
Ridwan membawa langkahnya dengan gontai masuk ke dalam rumah, saking kacaunya hati dan pikirannya saat ini, ia bahkan sampai lupa mengucap salam.
Ibu yang kebetulan berpapasan dengan Ridwan di ambang pintu pembatas ruang tengah dan ruang tamu jadi yang mengucapkan salam lebih dulu,
"Assalamualaikum..."
Kata Ibu, mengejutkan Ridwan yang tampak sekali tengah tenggelam dalam pusaran pikirannya sendiri.
"Astaghfirullah..."
Ridwan tampak sangat malu begitu didapatinya sang Ibu kini berdiri di hadapannya seraya menatapnya.
"Waalaikumsalam... Bu."
Ridwan akhirnya menjawab salam Ibunya.
Ibu tersenyum,
"Apa yang mengganggumu sampai lupa mengucap salam?"
Tanya Ibu prihatin.
Ridwan tampak menunduk, rasanya sungguh malu sekaligus menyesal, bagaimana bisa perkara dunia sampai melalaikannya atas hal yang biasa ia lakukan?
Astaghfirullah...
Ridwan sampai harus berulangkali mengucap istighfar dalam hati karena begitu lalainya ia hari ini.
"Jika ada beban yang begitu berat kamu pukul sendirian, ceritakan pada Ibu, siapa tahu Ibu bisa membantu, atau setidaknya itu bisa mengurangi kegundahanmu nak."
Ujar Ibu lembut,
Ridwan seketika matanya tampak berkaca-kaca, hatinya terasa tergetar karena rasa haru dan sekaligus ada satu titik rasa syukur karena ia telah meyakinkan diri untuk membuat keputusan yang begitu berat bagi hatinya.
Ya..
Apalagi jika bukan tentang melepaskan salah satu mimpi terbesarnya atas Anisa.
Memiliki gadis secantik Anisa, cinta pertamanya. Gadis yang membuat semua terlihat begitu indah apabila memikirkannya.
Ibu dengan lembut meraih lengan putranya, membawanya ke ruang tamu untuk duduk di kursi ruangan tersebut.
"Duduklah, dan ceritakanlah, agar kau lega. Agar di waktu Asar nanti bebanmu sudah sedikit berkurang, dan bisa fokus ibadah serta mengabdi lagi berbagi ilmu dengan banyak orang."
Kata Ibu.
Ridwan yang duduk di samping Ibu tampak menghela nafas, ditenangkannya hatinya sebelum akhirnya ia mulai bercerita pada sang Ibu.
**-------------**
Flashback,
"Bisa saya bicara dengan Anisa sebentar Mas?"
Ridwan meminta ijin pada Wisnu, yang tentu saja dijawab anggukan oleh Wisnu.
Ridwan lantas masuk ke dalam rumah lama Wisnu lagi.
Anisa sudah tak ada di sana, sepertinya ia memilih masuk ke kamar atau mungkin memilih kembali ke teras samping di mana ia biasa duduk di sana.
__ADS_1
Wisnu mengalah masuk lebih dulu ke ruang dalam, menanyakan Anisa ada di mana pada si Mbok.
"Mbak Nisa di gazebo belakang Mas, nangis."
Kata si Mbok.
Wisnu lantas berjalan ke halaman belakang, di mana di sana ada kolam renang kecil yang dulu digunakan untuk latihan renang Wisnu saat masih SD.
"Nisa."
Panggil Wisnu dengan suaranya yang lembut,
Anisa menyeka air mata yang membasahi wajahnya, ia tampak berusaha menghindari tatapan mata Wisnu.
Wisnu membawa langkahnya mendekati gazebo di mana Anisa berada, lantas duduk di sebelahnya,
"Ustadz Ridwan ingin bicara, aku rasa kalian memang harus bicara banyak Anisa, supaya sama-sama lega. Aku yakin banyak hal yang ingin kamu sampaikan, pun juga dengan beliau."
Kata Wisnu begitu bijak dan sangat gantle,
"Jika dia sudah memutuskan untuk bersama Iis, untuk apa bicara lagi denganku."
Lirih Anisa.
"Dan untuk apa sebetulnya kamu memintanya datang?"
Tanya Anisa heran.
Kali ini Anisa tampak memberanikan diri menatap Wisnu dengan kedua matanya yang sembab.
"Aku tak ada maksud apapun, bahkan aku baru tahu jika laki-laki Istimewa itu adalah Ustadz Ridwan yang kini datang."
Anisa menghela nafas,
Ia jelas tak bisa bicara apa-apa lagi, karena memang kenyataannya ia tak bisa menyalahkan Wisnu soal ini.
"Berilah waktu untuk Ustadz Ridwan dan juga untuk dirimu sendiri Anisa. Kita sebagai orang yang tengah tumbuh dan belajar dewasa, harus membiasakan diri menyelesaikan masalah, bukan menghindarinya."
Kata Wisnu lagi.
Anisa lagi-lagi pelahan menghela nafas,
Berat rasa hati dan sungguh sesak di dalam dadanya, mendapatkan kenyataan Ridwan tiba-tiba datang bersama Iis.
Ya Iis, sahabat yang telah ia anggap saudara sendiri.
Kenapa?
Kenapa harus Iis?
Meskipun dirinya tak berjodoh dengan Ridwan, kenapa perempuan itu harus Iis?
Sakit hati Anisa.
Namun, kata-kata Wisnu yang ia dengar ada benarnya juga. Bahwa paling tidak harusnya Anisa bisa memberikan waktu untuk Ridwan menjelaskan semuanya, sebagaimana Anisa juga harus memberikan kesempatan pula pada dirinya sendiri tentang semua yang sebenarnya terjadi.
Sampai pada akhirnya setelah ia memikirkan semuanya dengan baik, Anisa pun kemudian memutuskan menganggukkan kepalanya
"Baiklah."
__ADS_1
Ucap Anisa,
Wisnu pun tersenyum, ia menepuk-nepuk lembut punggung Anisa,
"Everything is gonna be okay."
Kata Wisnu,
Anisa tampak mencoba mengangguk lagi, meskipun dadanya terasa hampir pecah.
Wisnu beranjak dari gazebo di mana ia dan Anisa duduk, tampak pemuda itu berjalan masuk ke dalam rumah untuk kembali menemui Ridwan yang tengah bicara serius dengan Iis di ruang tamu.
"Pak Ustadz, silahkan."
Kata Wisnu mempersilahkan dengan sopan pada Ridwan.
Ridwan pun permisi sebentar pada Iis untuk masuk ke dalam guna menemui Anisa.
Wisnu mengantar hingga sampai pintu menuju halaman belakang, menunjuk ke arah gazebo di mana Anisa berada, lalu setelahnya meninggalkan Ridwan yang pelahan melangkah menghampiri Anisa.
"Assalamualaikum..."
Ucap Ridwan,
"Waalaikumsalam..."
Jawab Anisa lirih dengan tetap memilih menunduk di tempatnya duduk.
Ridwan tak mengambil tempat untuk duduk juga di gazebo itu.
Pemuda itu tetap memilih berdiri saja, pun juga Anisa tak berniat untuk mempersilahkan Ridwan duduk di gazebo yang sama dengannya.
Maka, dengan jarak kurang lebih dua meter dari Ridwan berdiri dan Anisa duduk di gazebo, Ridwan pun memutuskan bicara,
"Anisa, waktuku tak terlalu banyak, tapi yang jelas, aku ingin minta maaf untuk semuanya lebih dulu. Maaf untuk apapun yang aku lakukan secara sengaja maupun tidak yang menurut mu salah, termasuk adalah saat aku memutuskan mengirim surat yang mungkin terkesan lancang karena tidak menyadari bahwa status keluarga kita yang sangat jauh berbeda."
"Anisa, sesungguhnya aku diminta datang oleh Mas Wisnu semula adalah ingin membantunya meyakinkan Anisa, bahwa cara satu-satunya melindungimu yang bisa Mas Wisnu lakukan dalam restu orang tua dan keridhoan Allah adalah dengan cara menikahimu. Aku yang merasa bahwa Mas Wisnu adalah laki-laki yang sama sekali tak ada cela, tentu saja ini adalah karunia untuk mu Anisa."
Terdengar suara Ridwan tergetar, Anisa yang mendengar jadi tersedu-sedu.
"Sungguh, aku sebagai laki-laki yang mencintaimu, melepasmu bersama Mas Wisnu adalah hal yang terbaik yang bisa aku lakukan. Aku yakin ia jauh lebih baik daripada aku dalam segala hal, ia bukan hanya punya cinta yang tulus Anisa, tapi ia juga memiliki masa depan yang cerah, dan memiliki kemampuan melindungimu secara nyata bukan hanya sekedar mimpi."
"Lalu kamu bagaimana? Apa tidak ada yang ingin kamu lakukan untuk memperjuangkan aku?"
Lirih Anisa sedih,
"Apa semua karena keluargaku?"
Tambah Anisa pula.
Ridwan menghela nafas, lalu...
"Yang terbentang di antara kita adalah restu Ayahmu yang merupakan wali syah mu Anisa, dan aku juga restu Ibuku, yang tentu saja itu adalah di atas segalanya karena itu terkait dengan keridhoan Allah."
Suara Ridwan semakin tergetar, Anisa mengusap dadanya yang sesak,
"Ikhlaskan lah smeuanya Anisa, kita memang tidak ditakdirkan untuk berjodoh. Aku tidak apa-apa, karena aku tahu kamu akan bersama laki-laki yang jauh di atas aku kebaikannya."
Flashback berakhir,
__ADS_1
**------------**