Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
157. Mohon Doa


__ADS_3

Wisnu membawa mobilnya menuju rumah Anisa, hari ini ia akan menjemput Anisa lagi untuk sama-sama ke makam Uminya Anisa.


Setelah itu, mereka juga berencana akan ke makam orangtua Wisnu juga di kota sebelah.


Kota yang membutuhkan waktu kurang lebih dua jam untuk sampai ke sana jika memakai kendaraan pribadi, tentu dengan catatan jalanan sedang normal tak ada kendala macam macet karena banjir atau misal kecelakaan lalu lintas dan lain sebagainya.


Ya, Wisnu memang sengaja pergi ke rumah Anisa saat hari masih cukup pagi agar waktu untuk mereka pergi ke makam kedua orangtua kandung Wisnu cukup leluasa.


Hanya selang lima menit dari sejak Wisnu berpapasan dengan Ridwan di pertigaan jalan saat akan ke arah kampung, Wisnu akhirnya sampai di kediaman salah satu orang terkaya di Desa Waru.


Seorang laki-laki yang menjaga pintu pagar utama, tampak tergopoh membukakan pintu pagar yang dijaganya begitu melihat kedatangan mobil Wisnu.


Pastinya, penjaga pintu pagar di rumah Pak Haji Syamsul sudah sangat hafal mobil calon menantu majikannya.


Wisnu pun melajukan mobilnya memasuki halaman rumah Pak Haji Syamsul, sesampainya tepat di pelataran depan bangunan utama, Wisnu menghentikan mobilnya dan kemudian turun dari sana.


Ia membawa buah tangan, satu tas berisi dua dua kue dari salah satu toko ternama.


Wisnu lantas berjalan ke arah bangunan utama rumah, di mana Anisa muncul dari pintu depan.


Anisa sudah terlihat siap pergi, ia bahkan turun dari teras sebelum Wisnu benar-benar sampai di sana.


"Ayuk langsung saja."


Kata Anisa.


Wisnu tentu saja celingak-celinguk.


"Mau langsung?"


Tanya Wisnu.


Anisa mengangguk.


"Kita pergi langsung pakai mobil saja,"


Ujar Anisa.


"Lho, bukannya kita mau ke makam Umi?"


Wisnu agak bingung,


"Ya kita tetap ke makam Umi, kan kita bisa pakai mobil nanti diparkir di depan area pemakaman."


Terang Anisa.


Wisnu pun akhirnya menganggukkan kepalanya,


"Ya baiklah,"


Sahut Wisnu yang jelas tak berminat untuk berdebat.


Wisnu mengulurkan tangannya yang membawa oleh-oleh tas berisi dua kotak kue.


"Untuk di rumah, bisa kan dibawa masuk dulu?"


Tanya Wisnu.


Anisa menatap Wisnu, tampak gadis itu menghela nafas, lalu...


"Baiklah, aku bawa ke dalam, tunggu sebentar, aku akan langsung kembali."

__ADS_1


Kata Anisa akhirnya menurut.


Wisnu tampak tersenyum sembari menatap calon isterinya lekat-lekat.


"Tunggu ya, sebentar."


Kata Anisa,


"Iya, aku tunggu, selama ini kan aku juga nungguin kamu Nis."


Seloroh Wisnu membuat Anisa membulatkan matanya yang memiliki bulu mata lentik.


Wisnu jadi tertawa,


"Apa sih."


Anisa jadi sedikit salah tingkah dibuatnya.


Gadis itu lantas menenteng tas berisi dua kotak kue oleh-oleh Wisnu untuk dibawanya ke dalam rumah.


Wisnu sendiri memilih masuk mobil dan kembali menyalakan mesin mobilnya sembari menunggu Anisa keluar dari rumahnya lagi.


**--------------**


Sementara itu, Ridwan dan Iis juga baru saja sampai di sekolahan tempat keduanya mengajar.


Kedatangan keduanya yang bersama-sama, di tambah pula berboncengan tentu saja langsung mengundang kekepoan alam semesta.


Iis bahkan sampai harus pamit pada Ridwan untuk masuk kantor lebih dulu karena kebetulan di parkiran ada beberapa Guru yang datang hampir bersamaan, termasuk juga Pak Guru Hasan.


Pak Guru Hasan, yang meskipun laki-laki namun lumayan berbakat jadi penggosip itu jelas langsung menghampiri Ridwan dengan begitu banyak pertanyaan macam wartawan infotainment.


Kata Ridwan berusaha meyakinkan Pak Guru Hasan yang seolah ingin Ridwan berterus terang ada apa sebetulnya dengan Iis.


"Ah jangan berbohong Pak Ridwan, bagaimana bisa Pak Guru agama mau berbohong seperti ini?"


Kata Pak Guru Hasan terus mencecar Ridwan saat keduanya sama-sama berjalan menuju kantor Guru.


Ridwan jadi tertawa geli,


"Kenapa to pak Hasan?"


Tanya Ridwan akhirnya karena merasa pak Guru Hasan terlalu kepo dan itu aneh untuk seorang laki-laki. Karena tentu saja biasanya laki-laki tidak akan peduli dengan hal-hal semacam itu.


"Tidak apa-apa, hanya penasaran saja, soalnya baru kali ini saya lihat Bu Guru Iis dibonceng laki-laki."


Ujar Pak Guru Hasan.


Ridwan tampak tersenyum, lalu memilih tak berkomentar apapun lagi dan meneruskan langkahnya menuju kantor Guru di mana di sana Iis juga ternyata sedang jadi bulan-bulanan di goda sana sini.


"Sudah Bu, cepetan di resmikan."


"Kapan undangannya?"


"Bu Guru Iis nih diam-diam ya..."


Semua benar-benar sibuk menggoda Iis, karena memang baru kali ini mereka melihat Iis dekat dengan teman laki-laki sampai mereka berangkat bersama.


"Assalamualaikum..."


Ridwan mengucap salam, yang bukannya berlomba untuk saling cepat menjawab salam, mereka malah langsung menggoda Ridwan juga.

__ADS_1


Dan hanya Iis saja yang terlihat menjawab salam Ridwan meski dengan suara lirih.


"Waalaikumsalam..."


Dan dari meja di belakang meja Iis, Bu Windi melontarkan pertanyaan,


"Kapan dong ini Pak Ridwan?"


Tanya Bu Windi menggoda,


Ridwan tersenyum seraya berjalan menuju mejanya sendiri.


"Kapan apa Bu?"


Tanya Ridwan pura-pura tidak paham.


Iis terlihat di mejanya wajah nya sudah benar-benar merah seperti tomat.


Ah ini benar-benar ide nekat mereka berangkat sama-sama, apalagi satu motor berboncengan pula.


"Ya kapan makan-makannya? Kapan diresmikannya? Kapan undangannya?"


Bu Guru Windi terus menggoda keduanya.


Ridwan tampak tersenyum.


Berbeda jika ada di depan Ibunya di mana Ridwan akan dengan mudah jadi salah tingkah dan gugup setiap kali digoda Mbak Wening, di depan orang lain Ridwan justeru terlihat cukup percaya diri.


Malah Iis yang terlihat begitu gugup dan salah tingkah karena seperti tak tahu harus bagaimana.


"Cepetan lah, biar kita bisa kondangan."


Ujar yang lain.


"Kirain Pak Guru Agama kalau mau nikah cukup ta'aruf langsung jadi, ternyata ada acara boncengan dulu juga."


Pak Guru Hasan julid.


Ridwan hanya tersenyum menanggapi,


"Ya kan pak Guru agama juga manusia kali Pak."


Ujar Bu Guru Windi,


"Tidak seperti yang kalian bayangkan kok, sungguh, percayalah."


Kata Iis akhirnya berusaha meyakinkan semuanya.


"Kita tidak membayangkan Bu, kita melihat."


Seorang Bu Guru yang sebetulnya seperti cemburu berkomentar.


Iis jadi tersenyum kecut.


Ridwan pun memutuskan menyela.


"Ya buat teman-teman, doakan saja yang terbaik buat kami."


Ujar Ridwan akhirnya.


**-------------**

__ADS_1


__ADS_2