Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
73. Sebuah Perjalanan


__ADS_3

Ridwan duduk termangu di kursi tengah mobil di belakang Pak Karto yang fokus mengemudikan mobilnya.


Di samping Pak Karto, tampak Pak Haji Imron yang sibuk bicara di telfon dengan salah satu anak Pak Sahudi yang akan mereka segera temui di Jakarta.


"Oh nggih siap Pak Bagas, berarti kami ini langsung ke hotel atau bagaimana?"


"Ooh iya baik, baik, nggih."


Pak Haji Imron begitu serius bicara di telfon.


Ridwan menatap sepanjang jalan tol yang mereka lewati.


Matahari cukup terik bersinar, membuat penglihatan mata Ridwan sedikit silau.


Kampungnya sudah cukup jauh sekarang ia tinggalkan, di mana Ibu dan Mbak Wening kini pasti terus mendoakan keselamatannya di perjalanan.


Ridwan menghela nafas, apa yang jadi keputusannya ini akan mengantarnya pada dua titik sekaligus.


Titik pemegang amanah yang sangat besar di hadapan Allah, dan juga titik di mana ia akan terlihat sangat sukses di mata manusia.


Ya sukses,


Tentu saja Ridwan akan langsung terlihat seperti itu.


Ia akan menjadi pengurus sebuah yayasan, yang gedungnya langsung akan dibangun, di sana juga akan ada pengelolaan aset yang cukup banyak yang dihibahkan oleh Pak Sahudi, dan masih banyak hal lain yang bisa jadi bahkan tak terbayang oleh Ridwan.


Dan...


Saat nanti Ridwan telah berada di titik itu, di mana mungkin akan makin banyak orang mengenalnya, memujanya, membanggakan dirinya, saat itu, apakah masih bisa Pak Haji Syamsul dan Mbak Faizah mencaci maki dirinya?


Masih bisakah mereka merendahkan dirinya?


Masih bisakah mereka menganggap bahwa pemuda seperti Ridwan yang merupakan lulusan pesantren tidak akan memiliki masa depan?


Masih bisakah mereka?


Ridwan tiba-tiba merasa ada dendam yang membakar dadanya begitu memikirkan semuanya kembali.


Meski pada akhirnya Ridwan beristigfar karena tenggelam dalam amarahnya kembali, tapi tetap saja niat ingin membuktikan pada Pak Haji Syamsul rasanya tak mampu hilang begitu saja.


Ya...


Ridwan jelas ingin sekali membuktikan bahwa ia tak serendah itu. Bahwa lulusan pesantren tak bisa dipandang serendah itu.


Ridwan juga ingin Pak Haji Syamsul dan Mbak Faizah mengakui bahwa Ridwan layak mencintai Anisa, bahkan jika cinta itu kemudian Ridwan seriuskan ke jenjang pernikahan sekalipun, Ridwan ingin membuktikan bahwa itu juga layak.


"Nak Ridwan,"


Tiba-tiba terdengar suara Pak Haji Imron memanggil. Ridwan yang tengah memikirkan perlakuan Pak Haji Syamsul dan Mbak Faizah itupun jadi terkejut.


"Oh nggih Pak Haji, maaf..."

__ADS_1


Ridwan seperti gugup karena ketahuan sedang melamun dan tidak konsentrasi.


Pak Haji Imron tampak mesem tipis, seolah memaklumi Ridwan yang belakangan jadi sering melamun.


Ya, tentu...


Siapa yang tak akan terguncang mengalami hal semacam Ridwan.


Pak Haji Imron bahkan terus saja menyayangkan apa yang dilakukan Pak Haji Syamsul tempo hari di masjid saat ia datang-datang langsung menuduh Ridwan membawa lari dan menyembunyikan Anisa.


Bahkan bukan hanya itu, Pak Haji Syamsul juga seperti menuduh Ridwan menggunakan cara licik untuk mendapatkan anak gadisnya karena tak mampu meraih restu Pak Haji Syamsul.


Sungguh Pak Haji Imron pun sampai mengelus dada melihat sikap dan mendengar perkataan-perkataan tak pantas yang diucapkan Pak Haji Syamsul pada Ridwan.


Jangankan yang disampaikan secara terang-terangan di depan khalayak ramai, ibarat kata jika setiap kata yang disampaikan lewat tulisan yang hanya Ridwan saja yang membaca pun pasti tetap saja rasanya itu tidak pantas.


Pak Haji Syamsul jelas menunjukkan arogansinya sebagai seorang kaya, seorang yang memiliki kedudukan, seorang yang merasa memiliki nama terhormat di tengah masyarakat karena status sosialnya yang jelas jauh di atas rata-rata.


"Nak Ridwan, nanti kita istirahat dulu di hotel, pertemuan baru bisa dilakukan malam hari jadinya nak, karena Pak Bagas masih ada di Kepulauan Seribu."


Kata Pak Haji Imron.


Ridwan tampak mengangguk,


"Nggih Pak, saya manut saja."


Ujar Ridwan, Pak Haji Imron tersenyum, lalu kembali melihat ke arah depan di mana jalanan mulai tambah padat.


**----------**


"Sudah ada kabar Ridwan sampai belum Ning?"


Lagi-lagi Ibu bertanya pada Mbak Wening.


Mbak Wening yang sedang menyetrika jadi bolak balik melihat hp lagi.


"Belum Bu, kayaknya nanti paling jam dua."


Kata Mbak Wening.


Ibu dari dapur berjalan sambil membawa satu piring telur dadar.


Siang ini karena Mbak Wening banyak setrikaan, akhirnya Ibu yang memasak, meski hanya masak telur dadar saja dan sambal kecap biasa.


"Lama ya, berarti Jakarta itu jauh yo Ning."


Kata Ibu.


"Lha yo jauh to Bu, kalau dekat itu pasar."


Kata Mbak Wening.

__ADS_1


"Halah jan lambemu kuwi, Jakarta kok disamakan pasar."


Kata Ibu yang lantas meletakan piring telur dadar buatannya.


Ajeng sendiri yang tadi pagi kehilangan Pamannya sempat nangis, akhirnya diijinkan Mbak Wening main ke sawah dengan teman-temannya.


"Nanti juga kasih kabar Bu, jangan khawatir, Ibu makan dulu saja, lalu sholat, nanti kalau Ridwan kasih kabar Wening kasih tahu."


Kata Mbak Wening.


Ibu mengangguk -angguk.


"Ibu sholat dulu sajalah Ning, biar bisa lebih tenang."


Kata Ibu.


Mbak Wening mengangguk,


"Nggih begitu juga tidak apa-apa Bu, jadi sekalian mendoakan Ridwan cepat sampai tujuan."


Kata Mbak Wening,


"Iyo Ning, pokoknya Ibu ini sejak kejadian Pak Haji Syamsul itu, setiap kali memikirkan adikmu rasanya hancur hati Ibu Ning, sedih sekali rasanya, nelangsa Ning, kasihan sekali dia jadi anak orang tidak punya seperti Ibu ini, coba kalau dia anak Pak Haji Imron, pasti tidak akan berani Pak Haji Syamsul menghina dia hanya karena jatuh cinta pada anak gadisnya."


Kata Ibu dengan mata berkaca-kaca.


Mbak Wening menghela nafas,


"Sebetulnya kalau Ridwan mencintai gadis selain Anisa juga tidak akan seperti itu Bu, ndilalah saja Ridwan kok yo jatuh cintanya sama Anisa, bukan sama Bu Guru Iis itu lho, sudah manis, baik, rajin, sama orangtua berbakti."


"Yo kan namanya hati, perasaan, opo lho bisa dipaksa, bisa diarahkan sesukamu."


Ibu geleng kepala,


"Yo bisa to Bu, wong kalau kita malas sholat saja bisa kita paksa biar mau sholat kok, apalagi cuma perkara suka dan tidak suka pada seseorang."


Ibu menghela nafasnya,


"Wislah Ning, Ibu mau sholat saja, malah pusing lho ini ngomong sama kamu."


Ujar Ibu.


"Ikh Ibu, wong Wening ini lagi bicara serius lho, ini kan demi Ridwan Bu, kita itu harus mengarahkan Ridwan supaya nantinya ganti haluan, ganti perempuan lain kalau mau jatuh cinta apalagi milih jadi isteri."


Mbak Wening tetap menggebu.


"Iyo... Iyooo Ning, iyoooo..."


Sahut Ibu lalu pergi ke belakang rumah untuk ambil wudhu mau sholat.


**-----------**

__ADS_1


__ADS_2