Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
60. Ke mana Anisa


__ADS_3

"Assalamualaikum warrohmatullah..."


Iis menengok ke kanan, lalu...


"Assalamu'alaikum warahmatullah..."


Iis menengok ke sebelah kiri,


Iis baru akan melanjutkan dzikir, ketika terdengar ketukan di pintu utama rumahnya disertai salam,


Iis yang di rumah sedang sendirian karena Ibunya sebelum Asar tadi pamit pergi ke Rumah Sakit dengan para tetangga jenguk anak Pak RT yang melahirkan akhirnya terpaksa berdiri dari duduknya bersila di atas sajadah.


Iis kemudian tanpa melepas mukenahnya bergegas keluar dari kamar dan langsung menuju pintu utama rumah.


"Assalamualaikum..."


Orang di luar sana terus mengucap salam sambil terus mengetuk pintu dengan keras.


"Waalaikumsalam... Sabar... Sabar."


Kata Iis yang kemudian sambil membukakan pintu utama.


Dan...


Mbok Rat berdiri di sana, dengan mata sembab dan tubuh gemeteran,


"Ada apa mbok?"


Tanya Iis melihat Mbok Rat menatapnya dengan tatapan seperti orang yang hendak putus asa.


"Mbak Iis, apa Mbak Iis tahu di mana Mbak Anisa?"


Tanya Mbok Rat.


Iis mengerutkan kening.


"Maksudnya Anisa pergi?"


Tanya Iis, tampak Mbok Rat mengangguk,


"Mbak Anisa pergi tapi tidak tahu ke mana Mbak, ia pergi sepertinya sejak siang, tanpa pamit padaku ataupun pamit ke orang rumah lainnya."


Iis lantas mengajak Mbok Rat masuk ke dalam rumah agar bisa lebih leluasa bicara,


"Duduk Mbok, aku simpan mukenah dulu."


Ujar Iis.


Mbok Rat menurut Iis untuk duduk di kursi ruang tamu, sedangkan Iis berjalan ke kamarnya untuk melepas dan menyimpan mukenah miliknya.


Setelah Iis melepaskan mukenah dan melipatnya, serta ia letakkan di atas sajadah yang ia kemudian gulung, Iis keluar dari kamar lagi.


Iis berjalan ke dapur, mengambilkan air untuk Mbok Rat, baru akhirnya ia kembali ke ruang tamu dengan segelas air putih untuk mbok Rat.


"Minum dulu Mbok."


Kata Iis pada Mbok Rat sambil menyerahkan air minum itu.


Mbok Rat mengangguk, ia meraih gelas air minum yang dibawakan Iis.

__ADS_1


Diteguknya air minum itu hingga habis dan barulah setelah itu Mbok Rat mulai sedikit lebih tenang.


"Apa Anisa tidak ke toko hari ini Mbok?"


Tanya Iis.


Mbok Rat menggeleng,


"Pagi tadi kan ada kejadian besar di rumah Pak Haji, Mbak Anisa menangis sejak pagi sampai akhirnya ketiduran. Terakhir saya lihat itu Mbak Anisa masih tidur, saya mau tanya dia ingin dimasakan apa untuk makan siang, tapi karena Mbak Anisa tidur lelap, saya tak berani ganggu."


Tutur Mbok Rat.


"Kejadian apa lagi sampai Anisa nangis seharian? Mbak Faizah lagi?"


Tanya Iis.


Mbok Rat mengangguk,


"Mbak Faizah dan Abahnya, tampaknya buntut dari Mbak Anisa semalam pulang dari rumah Bu Sundari Mbak."


"Astaghfirullah..."


Iis terlihat mengurut kening,


"Pak Haji baru datang dini hari tadi sebetulnya, tapi Mbak Faizah malah bicara soal masalah tak enak, Pak Haji marah, lalu jadi kena semuanya."


"Semua?"


Iis menatap Mbok Rat yang mengangguk,


"Iya Mbak, tadi pagi Mbak Wening disidang karena Mbak Anisa ketahuan suka dengan Ridwan. Mbak Iis tahu kan? Ridwan adiknya Mbak Wening, yang mengajar ngaji Suci juga sebetulnya dan baru dua kali pertemuan kemarin, sabtu dan minggu."


"Ya Allah... Bagaimana mereka akhirnya tahu? Aku sudah berusaha menutupi."


"Surat Mbak, ada surat Ridwan jaman dulu yang diterima mbak Anisa yang disimpan Abahnya. Sepertinya, Pak Haji memang sudah tahu hubungan Mbak Anisa dan Ridwan akan berlangsung sampai akhirnya mereka dewasa."


"Ya Allah..."


Iis ikut lemas mendengarnya,


"Mbak Wening dimaki-maki dan dihina-hina Mbak, Pak Haji dan mbak Faizah juga memang keterlaluan sekali kalau saya nilai, tidak masalah jika memang tidak ingin Mbak Anisa dengan Ridwan, tapi seharusnya tidak perlu sampai menghina begitu."


Kata Mbok Rat.


"Pasti Mbak Anisa sangat terpukul Mbak, ia antara sedih, malu dan pastinya hancur melihat serta mendengar setiap ucapan Pak Haji dan Mbak Faizah soal Ridwan pada Mbak Wening."


Iis menghela nafas, sungguh ia tak bisa membayangkan, seperti apa perasaan Anisa saat itu.


"Mbak Faizah bahkan sampai hati menuduh Mbak Wening bekerja sama dengan Ridwan masuk ke dalam rumah mereka untuk pura-pura bekerja, mereka saling bantu untuk bisa nantinya memuluskan rencana Ridwan agar menjadi menantu Pak Haji dan akhirnya bisa mendapatkan warisan dari Pak Haji."


"Astaghfirullah..."


Iis ternganga tak percaya ada tuduhan sekeji itu.


"Ba... Bagaimana bisa Mbak Faizah menuduh sejauh dan sejahat itu? Astaghfirullah..., ia sungguh telah gelap mata. Padahal aku sudah jelas mengatakan padanya untuk lebih membuka diri mendengarkan Anisa."


Kata Iis.


Mbok Rat meneguk air minumnya lagi,

__ADS_1


"Itulah Mbak Iis, itulah kenapa Mbak Anisa bisa sampai histeris seharian, ia bahkan sempat menjerit karena pasti saking bingungnya harus bereaksi apa."


"Lalu bagaimana Mbak Wening?"


Tanya Iis.


"Mbak Wening langsung mengundurkan diri, ia jelas marah dan tersinggung dengan tuduhan keji mereka."


Kata Mbok Rat.


Iis mengangguk.


"Ya pasti, pasti itu."


"Tapi sepertinya itu juga tak berpengaruh bagi Pak Haji dan Mbak Faizah, mereka merasa bahwa mereka tetap akan bisa menemukan karyawan lain, banyak orang butuh pekerjaan, mereka merasa bisa menggaji orang, jadi perginya Mbak Wening tak juga mereka hiraukan."


Iis mengangguk,


"Ya, jangankan perasaan mbak Wening, perasaan Anisa yang jelas keluarga mereka saja tampaknya mereka tak peduli."


Ujar Iis.


Mbok Rat mengangguk mengiyakan.


"Betul Mbak Iis, mereka sungguh-sungguh tak peduli pada Mbak Anisa, saya saja sampai tak tega melihat Mbak Anisa. Rasanya sejak Uminya meninggal, tekanan yang dirasakan Mbak Anisa sangat berat dan kini semakin berat."


Ujar Mbok Rat.


Iis mengangguk.


"Ya Mbok."


Iis kemudian meraih hp nya dari saku gamis yang ia pakai, ia coba mencari nomor Anisa, dan kemudian ia hubungi nomor Anisa yang tidak aktif.


"Nomornya tidak aktif, saya juga sudah hubungi sejak tadi Mbak, kalau aktif saya juga tidak akan sepanik ini."


"Mbak Faizah dan Pak Haji apakah juga sudah tahu kalau Anisa pergi?"


Tanya Iis.


"Mbak Faizah belum pulang dari toko, kalau pak Haji sepertinya pergi ada kepentingan entah apa, paling beliau akan pulang malam nanti."


Iis menghela nafas,


"Ke mana Anisa kira-kira? Dia tidak punya banyak teman untuk dituju."


Ujar Iis.


Mbok Rat mengangguk,


"Betul Mbak, kan temannya Mbak Anisa itu ya cuma Mbak Iis. Selama ini Mbak Anisa kan sangat tertutup, sejak lulus SMA dan kemudian kuliah akhirnya keluar tak mau meneruskan juga kan Mbak Anisa sama sekali tak ada teman lagi."


Kata Mbok Rat.


Iis mengiyakan,


"Anisa sangat menutup diri karena ia tak nyaman dengan dirinya sendiri yang merasa tak bisa menikmati hidup dengan caranya sendiri Mbok. Anisa itu selama ini hidup dalam kekangan Mbak Faizah dan Pak Haji, aku bisa memaklumi Anisa sangat tertutup selama ini."


Kata Iis.

__ADS_1


Mbok Rat jadi menangis mengingat Anisa yang memang hidupnya begitu malang.


**--------------**


__ADS_2