Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
9. Kesibukan Di Sekolah


__ADS_3

"Pak Ridwan... Alhamdulillah."


Pak kepsek terlihat begitu senang ketika dilihatnya Ridwan berdiri di depan ruangannya.


Dipersilahkannya Ridwan masuk ke dalam ruangan, dan begitu Ridwan menurut masuk pintu ruangan pak Kepsek pun tertutup kembali.


Bu Guru Iis terlihat mulai sibuk menatap beberapa lembar kertas yang baru saja ia cetak.


Lalu ia duduk lagi di mejanya sendiri dan memeriksa hp nya takut Ibunya di rumah tiba-tiba pesan ini dan itu.


Tapi, bukannya Ibu yang mengirim pesan, malah justeru banyak pesan baru masuk adalah dari Anisa.


Karena pergantian waktu mengajar masih sepuluh menit lagi, maka Bu Guru Iis pun menyempatkan diri membuka pesan sahabatnya.


[Kami ketemu di angkutan.]


[Dia berhenti di depan sekolah kamu mengajar Is]


Bu Guru Iis mengerutkan kening.


[Siapa?]


Tanya Bu Guru Iis membalas pesan Anisa.


Pesan itu cukup lama tak dibuka, apalagi dibaca. Mungkin toko emas Anisa sedang ramai hingga membuat Anisa belum sempat memainkan hp nya lagi.


Bu Guru Iis semula ingin mengirimkan pesan lagi, namun ternyata tampak Pak Guru Hasan sudah kembali ke ruang guru,


"Bu Iis kan yang hari ini bertugas mengajar di kelasku?'


Tanya Pak Guru Hasan.

__ADS_1


Bu Guru Iis mengangguk.


"Inggih Pak."


Jawab Bu Guru iis sambil bersiap membawa kertas-kertas yang telah ia siapkan.


"Bu..."


Pak Hasan memanggil Bu Guru Iis yang kini akan segera pergi ke kelas untuk mengisi pelajaran.


Pak Guru Hasan mendekati meja Bu Guru Iis.


"Ada tamu?"


Tanya Pak Guru Hasan memberikan isyarat dengan matanya,


Bu Guru Iis yang paham maksud Pak Guru Hasan adalah menanyakan tentang tamu di ruangan Pak Kepsek tampak mengangguk.


Kata Bu Guru Iis.


"Ooh, akhirnya datang."


Kata Pak Guru Hasan.


Bisa dilihat dari nada suaranya sebetulnya, kalau Pak Guru Hasan ini seperti agak kurang suka begitu mendengar akan ada Guru Agama baru dan itu bukanlah keponakan Pak Guru Hasan.


Padahal, saat awal sekolah membutuhkan Guru Agama baru untuk mengisi posisi guru agama yang kosong, Pak Guru Hasan sudah langsing merekomendasikan nama keponakannya.


Namun entah kenapa, Pak Kepsek seolah tak merespon dengan baik.


Jangankan meminta keponakan Pak Guru Hasan datang, menanggapi pernyataan Pak Guru Hasan saja Pak Kepsek seolah malas.

__ADS_1


"Saya permisi dulu nggih Pak, Mari..."


Tiba-tiba Bu Guru Iis bersuara hingga membuyarkan lamunan Pak Guru Hasan.


"Oh nggih Bu... Monggo... Monggo..."


Kata Pak Guru Hasan.


Bu Guru Iis akhirnya memilih segera pergi meninggalkan kantor menuju kelas, ia tak mau dilibatkan pada urusan Pak Guru Hasan dan pak Kepsek yang memang seringkali tak sejalan.


Keduanya yang konon masuk sekolah dasar ini dalam waktu yang sama memang kerap dibanding-bandingkan, terutama lebih berhasilnya salah satu dari mereka mendapatkan kedudukan.


Bu Guru Iis berjalan menuju ruang kelas di mana ia akan mengajar.


Sampai di kelas itu, terlihat para murid sedang rusuh khas anak SD jika sedang tak ada Guru maka kelas langsung ramai macam pasar loak.


Tok... tok...


Bu Guru Iis mengetuk pintu yang sebetulnya daun pintunya terbuka lebar, dan begitu semua murid menoleh ke arah pintu, Bu Guru Iis tersenyum, lalu...


"Assalamualaikum..."


Kata Bu Guru Iis.


"Waalaikumsalam..."


Para murid menjawab...


Bu Guru Iis tersenyum dan kemudian berjalan masuk ke dalam kelas.


**--------------**

__ADS_1


__ADS_2