
Ridwan sebelum berangkat mengajar ngaji pergi ke rumah Pak Haji Syamsul lebih dulu untuk menjemput Mbak Wening.
Karena langit begitu mendung, akhirnya Ridwan mengayuh sepedanya dengan sedikit tergesa-gesa.
Harapannya tentu agar tidak sampai kehujanan dan bisa sampai di rumah lagi sebelum waktu mengaji di rumah Pak Haji Imron mulai.
Ridwan cukup lega, manakala sepedanya mendekati rumah Pak Haji Syamsul.
Meski rasanya berbeda dengan saat pagi tadi ia mengantar Mbak Wening karena bayangan indah bertemu dengan Anisa, kali ini Ridwan justeru lebih teringat akan wajah masam Pak Haji Syamsul saat Ridwan bicara dengan Anisa.
Ridwan menghentikan sepedanya dan meletakkan sepedanya di dekat pagar besi rumah Pak Haji Syamsul.
Ridwan celingak-celinguk karena Mbak Wening belum terlihat keluar dari dalam rumah, Ridwan melongok dari arah pagar besi mencoba mencari siapa saja yang bisa ia tanyai karena ia lupa tak bawa hp pula karena terburu-buru.
Sekitar lima menit Ridwan berdiri di depan pagar menunggu Mbak Wening, dari arah pintu utama akhirnya muncul dua orang Ibu yang tadi siang ke rumah Ridwan menemui Ibunya.
Dua orang Ibu itu, yang tak lain salah satunya adalah Bu Sulis terlihat bicara dengan seorang perempuan cantik mirip Anisa.
Di sebelah perempuan itu ada seorang anak kecil seusia Ajeng.
Ridwan masih terlihat mengamati orang-orang yang tampak masih bicara serius di sana, kala tiba-tiba Bu Sulis dan juga perempuan mirip Anisa itu melihat ke arah Mbak Wening yang tampak akan segera pulang.
Ridwan yang melihat Mbak Wening akhirnya keluar dari rumah itu membuatnya segera bersiap dengan sepedanya.
Tapi...
"Mbak, sebentar..."
Tiba-tiba perempuan yang mirip Anisa itu memanggil Mbak Wening.
Ridwan yang sudah siap menunggu di depan pagar rumah Pak Haji Syamsul itu hatinya makin tidak karuan manakala gerimis kecil-kecil mulai berjatuhan.
"Mbak, sudah mau pulang, maaf ganggu."
Kata Bu Sulis pula, manakala Mbak Wening akhirnya mendekati mereka.
"Ada apa nggih?"
Mbak Wening terlihat begitu gugup,
"Mbak, katanya adik Mbak Wening bisa mengajar ngaji."
Mbak Faizah menatap Mbak Wening lebih tajam dari biasanya karena merasa kesal justeru tahunya dari Ibu Sulis, ketua pengajian di RW mereka yang merupakan teman Umi nya semasa hidup.
"Oh Ridwan, maaf itu anu soalnya baru saja pulang dari pesantren beberapa hari ini, saya juga kan tidak merasa perlu cerita hal semacam itu."
Mbak Wening memberi alasan.
"Lho ya penting dong cerita, kan itu Ustadz Saleh tidak lagi tinggal di sini, ini kan Suci harus belajar ngaji, padahal kan Mbak Wening tahu saya lagi cari guru privat belum ketemu yang cocok."
Mbak Faizah terus mengomel.
Mbak Wening meminta maaf.
"Lho sebentar, itu bukannya nak Ridwan nggih?"
__ADS_1
Teman Bu Sulis yang akhirnya pertama menyadari keberadaan Ridwan di luar pagar, Ridwan yang tengah menunggu Mbak Wening.
Semua pun jadi melihat ke arah luar pagar,
"Nggih niku Ridwan."
Jawab Mbak Wening.
"Lah kebetulan mbak, suruh ke sini, saya mau bicara."
Kata mbak Faizah memerintah.
Mbak Wening pun mengangguk, lantas bergegas berjalan ke arah pagar rumah untuk memberitahukan permintaan mbak Faizah pada Ridwan.
"Jadi cucunya Bu Sulis akan mulai kapan les nya? Suruh di sini saja ngajinya to sekalian menemani Suci."
Ujar Mbak Faizah pada Bu Sulis.
"Nanti tek bilang dulu Mbak Faizah ke anak saya, kalau bersedia ya nanti di sini sekalian nak Suci."
Jawab Bu Sulis.
"Bu Lis, sudah yuk Bu, mau hujan ini sepertinya, mbok kehujanan lho."
Kata teman Bu Sulis.
Bu Sulis mengangguk, lalu pamit pada Mbak Faizah.
"Maturnuwun sumbangannya nggih, nanti jangan lupa datang ke acaranya,"
Kata Bu Sulis.
Bersamaan dengan itu Mbak Wening dan Ridwan datang menghampiri Mbak Faizah untuk memenuhi permintaannya.
**---------------**
Hujan turun langsung cukup deras, Bu Guru Iis tampak lari-lari mengangkat jemurannya di luar rumah.
Setelah semua jemuran diangkat, ia pun segera membawa jemuran itu masuk ke ruang setrika yang jadi satu dengan ruang sholat rumahnya.
"Is, Ibu lho ingin bakwan."
Kata Ibu yang baru saja selesai mandi sore.
"Nggih nanti Iis buatkan, kebetulan tadi pulang ngajar Iis belanja sayur lagi untuk memenuhi stok bahan masakan di rumah."
Kata Iis masih dari ruang setrika.
"Buat lauk saja sekalian Is, jadi hemat."
"Nggih Bu, nanti Iis goreng bakwan sayur sekalian tumisan bayam."
"Iya itu cocok untuk hujan begini."
Ibu tampak setuju, setelah itu ia terlihat melangkah menuju kamar untuk ganti pakaian.
__ADS_1
Iis sendiri keluar dari ruang setrika lalu menuju pintu depan untuk menutupnya lagi agar air hujan yang terbawa angin tidak masuk ke dalam.
Saat akan menutup pintu, Iis tanpa sengaja melihat Mbak Wening lewat membonceng sepeda Ridwan, keduanya terlihat menerobos hujan deras, Iis sampai terpaksa keluar rumah.
Ya Allah, kenapa tidak neduh dulu. Batin Iis prihatin.
Iis tak juga kunjung masuk dan masih terus menatap jalanan yang diguyur hujan deras sore itu manakala Ibunya selesai ganti baju dan keluar dari kamar.
"Ada apa Is? Kok bengong di teras lagi hujan begini, masuk angin nanti kamu."
Kata Ibu terheran-heran melihat Iis berdiri di teras sampai kena air hujan.
Iis tampak terkesiap begitu mendengar suara sang Ibu.
Gadis manis itu lantas masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rumahnya rapat-rapat, di luar sana hujan macam mengamuk, di tambah suara geluduk yang seperti saling menyahut.
"Mbak Wening, hujan deras sekali kok pulang naik sepeda Bu."
Kata Iis.
"Oalah, barusan?"
Tanya Ibu.
Iis mengangguk.
"Lah, si Faizah bagaimana to, ada orang yang kerja di rumah hujan-hujan pulang kok diperbolehkan."
Ibunya Iis geleng-geleng kepala.
"Mungkin Mbak Faizah ndak tahu Bu, ndak baik kita syudzon kan Bu."
Kata Iis.
Ibu terlihat menghela nafas,
"Lah kamu ini macam tidak tahu saja keluarganya si Anisa, kan semua juga sudah tahu kalau Faizah dan Abahnya itu memang kurang baik pada orang yang pada kerja di rumahnya, makanya dari dulu juga yang kerja ganti-ganti terus."
Kata Ibu.
"Tapi Mbok Rat kan awet Bu."
Iis berjalan menuju kulkas untuk kemudian mengeluarkan beberapa bahan masakan dari kulkas.
"Mbok Rat itu kan karena masih saudara dengan almarhumah Bu Hajjahnya, juga karena berat meninggalkan Anisa yang sudah diasuh dia sejak baru lahir."
Kata Ibu.
"Tapi ya kita ndak tahu juga Bu, itu tadi Mbak Wening juga mungkin saja sudah dilarang pulang."
Ujar Iis lagi, tentu ia tidak mau orangtuanya jadi terlalu tenggelam dalam kebiasaan syuudzon, membuat kesimpulan sendiri dalam satu perkara dan menyalahkan pihak lain padahal belum tahu yang sebenarnya.
"Ya tetap saja, kalau Ibu yang jadi majikan tentu tidak akan Ibu ijinkan Mbak Wening pulang hujan sederas ini, apalagi kan perempuan pulang sendirian."
Kata Ibu berusaha tetap pada pendapatnya.
__ADS_1
"Tapi Mbak Wening ndak sendirian kok Bu, Mbak Wening sama Pak Ridwan."
**---------------**