
Jam mendekati setengah enam petang, saat Ridwan akhirnya sampai di rumahnya.
Hujan telah reda, tinggal sisa angin yang lembab dan masih sedikit basah yang mengenai kulit.
Matahari yang telah condong ke barat terlihat mulai tenggelam diselimuti warna lembayung senja.
Sebentar lagi adzan Maghrib akan terdengar berkumandang di setiap mushola dan masjid, Ridwan menghentikan motornya di halaman rumah, lalu segera turun seraya melepas helm nya.
Tas ransel yang sejak ia masih di pesantren di gendongan terlihat setia menemani. Menempel pada punggung di mana di dalamnya terdapat beberapa buku catatan dan juga bacaan Ridwan.
Wajah Ridwan terlihat begitu cerah hari ini. Sangat cerah dengan senyuman yang terus terkembang seolah tanpa jeda.
"Assalamualaikum..."
Ridwan membuka pintu depan rumahnya yang langsung terdengar suara berderit.
"Waalaikumsalam..."
Terdengar kemudian suara menyahut dari dalam.
Ridwan berjalan masuk ke dalam rumah, tampak Ibu yang baru keluar dari kamar Ajeng.
"Bu."
Ridwan menghampiri Ibunya, menyalami dan mencium punggung tangannya seperti biasa.
"Pulangnya kok sore sekali Wan?"
Tanya Ibu.
Ridwan tampak tersenyum, lalu dengan sedikit tersipu malu, Ridwan menjawab pertanyaan Ibunya,
"Tadi dari kantor yayasan, langsung mampir ke rumah Bu Iis, Bu."
__ADS_1
Ujar Ridwan.
Mendengar nama Iis disebut, tiba-tiba dari dalam kamar Ajeng, Mbak Wening melongok,
"Sopo yang dari rumah Bu Guru Iis?"
Tanya Mbak Wening kepo sekaligus kepo,
Ibu tampak geleng-geleng kepala sekaligus tersenyum, karena sudah bisa dipastikan Mbak Wening akan sibuk menggoda Ridwan.
"Aku Mbak."
Jawab Ridwan yang tak bisa bohong.
Mbak Wening langsung senyum-senyum dikulum,
"Nopo Mbak, aku hanya mampir untuk kepentingan yayasan yang sedang butuh orang untuk menempati posisi sekretaris karena yang kemarin orangnya mengundurkan diri."
Meskipun...
Ridwan malah senyum-senyum sendiri yang tentu saja jadi mengundang kecurigaan Mbak Wening,
"Kenapa senyum-senyum begitu?"
Tanya Mbak Wening sambil ikut-ikutan senyum-senyum jadinya.
Ridwan cepat-cepat menggeleng,
"Tidak Mbak, tidak apa-apa."
Kata Ridwan salah tingkah yang kemudian langsung cepat permisi ke kamar menghindari tatapan Mbak Wening yang tampak menyelidik.
"Wis to Ning, kamu ini suka sekali menggoda adikmu."
__ADS_1
Kata Ibu mengingatkan,
Mbak Wening tertawa jadinya.
"Lho biar to Bu, kan ini demi Ridwan juga, yang kapan lagi dapat calon isteri yang paket komplit seperti Bu Guru Iis. Pokoke, Bu Guru Iis itu tidak usah diceploki telor juga sudah istimewa."
Ujar Mbak Wening, yang selalu saja memakai perumpamaan sendiri.
Ibu menghela nafas,
Lha wong perempuan mana yang mau istimewa saja harus diceploki telor.
"Kamu katanya mau beli sate, sudah mau maghrib nanti malah keburu malam."
Kata Ibu mengingatkan Mbak Wening yang sudah janji pada Ajeng.
"Tenang Bu, nanti sebentar lagi juga datang satenya."
Kata Mbak Wening, membuat Ibu yang tahunya Mbak Wening sedang bercanda jadi geleng-geleng kepala saja.
"Ibu mau nyeduh teh saja buat Ridwan."
Ujar Ibu sembari kemudian melangkah menuju dapur, Mbak Wening lantas masuk kembali ke kamar untuk mengambil hp nya, dan langsung sibuk mengirim pesan pada seseorang.
Satenya tidak lupa kan?
Tanya Mbak Wening di dalam pesan singkatnya pada seseorang.
Oh, tenang saja Ning, ini tinggal dibungkus, setelah itu aku langsung meluncur.
Jawab seseorang itu, yang tentu saja membuat Mbak Wening senyum-senyum sendiri sebagaimana Ridwan yang saat ini di kamar juga sama tampak senyum-senyum.
**--------------**
__ADS_1