Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
130. Sosok Baru


__ADS_3

Tok... tok... tok...


Suara ketukan di pintu rumah Mbok Yem mengejutkan Mbak Wening dan juga Mbok Yem.


Keduanya pun sama-sama menoleh ke arah pintu, di mana tampak laki-laki berdiri.


"Oh Mas Amin, monggo Mas, ini pesanan Bu Guru Risma sudah siap."


Kata Mbok Yem pada laki-laki bernama Mas Amin tersebut,


Namun, Mas Amin bukannya langsung masuk ke dalam untuk mengambil pesanan yang sudah disiapkan Mbok Yem, malah ia tampak saling berpandangan dengan Mbak Wening.


Keduanya sama-sama seperti tak menyangka bisa bertemu di sana, lalu...


"Wening bukan ya?"


Akhirnya Mas Amin yang pertama bersuara, Mbak Wening mengangguk,


"Amin to?"


Kaya Mbak Wening sambil akhirnya berjalan menuju pintu di mana mas Amin berdiri.


Senyuman lebar tampak terkembang di wajah Mas Amin.


Mbak Wening dan Mas Amin lantas saling berjabat tangan, lalu saling bertanya kabar selayaknya basa-basi kebanyakan orang pada umumnya.


"Lama sekali yo Ning tidak pernah ketemu, kamu di mana saja?"


Tanya Mas Amin,


"Aku di sini-sini saja, ngurus anak, sekalian jualan keripik kecil-kecilan."


Jawab Mbak Wening sambil tersenyum pada teman lamanya yang dulu sekolah di Sekolah Dasar yang sama.


Keduanya pun lantas berbincang cukup lama, sampai akhirnya mbok Yem mengingatkan Mas Amin kalau gorengan pesanan Bu Guru Risma lebih baik dibawakan lebih dulu.


"Astaghfirullah, iya bener... bener Mbok Yem,"


Mas Amin akhirnya langsung mengambil pesanan Bu Guru Risma untuk dibawa ke Madrasah di mana Bu guru Risma pasti telah lama menunggu.


"Yo wis Ning, nanti aku tek we a kalau sudah agak sela."


Ujar Mas Amin yang kemudian mengajak mbak Wening bertukar nomor hp lebih dulu sebelum akhirnya ia pamit untuk mengantarkan pesanan Bu Guru Risma yang merupakan pelanggan tetapnya.


Sepeninggal Mas Amin, Mbak Wening pun kembali fokus dengan belanja lauk untuk sarapan di rumah,


"Kaget aku bisa bertemu Mas Amin di sini, aku pikir dia tinggal di Kudus."

__ADS_1


Kata Mbak Wening seraya memasukkannya pesanan gorengannya yang sudah selesai digarap dan dibungkus dengan daun jati itu ke dalam kantung kresek.


"Mas Amin sudah mau empat bulan Mbak di rumah, kerja ngojek, setiap hari langganan membawa gorengan pesanan Bu Guru Risma dari tempat saya ke sekolahan."


Kata Mbok Yem.


"Oh...".


Mbak Wening mantuk-mantuk, lalu,


"Duda itu Mbak, isterinya kabarnya meninggal sakit kanker."


Cerita Mbok Yem.


Mbak Wening tampak mantuk-mantuk lagi.


Duda ditinggal mati oleh isteri, sungguh seperti nasib Mbak Wening yang terpaksa jadi janda karena suaminya meninggal.


"Jadi semuanya dua puluh lima ribu Mbak."


Kata Mbok Yem begitu seluruh pesanan telah selesai masuk ke dalam kresek.


Mbak Wening pun mengeluarkan selembar dua puluh ribuan dan selembar sepuluh ribuan.


"Kembali lima ribu nggih."


Kata Mbok Yem sambil berjalan ke arah meja lagi dan akan menyingkap taplak meja plastiknya, namun buru-buru Mbak Wening pamit,


Ujar Mbok Yem,


Mbak Wening menggeleng.


"Mboten usah Mbok, kulo pamit nggih mbok, monggo, maturnuwun."


Kata Mbak Wening yang cepat keluar dari dalam rumah Mbok Yem.


**-------------**


Sementara Ridwan masih harus menunggu Mbak Wening untuk sarapan, di rumah Anisa tampak sudah tersedia macam-macam lauk makanan untuk suguhan tamu dan juga nasi berkat orang khataman.


Anisa sendiri di kamar terlihat menghabiskan waktu untuk membaca Alquran juga, yang dihadiahkan untuk almarhumah uminya.


Hari ini adalah jadi hari lamaran Anisa, yang kemungkinan nantinya hanya akan berjarak dua bulanan saja dengan hari pernikahan nya.


Pak Haji Syamsul, Abah Anisa bahkan baru acara lamaran saja sudah mengundang banyak sekali tamu, menandakan bahwa memang Wisnu sangat diistimewakan oleh Pak Haji Syamsul.


Ya, tentu saja, Wisnu memang istimewa, dari sepuluh hal yang paling dilihat dari seorang pria, bisa dikatakan Wisnu memiliki hampir seluruhnya.

__ADS_1


**--------------**


"Nanti pulangnya mampir beli parcel buah atau hadiah apa Is buat Anisa."


Kata Ibu berpesan saat ia dan Iis sarapan nasi goreng di ruang TV.


Sarapan sambil nonton berita yang sebetulnya mulai membosankan karena isinya itu lagi itu lagi.


"Nggih nanti Iis usahakan mampir beli hadiah dulu, kalau parcel buah sepertinya tidak usah Bu, karena pasti banyak yang sudah bawa."


Ujar Iis.


"Oh iya juga ya, pasti tamunya Pak Haji Syamsul sudah pada bawa, kerabatnya juga pasti begitu."


Ibu menimpali, Iis mengangguk membenarkan.


"Tampaknya acara pernikahan Anisa akan digelar besar-besaran Is, ini baru acara lamaran saja katanya rumah Anisa sudah dihias luar biasa."


"Nggih Bu, ya mungkin karena Anisa anak bungsu."


Kata Iis akhirnya, membuat Ibu mengangguk.


Setelah selesai sarapan, Iis segera membereskan piring-piring kotor dan membawanya ke dapur.


Iis mencuci piring-piring kotor itu sebentar, baru setelah itu pergi ke kamarnya untuk bersiap berangkat mengajar.


"Pak Ridwan diundang is?"


Tanya Ibu,


Ketika Iis akhirnya sudah selesai ganti baju untuk mengajar di sekolah dan kini sibuk pakai kaus kaki dan sepatu.


"Kenapa jadi tanya pak Ridwan, Bu?"


Iis menatap Ibunya yang duduk di kursi ruang TV, sedangkan Iis sendiri duduk di kursi dekat rak sepatu sebelah meja TV.


"Ya tidak apa-apa, hanya kok jadi ikut sedih saja."


Ujar Ibu.


Iis tampak tersenyum mendengar kata-kata Ibunya.


"Ibu ini ada-ada saja,"


Iis sambil geleng-geleng kepala, dan lantas berdiri dari duduknya.


"Sampun Bu, Iis berangkat ngajar dulu."

__ADS_1


Kata Iis menghampiri Ibunya, lalu menyalami, dan mencium tangan Ibunya.


**-----------**


__ADS_2