
Iis duduk di tepi tempat tidur, dilihatnya Anisa yang hari ini berseri-seri.
Meski kedua matanya terlihat sembab, tapi Iis bisa merasakan jika Anisa dalam keadaan jauh lebih baik.
Jauh di lubuk hati Iis yang paling dalam, sebagai sahabat ia merasa senang melihat Anisa yang pelahan mulai bisa tersenyum cerah.
Tidak seperti sebelum-sebelumnya yang Anisa meskipun tersenyum, ia tampak jelas sedang tidak baik-baik saja.
Anisa terlihat sibuk mengeluarkan buku-buku dari paper bag, lalu menata buku-buku Iis di rak buku koleksi Iis.
Sejak dulu, Iis memang anak literasi, ia bahkan pernah ingin mendirikan rumah baca untuk anak-anak.
Sayangnya, minat anak-anak Indonesia untuk membaca buku sangatlah kurang, dibandingkan negara lain, Indonesia termasuk negara yang minat membacanya cukup rendah. Terutama untuk buku-buku sejarah.
"Harusnya kamu tadi ketuk aja pintu ruang untuk mengaji anak-anak."
Kata Anisa, setelah selesai menata buku di rak lalu ia memilih duduk di samping Iis.
"Aku tidak enak, sepertinya kamu sedang bicara serius dengan pak ustadz."
Kata Iis.
Anisa menghela nafas,
"Kami hanya membicarakan soal Umi, aku mendengar ia menuturkan kisah seorang anak sholeh yang selalu mengirimkan doa untuk orangtuanya, aku jadi teringat Umi."
Kata Anisa.
Iis menatap wajah Anisa, wajah cantik alami yang tak terpoles make up.
"Tapi, dengan kamu membicarakan masalah Umi, hubungan kalian mulai saat ini bisa semakin dekat Nisa, harapanmu untuk bersama Ridwan mungkin akan bisa terwujud dan ini cara Allah membukakan jalannya."
Ujar Iis.
Anisa mengangguk.
"Iya Is, kami memang akhirnya bisa bertukar nomor hp, aku bahagia sekali."
Dan wajah Anisa bersemu merah, tersipu malu saat mengatakan betapa ia bahagia akhirnya bisa bertukar nomor hp dengan Ridwan.
Iis berusaha memaksakan senyumannya demi sahabatnya itu.
"Syukurlah Nisa, jodoh tak akan ke mana, jika memang kalian ditakdirkan bersama, nanti juga ada saja jalannya, tapi jika tidak..."
"Jangan..."
Anisa tiba-tiba menyela lalu menggeleng,
"Jangan teruskan Iis, aku baru saja memulainya, aku hanya ingin memikirkan hal baik saja."
Ujar Anisa sambil menatap Iis,
Kedua mata beningnya seolah merobek hati Iis, menyadarkan Iis bahwa ia hampir saja membuat Anisa mendengar kalimat yang akan menyedihkannya.
Ya...
Jika tidak berjodoh, kalian mau seperti apapun berusahanya, tetap tidak akan bisa berjodoh.
"Ya Nisa, maaf."
Iis akhirnya mengucap maaf, Anisa tertawa kecil,
__ADS_1
"Tidak apa, aku tahu kamu sedang tidak enak badan, pasti malas mendengarkan kisahku dengan Ridwan, kamu istirahatlah, benar kata Ibu, mumpung libur kamu harus istirahat, biar aku saja yang bantu Ibu memasak."
Ujar Anisa sambil beranjak berdiri.
"Tidak usah, nanti kamu capek."
Iis menahan tangan Anisa.
Anisa tersenyum,
"Aku ingin sekalian belajar masak Is, supaya seperti kamu, pandai memasak makanan enak, aku juga ingin bisa seperti itu, bisa jadi perempuan yang pinter masak, supaya bisa jadi isteri dan Ibu yang baik nantinya."
Mendengar kata-kata Anisa akhirnya Iis melepaskan tangannya dari tangan Anisa.
"Ya baiklah."
Iis mengangguk.
"Pokoknya, kamu rehat, aku hari ini yang akan jadi asisten Ibumu."
"Nisa, kamu tidak ke toko hari ini juga harusnya untuk libur kan?"
"Ah tidak apa Is, sekali-kali, biar Mbak Faizah yang jaga toko, toh Mbak Faizah yang sebetulnya ingin sekali memiliki toko itu, aku hanya pura-pura tidak tahu saja."
Kata Anisa.
Iis tersenyum pada Anisa.
"Ya, sabarlah, bagaimanapun dia kakakmu."
Kata Iis.
Anisa mengangguk.
Anisa lalu bersiap pergi dari kamar Iis,
"Kamu rehat ya, nanti kalau sudah matang aku bangunkan."
Anisa menyunggingkan senyuman kecil, Iis mengangguk ke arahnya yang kini berjalan keluar kamar melewati tirai pintu.
**---------------**
"Assalamualaikum..."
Ridwan setelah tadi mengajar anak-anak di rumah Pak Haji Syamsul, Ridwan langsung diminta datang ke tempat Pak Haji Imron.
"Ada yang ingin bertemu nak Ridwan,"
Begitu kata Pak Haji Imron.
Maka karena itu, Ridwan akhirnya dari rumah Pak Haji Syamsul langsung menuju rumah Pak Haji Imron.
Dan benar saja, begitu sampai di sana, tampak tiga orang laki-laki berpenampilan rapi yang katanya ingin bertemu Ridwan terlihat sudah menunggu di ruang tamu rumah Pak Haji Syamsul.
"Waalaikumsalam..."
Jawab semuanya.
Lalu...
"Nah ini yang namanya nak Ridwan, monggo Nak Ridwan masuk, monggo... monggo..."
__ADS_1
Pak Haji Imron mempersilahkan Ridwan yang masih berada di ambang pintu untuk masuk ke dalam rumah.
Ridwan pun menurut, ia masuk dengan kaki kanannya, lantas menyalami tiga orang laki-laki yang sedang bersama Pak Haji Imron.
Setelah bersalaman dengan semuanya, Ridwan pun duduk di samping Pak Haji Imron.
"Begini Nak Ridwan, ini anak-anak Pak Sahudi, ceritanya, Pak Sahudi itu meninggalkan wasiat, beliau ingin mewakafkan salah satu bidang tanahnya untuk membuat yayasan rumah Tahfiz dan juga pondok untuk anak-anak yatim dari janda yang tidak mampu."
Pak Haji Imron mewakili keluarga Pak Sahudi.
"Alhamdulillah, mulia sekali."
Kata Ridwan.
"Nah, beliau-beliau ini anaknya semuanya sibuk, ini Mas Dirga bekerja di Pertamina di Bontang, yang ini Mas Anjar bekerja di kementerian luar negeri, sementara Mas Bagas ini menjadi pilot maskapai terbesar di Indonesia."
Ujar Pak Haji Imron lagi.
Ketiga laki-laki yang duduk di depan Pak Haji Imron ini tampak mengangguk santun.
Ridwan tentu saja diam-diam mengagumi ketiganya, mereka sukses dan anak orang kaya, tapi sama sekali tidak ada kesan arogan.
"Jadi begini Nak Ridwan."
Pak Haji Imron menjadi juru bicara untuk membuka pembicaraan agar nantinya bisa langsung jelas.
"Beliau-beliau ini, karena keterbatasan waktu, ingin memberikan amanah ini kepada saya, tapi saya katakan pada beliau-beliau bahwa saya ini lho sudah sepuh, takutnya, khawatirnya, belum selesai pembangunan rumah tahfiz dan pondoknya, saya sudah meninggal lebih dulu."
Kata Pak Haji Imron.
Ridwan yang semula mengangguk dan tersenyum, tiba-tiba saja menjadi cemas,
"Jadi, saya berikan nama Nak Ridwan kepada beliau-beliau ini, karena saya rasa Nak Ridwan selain lebih muda, juga lebih mumpuni. Nak Ridwan bisa mengajar ngaji, dan juga layak jika mengasuh pondok untuk anak-anak."
"Ya Allah, tidak begitu, ilmu saya belumlah seberapa."
Ridwan langsung menyanggah, ia selalu merasa berkecil hati jika dianggap memiliki ilmu tinggi.
Ia merasa tidak begitu.
"Tolong kami Pak Ustadz, kami ini sangat buta dengan agama, Bapak juga mungkin merasa begitu. Bahkan sepanjang hidup beliau, belum pernah beliau naik haji, padahal secara ekonomi kami, maaf, berkecukupan."
Laki-laki bernama Mas Dirga yang sepertinya anak sulung menjelaskan.
"Kemarin setelah Bapak dimakamkan, seorang saudara mengatakan pada kami seharusnya Bapak itu juga sudah berhaji, kalau uang ada dan manusianya dalam keadaan sehat lalu tidak melaksanakan Haji, berarti orang itu sama saja berhutang, dan tentu saja kami tidak ingin Bapak kami nanti di akhirat kesulitan karena hal itu."
"Maka kami juga ingin memberangkatkan Pak Ustadz untuk naik haji untuk Bapak kami."
Ridwan merasa tubuhnya kini bergetar, ia merasa apa yang ada di depannya ini amanah yang terlalu besar dan ia takut.
"Kami minta tolong sekali Pak Ustadz, kami minta tolong anda meringankan kami untuk melaksanakan wasiat Bapak kami."
Ujar Mas Dirga lagi.
"Pembangunan rumah tahfiz dan pondok akan kami biayai sepenuhnya, bahkan untuk operasional. Satu hektar tanah Bapak yang di kampung ini juga rencananya hasil panennya akan diberikan untuk menyokong kebutuhan pondok."
Tambah Mas Anjar adik dari Mas Dirga.
Ridwan terdiam, bingung harus menjawab apa,
"Nak Ridwan, anda memiliki ilmunya, sementara beliau-beliau ini memiliki harta yang ingin bermanfaat, apalagi ada wasiat baik dari sang Bapak di masa sakitnya menuju wafat yang pastinya berharap sekali ada sebagian harta beliau yang bisa sampai pada umat, saya harap Nak Ridwan bersedia membantu mereka."
__ADS_1
Kata Pak Haji Imron.
**-------------**