
Dini hari jam dua pagi, Ridwan menatap langit yang masih mencurahkan gerimis tipis. Ia berjalan ke kamar mandi dengan handuk di letakkan di atas kepala.
Sejak di pesantren, Ridwan terbiasa bangun di jam dua pagi dan akan mandi untuk kemudian sholat malam.
Selain karena ia di pesantren sambil sekolah dan mengharuskan berangkat pagi, sementara kamar mandi akan sangat antri jika pagi hari, Ridwan juga merasa mandi selepas tidur sangat menyegarkan.
Seperti dini hari ini pun, ia mandi lebih dulu, baru setelah itu ia melaksanakan sholat malam.
Dan malam ini, Ridwan tampak sangat khusuk.
Lebih khusuk dari biasanya.
Selepas Sholat, ia terlihat berdzikir dalam hening, mencoba menyatukan diri dengan sepinya alam semesta.
Hingga sampai pada satu titik, entah kenapa tiba-tiba Ridwan teringat akan kisah Rosulullah Shalallahu Alaihi Wassalam menikah dengan perempuan sholihah, Siti Khadijah.
Mengingat riwayat Siti Khadijah yang bahkan sampai mendapatkan salam dari Allah dan Malaikat Jibril karena beliau perempuan sholihah, isteri sholihah.
Sosok Siti Khadijah yang anggun, cerdas, bijaksana, tutur kata dan sikapnya yang selalu mampu menenangkan suami, rajin ibadah, dermawan, dan segala sifat baiknya, adalah ketauladanan sempurna untuk setiap perempuan muslimah di dunia.
Dan...
__ADS_1
Tentu saja, teramat sangat beruntung laki-laki yang apabila mendapatkan kesempatan bertemu dan mampu menikah dengan perempuan yang mendekati apa yang ada pada diri Siti Khadijah.
Ya...
Perempuan yang baik, perempuan yang rajin ibadah, yang lembut tutur kata dan sikapnya, yang santun lagi hatinya penuh kasih sayang, ia juga cerdas, namun tidak tinggi hati dan tak keras kepala.
Ridwan sejenak menghela nafas, manakala akhirnya ia teringat sosok Iis.
Ridwan juga kemudian ingat kata-kata Ibunya Iis lagi, tentang permintaannya untuk menitipkan Iis pada Ridwan.
Menitipkan anak gadisnya pada Ridwan, tentu saja yang Ridwan pikirkan adalah maksud Ibunya Iis adalah Ridwan menikahi Iis.
Iis, gadis itu nyatanya memang istimewa, dan Ridwan tak menampik hal itu.
Mengandalkan bedak tebal dan gincu, penampilan cetar berkiblat pada selebriti tanah air.
Lupa...
Lupa jika bukan hanya itu yang harus dilakukan seorang muslimah.
Bukan hanya memperindah cover tanpa membangun kualitas isi.
__ADS_1
Lupa, bahwa kelak ketika ia jadi Ibu, ia akan mendapatkan amanah yang teramat besar.
Bukan hanya mengandung, melahirkan dan menemani anak tumbuh, melainkan ia harus juga menjadi sosok yang pintar karena akan menjadi madrasah pertama untuk anak-anaknya.
Ia juga harus memberikan nasehat dan sekaligus juga contoh ketauladanan bagi anak keturunannya.
Ya...
Betapa sesungguhnya begitu besar amanah untuk seorang wanita.
Itulah kenapa pula wanita sebagai ibu adalah menjadi tiang negara.
Hancur perempuannya, maka secara otomatis hancur pula generasinya.
Dan kita...
Ya...
Kita menuju ke sana.
Ridwan tertunduk, menatap kedua telapak tangannya yang kemudian ia tengadahkan.
__ADS_1
"Ya Allah, sungguh saya mendapati satu permintaan dari seorang Ibu untuk menikahi putrinya yang baik. Apa yang harus saya lakukan? Haruskah saya menerimanya? Sungguh tak ada yang mengetahui baik dan buruk sebuah perkara kecuali Engkau ya Allah, jika memang ia jodoh baik bagi hamba, berikanlah kemudahan jalannya, jika sebaliknya juga mudahkanlah untuk hamba untuk bisa memberikan pengertian tanpa menyakiti."
**---------------**