
Suara debur ombak terdengar menyambut Anisa dan Wisnu yang datang dengan mobil mereka.
Anisa tampak menghela nafas saat akhirnya ia bisa melihat lautan setelah sekian lama.
Yah lautan di depan sana, hamparan pasir di depan sana, dan deretan pohon kelapa serta beberapa warung yang terbuat dari pondok kayu berjejeran.
"Kita cari parkiran dekat warung makan langgananku."
Ujar Wisnu, tampak Anisa pun mengangguk.
Setelah akhirnya mobil Wisnu dibawanya ke arah warung yang sama sebagaimana warung lainnya, hanya saja parkirannya cukup luas, Wisnu pun memarkirkan mobilnya di sana.
"Kalau mau ke laut, lepas saja sandalnya."
Kata Wisnu pula.
Anisa tampak mengangguk, ia lalu melepas sandalnya, lalu turun dari mobil dengan tanpa alas kaki.
Sepoi angin khas pantai pun berhembus dari lautan, membuat jilbab Anisa meriap-riap terkena hembusan anginnya.
Wisnu tampak turun kemudian dari mobilnya, ia juga tak memakai alas kaki,
"Lewat sini Nis."
Kata Wisnu pada Anisa menunjukkan jalan ke arah kiri mereka memarkirkan mobilnya.
Anisa segera menyusul langkah Wisnu, lalu menjajari untuk berjalan bersama menuju bibir pantai.
"Kamu sepertinya sering ke sini."
Kata Anisa.
Wisnu tampak nyengir,
"Ya lumayan."
Sahut Wisnu.
Anisa tersenyum meski kemudian tertunduk,
Ah sungguh cantik wajah gadis ini, ditambah ia tersenyum tersipu seperti itu, rasanya Wisnu bisa jatuh cinta lagi jika terus menerus Anisa tersenyum demikian.
"Kamu tahu kenapa aku suka pantai?"
__ADS_1
Tanya Wisnu pada Anisa, ketika akhirnya langkah mereka sampai di depan pantai tersebut,
Tampak Anisa menggeleng pelan, bingung tentu saja Anisa jika diminta harus menjawab soal kenapa Wisnu menyukai pantai.
Wisnu lantas tatapannya kini jauh ke depan sana, di mana kini lautan terbentang luas dengan debur ombak tipis-tipis.
Anisa mengikuti tatapan Wisnu ke arah lautan di depan sana.
"Untukku laut mengajarkan banyak hal.".
Lirih Wisnu,
Anisa sejenak memandang Wisnu di sebelahnya.
"Laut mengajarkan kita untuk pandai menyimpan rahasia tentang diri kita sendiri, laut juga mengajarkan kita tak mudah berubah sebagaimana rasa airnya yang tak berubah-ubah, laut mengajarkan kita untuk hidup sangat bermanfaat dengan bisa menjadi tempat berbagi kehidupan dengan berbagai mahluk."
Kata Wisnu, membuat Anisa terdiam
"Laut juga mengajarkan kita agar bisa membuat hati kita luas, cara pandang dan berpikir kita juga luas. Jika kita membuat pikiran, pandangan kita seluas Lautan, maka kita bisa menjadi sosok yang lebih bijaksana Nis."
Anisa lantas menatap lautan di depan sana.
"Dan aku menyukai lautan karena dulu saat kecil aku sering diajak jalan-jalan oleh Pak Dhe."
Anisa jadi kembali mengalihkan pandangannya ke arah Wisnu.
Tampak Wisnu tersenyum,
"Ya Nis, Pak Dhe, kedua orangtuaku yang selama ini kalian kenal, sejatinya adalah kakak Ibuku, lebih tepatnya kakak kembar Ibuku."
Tutur Wisnu lirih, diiringi suara debur ombak di lautan. Anisa terkesiap,
"Kakak kembar?"
Anisa seperti bertanya, seakan memastikan bahwa ia tak salah dengar,
"Ya Nis, Bu Dhe Sundari adalah kakak kembar Ibuku. Beliau meninggal kecelakaan bersama Ayahku ketika aku masih balita, dan di sinilah akhirnya aku menjadi anak Bu Dhe Sundari yang tak bisa memiliki keturunan."
Kata Wisnu.
Mendengar penuturan Wisnu, seketika Anisa pun langsung lemas,
Sungguh ia tak menyangka jika ini ternyata jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benaknya sejak bicara dengan si Mbok rewang di rumah lama Wisnu yang ia tempati.
__ADS_1
"Pertama aku tahu jika aku bukan anak kandung rasanya hatiku benar-benar hancur Nis, aku merasa seperti seluruh dunia telah membohongiku."
Kata Wisnu, membuat Anisa merasa seperti ikut nelangsa,
"Ada dorongan untuk aku membenci mereka karena tidak jujur padaku sejak awal, bertahun-tahun aku terus bergelut dengan perasaanku Nis, sampai pada satu titik aku sadar jika aku tak bisa seperti itu terus. Aku tak bisa menyalahkan siapapun atas takdirku, apalagi pada Bu Dhe dan Pak Dhe ku yang telah merawatku dengan sangat baik."
"Suatu ketika, saat aku kuliah, aku melihat kecelakaan di mana korbannya suami isteri dan anaknya balita hidup, aku seperti melihat diriku sendiri, saat anak itu digendong orang di pinggir jalan, yang bukan siapa-siapanya, batinku seperti menjerit, mengingat betapa seharusnya aku bersyukur karena Bu Dhe ku dengan tulus mengadopsi aku dan mencurahkan kasih sayangnya untukku sampai aku dewasa."
"Sejak itu, aku belajar bersyukur Nis, sekecil apapun kebaikan yang aku terima aku syukuri, siapapun yang berbuat baik padaku sekecil apapun aku anggap itu adalah hadiah dari Allah untukku."
"Nisa, kamu tanya apa aku merasa terbebani saat menuruti kemauan orangtua yang menginginkan aku melakukan hal yang tak sesuai dengan keinginanku? Maka inilah alasannya kenapa aku menjawab tidak Nis."
Sejenak Wisnu menghela nafas, menatap lurus lautan yang terbentang luas sepanjang batas penglihatan,
"Karena keinginanku untuk mengeluh lebih sedikit dibanding banyaknya aku mensyukuri keberadaan mereka di saat orang tua kandungku tidak ada."
Ujar Wisnu.
Anisa yang terdiam di sebelahnya tanpa terasa menitikkan air mata.
"Aku tak akan menasehatimu macam-macam Nisa, aku hanya ingin kamu mulai menjadi Anisa yang lebih berbahagia karena fokus pada semua hal baik yang ada pada dirimu, mungkin kamu tidak tahu banyak orang cemburu dengan apa yang ada padamu, yang kamu bahkan lupa mensyukuri itu."
Kata Wisnu, membuat Anisa akhirnya benar-benar berurai air mata.
"Pada dasarnya manusia hanya ada dua PR Nisa, yaitu belajar sabar dan syukur. Apapun yang kita anggap ujian, pasti akan bermuara pada jawaban yang sama, yaitu sabar dan syukur, yang jika kita sudah mengerti lalu meraihnya, maka kita akan bisa dekat dengan Allah, dan kita akan bahagia."
Wisnu kemudian menatap Anisa yang menangis di sebelahnya.
Wisnu mengulurkan tangannya, menepuk-nepuk punggung Anisa dengan lembut.
"Aku mengerti banyak pertentangan batin yang sedang kamu alami, aku ikut sedih ketika kamu sedih, ini sebabnya aku menceritakan semuanya padamu, agar kamu mengerti bahwa setiap manusia selalu memiliki titik sakit yang sama. Kita hanya tidak tahu, bagaimana masing-masing orang mengatasi itu."
Lirih Wisnu masih sambil menepuk-nepuk punggung Anisa dengan lembut.
Anisa menyeka air matanya yang terus berurai membasahi wajah cantiknya.
Dadanya begitu sesak, namun sekaligus juga merasa ada ketenangan yang entah kenapa menyusup di dalamnya.
Anisa merasa menemukan sesuatu yang berbeda di titik yang sekarang, sesuatu yang berbeda bersama Wisnu.
Meski Wisnu terlihat tak sesholeh Ridwan, nyatanya laki-laki itu telah mampu meraih ketenangannya sendiri dengan sabar dan syukur sebagaimana yang Allah kehendaki.
Anisa menghela nafas, meski air matanya masih terurai namun sejatinya hatinya telah tenang dibandingkan beberapa waktu terakhir ini.
__ADS_1
**--------------**