
Ridwan terburu memasuki parkiran dengan motornya, terdengar di lapangan sekolah anak-anak sudah diminta berkumpul di lapangan untuk melaksanakan upacara bendera yang di mana sebagai kegiatan wajib di awal pekan.
Setelah memarkirkan motornya di tempat parkir sekolah, Ridwan tampak bergegas menuju kantor Guru untuk menyimpan tas miliknya.
Kebetulan di kantor tinggal Bu Guru Iis yang terlihat sedang menyimpan tas nya juga.
"Assalamualaikum..."
Ucap Ridwan seraya masuk ke dalam ruangan Guru,
"Waalaikumsalam warrohmatullahi wabarokatuh..."
Bu Guru Iis menjawab,
Begitu kemudian ia mendapati Ridwan yang masuk ke dalam ruangan, tampak Bu Guru Iis tiba-tiba jadi gugup.
Ia jelas tak berharap mereka akan bertemu dalam situasi seperti ini, di mana di dalam ruangan itu hanya tinggal mereka berdua saja.
"Bu..."
Sapa Ridwan tanpa berpikir apa-apa sembari menuju mejanya sendiri yang kebetulan memang berada di dekat meja Bu Guru Iis juga.
"Oh i... iya Pak Ridwan, ngg... Monggo saya, duluan..."
Gugup sekali Bu Guru Iis seolah berusaha lari dari Ridwan, sampai saking gugupnya kakinya malah jadi tersandung kaki mejanya sendiri.
Bu Guru Iis pun terhuyung ke depan, untunglah ada meja Pak Hasan hingga Bu Guru Iis langsung bisa berpegangan pada meja itu dan menahan tubuhnya hingga tak sampai jatuh.
"Aduh, hati-hati Bu Guru, kalau sampai jatuh bagaimana..."
Ridwan begitu cemas, tapi Bu Guru Iis yang tengsin berat hanya sekilas saja menoleh sambil tersenyum, lalu buru-buru berjalan ke arah pintu ruangan guru untuk keluar dan segera ke lapangan di mana para Guru sudah berbaris juga untuk mengikuti upacara bendera.
Melihat tingkah Bu Guru Iis, membuat Ridwan jadi mesem tipis.
Ah padahal ia berniat ingin mengucapkan terimakasih atas bingkisannya, semalam Ridwan sudah membuka bingkisan dari Bu Guru Iis sebelum ia tidur.
**--------------**
Flashback,
"Oh iya Wan, itu bingkisan yang dari Bu Guru Iis, jangan lupa nanti dibuka."
Kata Mbak Wening saat Ridwan baru selesai makan mie rebus buatan Mbak Wening.
Ridwan akui, mie rebus buatan Mbak Wening sangat enak, sama seperti mendoan buatannya juga sangat enak.
Ridwan yakin jika kelak ada modal dan bisa memberikan modal itu untuk kakak perempuannya membuka warung atau kantin, inshaAllah akan laris manis tanjung kimpul.
"Bingkisan apa Ning?"
__ADS_1
Tanya Ibu kepo.
"Aduh Ibu, baru juga sebentar sudah lupa,"
Mbak Wening geleng-geleng kepala.
"Lhoo kamu ini dikira Ibumu ini usianya berapa? Tujuh belas tahun? Lho wong wis tuek begini yo wajar to gampang lupa."
Ibu malah jadi baper.
"Aduh Ibu, ojo baper to."
"Lha sopo sing laper, wong Ibu tadi juga sudah makan, ini juga banyak kue."
Ibu jadi mengomeli Mbak Wening yang malah jadi guya-guyu.
"Ridwan istirahat nggih Bu, Mbak..."
Kata Ridwan akhirnya sambil berdiri dari duduknya.
"Iyo Wan, kamu baru dari perjalanan jauh, istirahatlah biar berkurang lelahnya."
Ujar Ibu.
Ridwan mengangguk,
"Nggih Bu,"
Di dalam kamar, Ridwan lantas langsung melihat ke arah meja di mana paper bag dari Iis belum sempat ia buka meski tadi sudah sempat melihatnya.
Ridwan meraih paper bag itu, mengambil isinya yang dibungkus sedemikian rapi.
Ridwan pun kemudian membuka bungkusan itu, yang kemudian isinya ada sarung dan kemeja.
Tidak ada goresan pena di sana, sebagaimana di setiap adegan romantis sinetron-sinetron ataupun film TV yang mana setiap kali memberikan hadiah akan ada surat kecil terselip.
Mungkin, Iis terlalu malu untuk melakukannya, atau ia merasa enggan bersikap seolah anak ABG yang baru jatuh hati.
Ridwan mengulum senyuman, lantas membiarkan hadiah itu tetap berada di atas meja, untuk esok hari ia cuci terlebih dahulu sebelum nantinya ia pakai.
Tentu saja, sebuah hadiah harus dipakai agar sang pemberi mendapatkan manfaatnya, sarung yang akan Ridwan pakai untuk sholat berjamaah ke masjid, maupun mengajar ngaji anak-anak di rumah Pak Haji Imron, semoga bisa dinikmati pula pahalanya oleh Iis.
Begitupun kemeja, yang akan Ridwan pakai untuk mengajar di sekolah, semoga juga nanti, di setiap ilmu yang Ridwan bagi dengan anak-anak dan mereka menjadi paham, maka Iis pun akan menikmati manfaatnya pula.
Flashback berakhir.
**--------------**
Ridwan setelah menyimpan tas nya di meja kantor Guru akhirnya bergegas menyusul Guru-guru yang lain ke lapangan sekolah.
__ADS_1
Tampak semua siswa telah berbaris rapi, begitu juga para Guru.
Ridwan berjalan ke arah barisan Guru dan berdiri di sebelah Bu Guru Iis yang seolah harus menahan nafas begitu Ridwan tiba lalu langsung berdiri di dekatnya.
Jantung Bu Guru Iis yang berdetak dua kali lebih cepat pun rasanya hampir mau lepas, tatkala sekilas ia menoleh pada Ridwan dan pemuda itu malah menyunggingkan senyuman.
Sementara itu, upacara bendera kini telah dimulai, suara protokol upacara terdengar memenuhi tempat upacara.
Komandan Upacara memasuki lapangan, dan menghadap barisan agar mereka berdiri dengan rapi.
"Lencang kanaaaaan... GRAK!!"
Suaranya begitu keras, cocok ia kelak menjadi Tentara Negara Indonesia, lalu menjadi komandan upacara tujuh belas Agustus bersama para petinggi negara.
"Tegaaaaaaap graaaak!!"
Ia melakukan tugasnya dengan sangat baik, para peserta upacara terlihat rapi barisannya. Barisan merah putih lengkap dengan topi merah putihnya juga.
"Pemimpin upacara memasuki lapangan upacara."
Protokol upacara bersuara, dan tampak kepala sekolah berjalan memasuki tempat upacara.
Para peserta upacara diminta hormat kepada pemimpin upacara.
Setelah itu, tampak komandan upacara pun melangkah ke depan beberapa langkah, menghadap pemimpin upacara, untuk melapor bahwa upacara siap dilaksanakan.
"Laksanakan."
Suara tegas kepala sekolah terdengar.
Komandan upacara kembali ke tempat.
Ridwan terlihat menatap komandan upacara yang tegas itu, yang merupakan anak kelas enam yang konon sejak kelas satu sampai kelas enam selalu ada di peringkat satu.
Di sisi lain, tiga orang anak berjalan membawa bendera untuk dikibarkan. Dua anak laki-laki yang mengapit satu anak perempuan yang bertugas membawa benderanya.
Di depan tiang bendera mereka berhenti dan mulai mengaitkan bendera pada tali untuk dikibarkan.
Sebagaimana kakak-kakak paskibraka, mereka terlihat sangat cekatan, dan tak butuh waktu lama bendera itu dibentangkan pertanda siap dikibarkan.
Terdengar suara paduan suara menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Bersamaan dengan suara sang komandan upacara yang lantang,
"Hormaaaaaat grak!!"
Semua peserta upacara pun langsung bersikap hormat kepada sang merah putih.
Bendera yang dulu pernah dipakai Majapahit menjadi bendera mereka, dan kemudian akhirnya dipakai Indonesia pula.
__ADS_1
Ah semoga kelak, Indonesia bisa sejaya dan sehebat Majapahit lagi. Memiliki Raja sebagaimana Hayam Wuruk, dan memiliki seorang menteri pertahanan sekuat Gajah Mada.
**--------------**