
"Nanti sore aku jemput ya Nis, kan sebentar lagi bulan puasa, kita ngebaso dulu, udah lama kan nggak makan bareng."
Kata Iis.
Anisa mengangguk.
"Iya Is, aku tunggu ya."
Kata Anisa.
"Oke, mumpung hari ini juga tidak ada jadwal les anak-anak, jadi aku bisa jalan-jalan cari buku."
Ujar Iis.
Anisa tersenyum,
"Kamu mah seneng, bisa melakukan apapun yang kamu sukai dari dulu, sekolah juga jurusannya yang kamu suka, beda sama aku, apa-apa harus apa kata Abah."
Anisa seperti mengeluh.
Iis tersenyum,
"Semua orang akan selalu memandang hidup orang lain itu lebih enak, lebih nikmat, lebih beruntung Nis. Sama dulu aku juga kadang iri padamu, pakai tas saja macam setiap hari bisa ganti model, sementara aku? Selama SMP saja aku cuma punya satu tas, begitu SMA cuma dua tas, pas kuliah, juga pakai tas semasa SMA sampai benar-benar sudah tidak bisa dipakai lagi begitu wisuda."
Iis tertawa kecil.
Kebiasaan Iis yang setiap kali menceritakan kisah sedih hidupnya, ia malah tertawa seolah apapun yang menimpa dirinya hanyalah sesuatu yang ringan saja.
"Tapi banyak orang mengagumimu Is, termasuk aku."
Kata Anisa tulus memuji, ia memang kadang ingin sekali menjadi Iis, baginya Iis adalah salah satu manusia yang terlihat selalu bahagia tanpa pura-pura.
Ia dengan semua kesederhanaannya, dengan sikap dan kata-kata yang apa adanya.
"Ya sudah Nis, aku pamit yah."
Kata Iis menyadari hari telah mulai beranjak siang.
"Oh iya, nanti kamu telat, berangkat gih."
Kata Anisa.
Iis mengangguk.
Tampak Iis kemudian melajukan motornya menjauhi Anisa.
Anisa sendiri berjalan pelan ke arah toko emas milik Abahnya.
__ADS_1
Di sana terlihat karyawan yang jadwal piket pagi ini sudah datang dan sedang menyiapkan toko.
Anisa memilih duduk di kursi depan toko untuk menunggu persiapan para karyawannya selesai.
Tatapannya ke depan tapi pikirannya kembali ke rumah, kembali membayangkan Ridwan yang pagi ini mengantar Mbak Wening berangkat kerja, dan juga Anisa pun memikirkan rencana Mbak Faizah menjadikan Ridwan Guru mengaji Suci dan teman-teman dekat Suci.
Anisa pun lantas teringat saat dulu Ridwan memberinya surat namun ia tak berani membalas,
Selain karena Anisa memang sejak kecil tidak bisa hidup bebas dan selalu dalam pengawasan keluarga, Anisa juga tidak tahu bagaimana mengirimkan balasan surat itu untuk Ridwan.
Anisa sejenak tampak menghela nafas, ia mencoba mengingat-ingat di mana terakhir ia menyimpan surat dari Ridwan dulu.
Yah, sudah hampir sembilan tahun sejak mereka lulus SMP dan kemudian Ridwan dikabarkan masuk pesantren di kota nan jauh.
Dan kini, dia kembali, menjadi pemuda yang semakin tampan, berkharisma, dan terlihat begitu saleh.
Sungguh pasti akan sangat bersyukur jika memiliki imam seperti Ridwan, dan Anisa sungguh akan sangat bahagia jika sampai benar-benar bisa mendapatkan kesempatan itu.
**-----------**
"Wan, buat apa dibersihkan begitu?"
Tanya Ibu melihat Ridwan membersihkan rumput ilalang di pekarangan samping rumah.
"Ini kan bisa ditanami singkong dan ubi Bu, selebihnya kita bisa buat kandang untuk melihara kambing lagi, kan lumayan kalau bisa dijual pas idul qurban."
Kata Ridwan.
Beberapa pohon pisang terlihat sudah berbuah, bahkan sepertinya sebentar lagi akan matang dan siap dipanen.
"Pisangnya sebentar lagi masak ini Bu."
Kata Ridwan menunjuk pohon-pohon pisang di pekarangannya.
"Iyo, itu nanti biasanya dibuat keripik sama Mbak mu, lumayan untuk tambahan tabungan."
Kata Ibu.
Ridwan mantuk-mantuk lalu melanjutkan membersihkan rumput yang tersisa.
Ibu menatap anak laki-lakinya itu sambil tersenyum, sungguh Ibu begitu bersyukur karena Ridwan merupakan anak yang tidak pernah neko-neko, tidak pernah menuntut banyak dari orangtua sebagaimana anak lain semenjak kecil.
Ibu ingat saat dulu Ridwan masih kecil, ia sudah sering membantu Bapaknya mencari rumput untuk makan kambing-kambing peliharaan mereka dan juga kambing-kambing titipan orang untuk bagi hasil.
Ibu juga masih ingat saat dulu masih SD, Ridwan selalu berangkat dan pulang sekolah jalan kaki, tidak pernah bawa uang saku, namun membawa bekal nasi lauk ikan asin dan tumisan seadanya di rumah, nasi itu dibungkus dengan daun pisang.
Begitu SMP, Ridwan sudah mulai mencari uang sendiri. Ia ikut membantu packing di tempat konveksi rumahan yang banyak di daerah Ridwan tinggal, ia akan dibayar setiap minggu, dan dari hasil itu ia gunakan untuk jajan dan transport berangkat sekolah.
__ADS_1
Jika sedang banyak pekerjaan dan Ridwan ambil lembur, maka Ridwan akan dapat upah cukup banyak untuk ukuran anak SMP.
Biasanya, dari lebihan-lebihan itulah, Ridwan akan menabung atau untuk beli buku.
Ibu tanpa terasa menitikkan air mata, rasanya mengenang bagaimana susah payahnya hidup anaknya tersebut membuat Ibu begitu terharu.
Tentu saja, sebagai orangtua pasti semua ingin bisa memiliki uang lebih agar mampu memanjakan anak-anaknya.
Tapi, Ibu tentu saja tak bisa melakukannya, ia yang kemampuan hidupnya sangat terbatas, yang bisa cukup makan saja sudah bersyukur, yang masih bisa menyekolahkan anaknya sampai SMA dan Ridwan melanjutkan kuliah dengan biaya sendiri itu juga buat Ibu tentu adalah karunia dari Allah yang tak terhingga nilainya.
Maka...
Karena itulah Ibu selalu menangis, manakala membaca atau mendengar ayat-ayat dalam surah Ar-rohman,
[Fabiayyi ala irobbikuma tukadzibaan
Maka Nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan?]
Malu...
Malu rasanya hati jika sudah begitu lalu masih banyak mengeluh hanya karena masalah sedikit saja,
Kenapa harus mengeluh, sementara nikmat yang Allah berikan sungguh tiada terhingga banyaknya.
Apalagi untuk Ibu, yang dalam segala keterbatasannya ia bisa memiliki anak sebaik Ridwan, sepenurut Ridwan, sesholeh Ridwan.
Padahal, Ibu bukanlah orang yang cukup ilmu agama, yang sebetulnya mendidik agama pun hanya mengharuskan anak menjaga sholat sejak kecil saja.
Ibu yang fakir ilmu ini, hanya selalu berdoa ingin memiliki anak yang sholeh dan Sholihah, dan Allah mengijabah doanya.
"Bu, ini pepayanya tidak dibuat manisan saja? Atau mau dibiarkan tunggu masak juga?"
Tiba-tiba suara Ridwan mengejutkan Ibu yang tengah memikirkan betapa beruntung memiliki anak seperti Ridwan.
"Oh, nanti saja kamu tanya Mbak mu Wan, sama itu pisang juga biasanya Mbak mu yang mengolah."
Jawab Ibu.
"Oh nggih sampun Bu, nanti Ridwan tanya."
"Wis itu rumput dibakar saja,"
Kata Ibu.
"Enggih Bu, ini kalau dibiarkan nanti bisa banyak ular kan takutnya ada yang masuk rumah kita, lebih takut lagi masuk rumah tetangga, kasihan."
Kata Ridwan.
__ADS_1
Ibu mengangguk setuju.
**------------**