil-kecilnya tambah banyak.
"Ikh sayur lodeh kok jadi bestie nya Ibu?"
Komen Ajeng yang tiba-tiba muncul dari kamar, ia tampak baru selesai salin.
"Eh, itu sayur lodeh buatan Mbah yang bestie."
Ujar Mbak Wening yang akan ke belakang lebih dulu untuk cuci muka.
"Wisan, tidak usah didengar Bu Guru, si Wening itu sudah biasa begitu kalau bicara susah-susah."
Kata Ibu membuat Iis tak kuasa lagi untuk tertawa kecil.
"Ajeng mau makan sama Paman dan Bu Guru..."
Kata Ajeng semangat,
"Iyo, ambil piring di dapur Ajengnya."
Ujar si Mbah.
Ajeng pun langsung lari ke dapur untuk ambil piring dan gelas buat dirinya sendiri.
Ridwan bergabung di meja makan, duduk hanya selang satu kursi dengan Iis.
Ridwan duduk di satu kursi yang di ujung meja, sementara Iis duduk di kursi yang dua jejer.
"Makan siang sederhana Bu."
Kata Ridwan.
"Sama saja Pak, di rumah saya juga selalu masak seadanya bahan yang ada."
Ujar Iis.
Ajeng tak lama muncul lagi membawa piring dan gelas, disusul kemudian Mbak Wening yang baru dari belakang cuci muka.
"Oh Ajeng, antar Bu Guru barangkali mau cuci tangan di pancuran dapur."
Kata Mbak Wening.
"Oh iya Bu,"
Sahut Ajeng cepat,
__ADS_1
Ajeng lantas mempersilahkan Bu Gurunya untuk ikut ke dapur guna cuci tangan lebih dulu sebelum makan.
**--------------**