Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
79. Nyasar


__ADS_3

Pak Karto celingak-celinguk tak jelas mencari mobilnya, seingatnya ia parkir di lantai dua, tapi sudah dicari di lantai dua dia tak tak juga ketemu.


Dicoba membunyikan alarm pun tidak ada suara mobilnya.


Pak Karto yang lama-lama kakinya sampai pegal akhirnya memilih melipir dulu sebentar, ia mencoba mengingat lagi saat tadi ia baru datang.


Kini sudah lebih dari empat kali Pak Karto bolak-balik muter-muter, dan akhirnya ia mulai merasakan ada yang tidak beres dengan semua yang ia alami ini.


"Astaghfirullah... Lahaula wala quwata illa billahil aliyil adzim."


Pak Karto akhirnya nyebut begitu ia menyadari ada yang janggal.


Dan...


Begitu Pak Karto berkedip, lalu ia membuka matanya, betapa kagetnya Pak Karto, karena area parkiran yang kini ia ada di sana tiba-tiba sepi.


Pak Karto jelas saja langsung berdiri dari duduknya, ia celingak-celinguk dan saking bingungnya di tambah juga sekaligus panik, Pak Karto menekan tombol alarm kunci mobilnya dan seketika suara alarm pun terdengar.


Pak Karto yang kini melihat mobilnya ada terparkir tak jauh dari ia kini berdiri dan di sana hanya ada beberapa mobil lain, Pak Karto Malah jadi ketakutan.


Jelas sudah tadi ia keliling parkiran sampai kaki pegal-pegal, ia tak mendapati mobilnya dan tempat parkir penuh oleh mobil-mobil mewah, tapi begitu Pak Karto istighfar, tiba-tiba ia melihat mobilnya ada dan parkiran kosong melompong.


"Hantu... Hotel bintang lima ini berhantu, hiiiiiiii..."


Pak Karto lari keluar tempat parkir, melupakan niat awalnya mengambil lauk masakan Mbak Wening yang diberikan pada Ridwan untuk bekal di perjalanan.


"Oalah, jadi lauknya ketinggalan di mobil?"


Tanya Mbak Wening yang akhirnya menelfon Ridwan karena Ibu terus bertanya apakah Ridwan sudah sampai atau belum.


"Enggih Mbak, makanya lagi diambil Pak Karto."


Ujar Ridwan.


"Iya diambil to, kan buat makan kamu, sekarang kamu jadinya belum makan ya berarti?"


Tanya Mbak Wening.


Ridwan tersenyum,


"Sudah makan Mbak, kan ini Ridwan menginap di hotel, tadi sebelum masuk kamar dijamu makan siang di restoran hotel oleh asisten Pak Bagas."

__ADS_1


Kata Ridwan.


"Kamu menginap di hotel? Wah jan keren tenan, hotel opo Wan?"


Mbak Wening antusias.


"Hotel bintang lima Mbak, namanya Alpha Centauri Hotel."


"Weh jiaan, namanya saja susah men ya."


Kata Mbak Wening.


"Apik yo hotele Wan?"


Tanya Mbak Wening pula penasaran.


"Nggih apik Mbak, apik banget malah."


Sahut Ridwan.


"Lah jiaan kamu ini wis jelas bakal jadi wong sukses to yo, nginep di hotel bintang lima."


Kata Mbak Wening yang malah seperti jauh lebih semangat dibandingkan Ridwan yang mengalami.


"Nanti kalau Ibu sudah mandi dan sholat tek telfon lagi yo Wan, Ibu mestine yo pengin ngobrol."


Kata Mbak Wening.


"Ibu lagi mandi yo Mbak?"


"Iyo, kalau Ajeng lagi belajar nyuci piring, dari pagi main di sawah, pulang begitu lihat Bu Guru Iis ke sini."


Tutur Mbak Wening.


"Oh iya Wan, Mbak jadi ingat itu ada titipan dari Bu Guru Iis buat kamu."


"Titipan nopo Mbak?"


Tanya Ridwan bingung,


"Mbak tidak berani buka to yo, barangnya sudah Mbak simpankan di kamar, nanti kamu saja yang buka sendiri kalau pulang. Katanya sih itu ucapan terimakasih karena sudah bantu waktu motornya mogok."

__ADS_1


"Ya Allah, hanya bantu begitu."


Gumam Ridwan,


"Lho pa ora to Wan, wong namanya pengin kasih kamu hadiah, wis diterima saja, namanya menghargai."


Kata Mbak Wening,


Ridwan jadi tersenyum.


"Enggih Mbak... enggih."


Bersamaan dengan itu, Pak Karto akhirnya sampai di kamar Ridwan lagi.


Ia masuk tanpa mengucap salam, melainkan langsung ngeloyor masuk ke dalam kamar.


Wajahnya terlihat pucat, gerak-geriknya seperti takut macam orang dikejar sesuatu yang menakutkan.


Ridwan yang melihat Pak Karto aneh akhirnya meminta ijin Mbak Wening untuk mengakhiri lebih dulu obrolan mereka via telefon.


Setelah obrolannya dengan Mbak Wening selesai, barulah kemudian Ridwan menghampiri Pak Karto yang sedang minum air mineral botol yang disediakan pihak hotel.


"Ada apa Pak Karto, kok seperti baru melihat atau malah dikejar hantu."


Kata Ridwan.


Pak Karto menghentikan acara minimnya, lalu ia tampak bergidik menatap Ridwan.


"Memang Mas, memang baru saja ada hantu."


Kata Pak Karto yang kemudian menghabiskan air minumnya.


"Hantu nopo Pak... Pak, wong jelas-jelas sekarang kita ada di Ibukota lho yo Pak karto masih saja merasa seperti di desa takut sama hantu."


Ridwan tersenyum,


"Walah Mas... Mas... Wong jelas-jelas kok Mas, kalau hantu itu tidak melihat tempat, pokoknya dia pengin penampakan yo penampakan wae to."


Kata Pak Karto geleng kepala.


Ridwan menghela nafas, dan kemudian...

__ADS_1


**------------**


__ADS_2