
Iis masih membaca buku di dalam kamarnya meski mata sudah cukup lelah, ketika ia mendengar suara mobil seperti berhenti di depan halaman rumahnya.
Iis bahkan bisa melihat sinar sorot lampu mobil di luar sana sebelum akhirnya berhenti dan kemudian ia mendengar pintu mobil ditutup.
Iis melihat jam di hp nya, yang kini menunjukkan hampir setengah sembilan malam.
Ada rasa penasaran siapa kira-kira yang datang berkunjung di hari telah hampir larut seperti sekarang?
Tapi...
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan di pintu depan rumah terdengar menyusul, yang tak lama setelah itu ada suara yang tak asing untuk Iis mengucap salam.
"Assalamualaikum..."
Iis menutup bukunya, bersamaan dengan suara Ibu Iis yang menjawab salam dari ruang TV.
Ibu memang senang nonton sinetron hingga lewat jam sembilan malam.
"Assalamualaikum..."
Suara itu kembali mengucap salam,
"Waalaikumsalam... Iya sebentaaar..."
Suara langkah kaki Ibu melewati depan pintu kamar Iis menuju pintu utama rumah.
Iis yang penasaran, akhirnya memilih turun dari tempat tidurnya, untuk kemudian keluar kamar juga.
Tampak Ibu membuka pintu utama rumah, yang di mana di sana benar Mbak Faizah berdiri bersama Suci.
"Masuk Mbak."
Begitu Ibu mempersilahkan Mbak Faizah untuk masuk ke dalam rumah mereka yang sederhana.
Iis mendekat, ia lantas bersalaman dengan Mbak Faizah dan juga Suci.
Meski mereka bertetangga cukup dekat, dan bahkan Iis bersahabat baik dengan Anisa, tapi nyatanya bertemu langsung seperti saat ini memang mereka bisa dibilang sangat jarang sekali, apalagi setelah Iis mulai aktif mengajar.
Mbak Faizah matanya terlihat sembab, ia duduk di kursi ruang tamu rumah Iis yang sederhana.
Ibu dan Iis juga berada di sana, menemui Mbak Faizah yang tampaknya ada kepentingan yang tak bisa ditunda.
"Iis, Mbak mungkin ganggu, maaf..."
Kata Mbak Faizah membuka kalimatnya.
Iis tersenyum,
"Tidak Mbak, tidak apa-apa, tadi Iis juga masih baca buku kok, belum tidur."
__ADS_1
Kata Iis.
Mbak Faizah balas tersenyum,
"Dari dulu masih rajin baca buku ya Iis?"
Iis mendengarnya jadi tersipu,
"Ya dulu karena Iis suka sekali lihat Mbak Faizah yang ke mana-mana selalu bawa buku, dan baca buku."
Ujar Iis.
Mbak Faizah tampak tersenyum,
"Is..."
Panggil Mbak Faizah kemudian,
"Nggih Mbak,"
"Maaf sebelumnya nggih Bu, ini saya sengaja datang langsung begitu ada kejadian tak enak, karena saya yakin cuma Iis yang tahu kenapa Anisa jadi berani sekali pada saya."
Tiba-tiba Mbak Faizah berkata.
Iis dan Ibu saling memandang, lalu...
"Ada apa memangnya Mbak?"
Mbak Faizah wajahnya terlihat masih sedikit merah karena sepertinya ia menahan marah atau semacamnya Iis tak tahu, tapi yang jelas kedua matanya merah dan sembab itu pasti habis menangis.
"Maaf, Mbak Faizah dan nak Anisa bertengkar atau bagaimana?"
Tanya Ibu akhrnya memutuskan untuk bertanya.
Mbak Faizah menghela nafasnya, lalu...
"Masih mending Bu kalau hanya bertengkar, ini saya dipermalukan habis-habisan di depan salah satu kolega keluarga kami, bayangkan Bu, Itu keluarga Bu Sundari, yang pengusaha produk perhiasan."
Kata Mbak Faizah mulai meluap, Iis dan Ibu menatap Mbak Faizah,
"Saya ini cuma ingin Anisa punya masa depan bagus, apa salahnya sih kakak ingin adiknya punya masa depan bagus?"
Tanya mbak Faizah sambil bercucuran air mata,
Ibu meraih wadah tisu dan memberikannya pada Mbak Faizah,
"Anisa itu kan beda sama Iis yang pinter, sekolahnya bagus, bisa jadi Guru. Anisa itu kan sekolah saja tidak pernah rengking, dia itu cuma cantik, tapi kan tidak pinter."
Kata mbak Faizah.
"Kalau begitu, jelas dia tidak bisa membangun karir sendiri, dia harus apa-apa bergantung pada laki-laki yang nantinya akan jadi suaminya."
__ADS_1
Jelas Mbak Faizah lagi.
Iis menghela nafas, mendengar kalimat Mbak Faizah yang baginya merendahkan Anisa,
"Tapi Anisa juga terampil Mbak, dia sebetulnya berbakat dalam hal seni, dulu dia bagus setiap kali melukis."
Kata Iis,
"Melukis? Buat apa Is melukis?"
Mbak Faizah terdengar sinis,
"Ya kan bisa saja jadi Guru kesenian, tapi kan dulu Anisa dipaksa masuk ekonomi yang sebetulnya ia memang tidak merasa itu bidangnya Mbak."
"Ya kalau toh memang bukan bidangnya, kalau dia pinter juga pasti bisa Is."
Kata Mbak Faizah,
Iis terlihat diam, ia kesal sebetulnya mendengar Mbak Faizah begitu, tapi jika teruskan mendebat, pasti akan jadi lebih panas situasi dan kondisinya.
Apalagi, Ibu juga tangannya sudah diletakkan di atas paha Iis, seolah memberikan tanda bahwa Iis harus tenang.
Mbak Faizah kemudian melanjutkan,
"Saya itu ingin Anisa menikah dengan Wisnu bukan buat saya, keuntungannya buat dia. Tapi dia malah permalukan saya, di depan Bu Sundari langsung."
Kata Mbak Faizah.
"Entah kenapa dia sebetulnya, sampai tega melakukan itu pada saya, makanya saya langsung ke sini, karena saya pikir pasti Iis tahu sesuatu. Kenapa Anisa jadi begitu?"
Mbak Faizah menatap Iis,
Iis yang jelas tak tahu apa-apa jadi bingung.
"Apa dia sebetulnya sudah punya pacar? Kekasih? atau semacamnya? Anak mana? Siapa? Apa pekerjaannya? Pendidikannya? Dari keluarga apa?"
Mbak Faizah mencecar lagi, dan Iis hanya diam.
Rasanya hatinya bahkan tak sanggup menerima Mbak Faizah sampai hati bertanya demikian.
Sungguh, sekalipun sejak kemarin perasaannya tak baik-baik saja karena hubungan Anisa dan Ridwan, tapi melihat Mbak Faizah begitu, membuat Iis jadi iba pada calon pasangan tersebut.
Iis menghela nafas, untuk membuat dirinya lebih tenang dan bisa bicara dengan baik,
"Mbak, janganlah bicara demikian pada Anisa, bagaimanapun Anisa adalah adik Mbak Faizah, tak baik menjelekkan dan menyudutkan Anisa. Hari ini Mbak Faizah tidak apa-apa di depan saya dan Ibu, tapi jika di depan orang lain, pastinya kasihan Anisanya."
"Soal Anisa berubah, cobalah Mbak Faizah lebih membuka diri dan mendengar apa yang benar-benar diinginkan Anisa, kasihan dia Mbak, selama ini ia sudah sangat terpukul kehilangan Uminya, merasa bersalah dan disalahkan. Mbak adalah kakak perempuan yang itu berarti pengganti Umi buat Anisa. Kasih sayang yang tulus akan bisa dengan mudah sampai ke hati Mbak, percayalah. Jika tujuan Mbak baik, inshaAllah nanti Anisa juga akan mengerti."
Kata Iis akhirnya.
**--------------**
__ADS_1