
"Sopo?"
Tanya Haji Syamsul begitu Anisa kembali duduk di sebelahnya.
"Temen Bah."
Jawab Anisa menghindari tatapan Abahnya dengan menyibukkan diri memeriksa nota orang beli emas di toko mereka yang diletakkan di meja kasir untuk diperiksa.
"Jangan sembarangan berteman dengan laki-laki."
Kata Haji Syamsul, yang sebetulnya samar-samar ia ingat tadi sepertinya ia sempat melihat pemuda itu di depan rumah.
"Itu kan Ridwan, Bah, dulu sekolah di SMP yang sama dengan Nisa sebelum Ridwan masuk pesantren."
Kata Anisa sambil menimbang ulang kalung untuk mencocokan dengan tulisan pelayan di nota.
"Oh jadi cuma lulusan pesantren jadinya."
Kata Haji Syamsul yang kini menghitung uang.
"Sepertinya sambil sekolah kok Bah."
Kata Anisa lagi.
"Sekolahan di sekitar pondok itu kebanyakan ya sekolahan asal-asalan saja, tidak bermutu tinggi, makanya lulusannya juga paling mentok ya kerjanya itu-itu saja."
Haji Syamsul terkesan sekali merendahkan pesantren, membuat Anisa hatinya begitu menyesalkan dengan apa yang dikatakan Abahnya.
Sungguh tidak pantas Abah sudah berhaji malah bicaranya seolah tanpa saringan, belum lagi seperti merendahkan pesantren yang merupakan pusat pendidikan agama untuk para generasi muda.
Apa jadinya jika tidak ada pesantren?
Yang ada pastinya semakin banyak anak muda yang tak tahu agama, belum lagi tidak adanya regenerasi ustadz dan ustadzah yang akan dengan baik membagi ilmu mereka.
Anisa menghela nafas.
"Kalau mau memilih laki-laki itu yang masa depannya jelas."
Anisa diam saja mendengarnya perkataan Abahnya.
Ia tahu maksud Abahnya yang langsung wanti-wanti memberikan peringatan supaya Anisa jangan sampai nekat dekat dengan Ridwan.
"Kami cuma teman sekolah Abah, tidak perlu berlebihan."
Lirih Anisa.
"Abah juga pernah muda, tahu bagaimana saat seseorang menyukai lawan jenis, sudah jelas pemuda tadi itu menyukaimu, Abah bisa tahu hanya dengan sekilas melihat saja."
Anisa yang mendengar kata-kata Abahnya sampai membuat pulpen yang Anisa pegangi untuk menandatangani nota pembelian kalung jadi jatuh ke bawah meja.
Jelas sekali Anisa langsung salah tingkah dibuat oleh Abah.
__ADS_1
Haji Syamsul menggelengkan kepalanya,
"Wisnu itu, cocok nantinya sama kamu, lagipula usaha keluarganya itu pas dengan kita. Dia bisa bantu kamu nanti mengurus toko ini."
Ujar Haji Syamsul.
Anisa diam saja, hatinya kembali tak karuan.
Sejak semalam dan pagi tadi Mbak Faizah terus saja membicarakan soal sosok anak bibi Sundari itu, kini Abahnya pun juga sama.
Anisa yang enggan nanti malah ribut dengan Abah, akhirnya memilih diam saja.
Anisa tak mau menanggapi apapun kata-kata Abahnya.
Biar saja, biar Abahnya bicara apa yang dia mau.
Anisa menyibukkan diri memeriksa nota lainnya, menimbangi lagi perhiasan yang akan dibeli.
**---------------**
Sekitar setengah jam Ridwan di pasar untuk membeli kemeja dan juga titipan Ibunya, maka Ridwan pun pulang.
Saat pulang Ridwan berusaha menghindari lewat depan toko mas milik haji Syamsul lagi.
Dengan mengayuh sepeda, Ridwan pulang ke rumahnya.
Di jalan, Ridwan sempat melihat ada tukang jualan es dawet, Ridwan pun beli dua bungkus untuk di bawa pulang.
"Assalamualaikum..."
Ridwan mengucap salam,
"Waalaikumsalam..."
Jawab Ibu dan dua orang tamunya.
"Lho, Bu... Ini kan..."
"Iyo Bu, ini Ridwan, baru pulang ini tiga hari lalu."
Ujar Ibu.
Ridwan membungkuk memberi salam pada kedua teman Ibunya, yang salah satunya adalah ketua pengajian di RW tempat Ridwan tinggal.
"Wah tampan sekali lho ya..."
Puji Ibu satunya, yang Ridwan tak begitu kenal, atau mungkin Ridwan lupa karena memang sudah cukup lama ia tidak berada di rumah, andai katapun pulang, ia hanya satu dua hari saja di rumah, lalu akan berangkat lagi.
Ridwan lalu permisi masuk ke ruang dalam, lalu meletakkan bungkusan es dawet di atas meja makan, dan juga titipan Ibunya, yaitu bawang putih dan juga ketumbar.
Ridwan lalu menuju kamarnya, ganti kaos rumahan, baru membawa baju barunya ke belakang rumah untuk dicuci lebih dulu.
__ADS_1
"Wan... Ridwan..."
Terdengar suara Ibunya memanggil,
"Nggih Bu..."
Ridwan yang baru akan merendam kemeja barunya, akhirnya terpaksa meninggalkan kemejanya di ember dan kembali masuk rumah memenuhi panggilan Ibu.
"Ada apa Bu?"
Tanya Ridwan.
"Itu, Bu Sulis mau tanya sebentar."
Kata Ibu.
Ridwan mengangguk, lalu mengikuti Ibu ke ruang tamu lagi.
"Maaf Nak Ridwan, jadi ganggu ya."
Kata Bu Sulis,
"Oh tidak apa-apa Bu, pripun Bu?"
Tanya Ridwan,
"Itu Nak Ridwan, cucu saya kebetulan rewel sekali kalau di suruh ngaji, apa kalau nak Ridwan bersedia, bisa tidak cucu saya les privat nak, diajari ngaji di rumah, sekalian saja pelajaran lainnya, belajar sholat juga, doa-doa juga."
Kata Bu Sulis, si ketua pengajian RW.
Ridwan diam sejenak, lalu....
"Maaf Bu, apa tidak ada ustadz lain di sekitar?"
Tanya Ridwan pula,
"Duh cucu saya ini rewel sekali nak, sudah tiga ustadz yang sampai menyerah, makanya ini barangkali nak Ridwan bersedia."
Ridwan tampak memandang ke arah ibunya, meminta pendapat, Ibu tersenyum,
"Tidak apa-apa Wan, dibantu diajari Cucunya Bu Sulis."
Kata ibu, Ridwan pun akhirnya mengangguk, menurut pada Ibu.
"Alhamdulillah kalau begitu, besok nak Ridwan ke rumah nggih."
Kata Bu Sulis.
"Pokoknya biaya berapa kita ikut saja "
Tambah Bu Sulis.
__ADS_1
**-------------**