Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
186. Kamu Ketahuan


__ADS_3

Ridwan yang sebetulnya semula ingin mampir ke rumah Iis, berhubung langit terlihat mendung akhirnya mengurungkan niatnya.


Ia memilih mampir ke rumah Pak Haji Imron untuk menyampaikan undangan Wisnu dan Anisa, sekalian ingin membicarakan soal akan dimulainya aktifitas di rumah tahfidz dan beberapa hal penting lain terkait yayasan yang kini dalam kepengurusan Ridwan.


"Kalau memang ada beberapa junior Ustadz Ridwan yang akan membantu, termasuk juga Amin dan Arif, ya tidak masalah misal jadwalnya dibuat pagi dan siang."


Kata Pak Haji Imron.


Ridwan mengangguk,


"Semula saya ingin handle sendiri setiap hari, tapi berhubung kasihan anak-anak yang sudah kadung ngaji di tempat Pak Haji, sebaiknya saya bagi tugas saja dengan anggota yayasan lainnya. Toh jadwal di pondok juga belum terlalu padat, akan jauh lebih baik untuk mereka mulai belajar sekalian Pak Haji."


Kata Ridwan.


Pak Haji Imron mengangguk setuju.


"Anak-anak yang mengaji di sini, katanya minta geser waktu sore lagi Tadz."


Kata Pak Haji Imron, yang belakangan sudah mulai memanggil Ridwan dengan panggilan Ustadz.


"Nggih Pak Haji, karena memang selepas Maghrib anak-anak sebaiknya tinggal di dalam rumah. Saya juga tidak enak pada Ibu-Ibu yang akhirnya jadi harus repot mengantar, sedangkan mungkin mereka sebetulnya sudah lelah dan harusnya sudah istirahat di jam itu."


Kata Ridwan.

__ADS_1


Pak Haji Imron terkekeh,


"Ya Ibu-Ibu sekarang sebetulnya lelahnya tak seberapa, cuci baju sudah ada mesin cuci, ngulek sudah ada blender, kadang-kadang malah sudah ada rewang, hanya saja sinetron itu pada pengin nonton, jadi kalau harus mengantar anak ngaji pada malas."


Ujar Pak Haji Imron sambil terkekeh,


Ridwan juga jadi tersenyum, karena memang ada benarnya apa yang dikatakan Pak Haji, karena jika melihat Mbak Wening dan Ibu Ridwan pun selepas maghrib lebih seringnya justeru duduk di depan TV.


Meskipun, Ibu masih agak mending jika habis maghrib tetap menyempatkan diri membaca Alquran sebentar.


Berbeda dengan Mbak Wening, rasanya ia sholat pun lebih sering di akhir waktu, bahkan kalah dengan Ajeng, Anaknya, yang seringkali minta jamaahan dengan Mbah nya.


"Wis jamane Pak Haji."


Pak Haji Imron lantas membuka undangan dari Wisnu dan Anisa yang sedari tadi hanya ia pegangi sejak diserahkan oleh Ridwan.


"Oh ini minggu besok ya."


Kata Pak Haji ketika akhirnya membaca isi undangan tersebut,


"Nggih Pak, minggu besok."


Jawab Ridwan,

__ADS_1


"Berangkat sama saya sekalian saja Ustadz,"


Ajak Pak Haji Imron,


Ridwan sejenak terdiam, ia bingung harus mengiyakan atau tidak, karena ia sudah lebih dulu membuat janji dengan Iis untuk datang menghadiri undangan bersama.


Pak Haji Imron menatap Ridwan yang sepertinya bingung memutuskan.


Sebagai orangtua yang sudah jauh lebih berpengalaman, yang sudah makan banyak asam garam, tentu saja Pak Haji Imron sangat paham jika Ridwan sepertinya telah lebih dulu membuat janji dengan orang lain hingga tak bisa langsung mengiyakan ajakan nya seperti biasanya.


Dan jelas, janjinya kemungkinan besar adalah dengan perempuan.


Pak Haji Imron meletakkan kertas undangan Wisnu dan Anisa di atas meja ruang tamu rumahnya, di dekat cangkir teh miliknya.


Pak Haji Imron berganti meraih cangkir teh itu, yang kini sudah mulai tak terlalu panas.


"Kalau sudah ada janji dengan seseorang, lebih baik pergilah dengan yang pertama, jangan mengecewakan, apalagi jika itu seorang gadis."


Kata Pak Haji Imron seraya tersenyum tipis, sebelum kemudian menyeruput wedang teh nya.


Yang sontak membuat Ridwan terkesiap dan wajahnya langsung terlihat bersemu merah karena malu.


Pak Haji Imron pun demi melihatnya jadi terkekeh, lalu...

__ADS_1


**-------------**


__ADS_2