
"Hari ini sarapannya beli saja nggih Bu? Gas nya habis."
Kata Mbak Wening melongok ke arah belakang rumah di mana Ibunya sedang menjemur mukenah dan sajadah yang baru saja dicuci.
Ibu memang selalu mencuci mukenah dan sajadah sendiri, sementara untuk baju dicucikan Mbak Wening.
"Beli di Mbok Yem saja Ning, gorengan sama tumisan."
Kata Ibu,
"Oh nggih Bu, Wening ke Mbok Yem sekarang wis, takut habis tumisannya."
Ujar Mbak Wening.
"Kalau ada sayur gudeg beli Ning buat siang."
Kata Ibu pula, lalu membuang sisa air di ember yang untuk membawa cucian mukenah barusan.
Dibuang di atas tanah halaman belakang rumah, lalu membawa embernya ke sumur untuk di letakkan di sana.
Mbak Wening masuk ke ruang dalam untuk bersiap ke tempat Mbok Yem, sementara di belakang Ibu menyapu halaman dengan sapu lidi.
Hari masih cukup pagi, masih setengah enam saat Mbak Wening melihat jam.
Ridwan keluar dari kamar hampir bersamaan dengan Ajeng yang juga keluar dari kamarnya dan Mbak Wening.
Ajeng tampak rambutnya acak-acakan dan tangannya sibuk mengucek matanya yang sepet.
"Ibu mau ke Mbok Yem, nanti Ibu pulang beli sarapan kamu harus sudah mandi lho Jeng."
Ujar Mbak Wening,
Ajeng mantuk-mantuk,
"Bu, tumbas bakwan sayure yang garing."
Pesan Ajeng.
"Iyo, nanti Ibu minta yang garing."
Kata Mbak Wening.
"Mbok Yem masih jualan to Mbak?"
Tanya Ridwan yang tampak mengambil kunci motornya dari paku yang ada di samping pintu kamarnya dan juga di dekat cermin berbentuk oval yang digantung di dinding di antara pintu kamar Ridwan dan pintu kamar Mbak Wening.
Mbak Wening yang tengah sibuk memakai jilbab dan mematut diri di depan cermin oval itupun tampak mengangguk mengiyakan.
"Masih jualan cuma tidak seperti dulu jualannya, cuma di dapur saja, jadi kalau mau beli juga ke dapur rumah, masuknya harus lewat samping."
Kata Mbak Wening,
"Warungnya memangnya kenapa mbak?"
__ADS_1
Tanya Ridwan.
"Kan warungnya itu ikut bagian depan rumah yang ditinggali anaknya, jadi warungnya dibongkar, Mbok Yem pindah jualan di belakang rumah."
"Oalah, lho yo kasihan yo Mbak, kan jadi tidak banyak yang tahu."
"Yo pancene, tapi gimana lagi, itu juga dapur untuk jualan sekalian Mbok Yem tidur juga di situ, sama ada kamar mandi juga sudah tidak layak."
Kata Mbak Wening menuturkan kisah sedih Mbok Yem.
"Wis ah, malah jadi ngobrol, tek pergi dulu,"
Kata Mbak Wening yang lantas bergegas keluar rumah membawa sepeda ontelnya.
Ridwan juga berjalan ke ruang depan, lalu mengeluarkan motonya juga untuk dibawa ke halaman agar bisa dipanaskan.
Udara pagi di kampung terasa begitu sejuk dan segar, angin yang berhembus dari area persawahan seolah mengiring laju sepeda ontel Mbak Wening yang menyusuri jalanan kampung tersebut.
Rumah Mbok Yem ada dekat balai desa, jaraknya tak terlalu jauh dari rumah Mbak Wening.
"Ning..."
Seorang emak menyapa saat Mbak Wening melintas dengan sepedanya, emak-emak yang rumahnya hanya selang beberapa rumah saja dari rumah Mbak Wening itu terlihat sedang menyapu halaman.
"Nggih Bu, monggo..."
Sahut Mbak Wening yang sambil mengayuh sepedanya.
Mbak Wening menghentikan sepedanya di samping rumah Mbok Yem yang ditempati anaknya, lalu berjalan sebentar ke arah bagian yang ditempati Mbok Yem di mana pintunya yang usang dibuka lebar dan tampak ada asap pawon yang keluar dari celah-celah rumah bagian atas.
"Assalamualaikum..."
Ucap Mbak Wening seraya mengetuk pintu rumah Mbok Yem.
Mendengar salam Mbak Wening, tampak Mbok Yem menoleh ke arah pintu sambil menjawab salam Mbak Wening,
"Waalaikumsalam..."
Mbak Wening lantas masuk ke dalam bilik yang berfungsi untuk segala macam untuk Mbok Yem.
Bilik yang semula dapur dan kamar mandi dan kini juga berfungsi untuk jualan dan sekaligus tinggal mbok Yem.
"Tumbas gorengan Mbok."
Kata Mbak Wening,
"Ooh nggih, sebentar nunggu pesanan Bu Guru Risma selesai nggih."
Kata Mbok Yem.
Mbak Wening mengangguk lalu mendekati Mbok Yem untuk ikut duduk di bangku pendek dekat Mbok Yem di depan pawon.
Di dekat Mbok Yem, terlihat baskom ukuran sedang bermotif loreng berisi gorengan yang sangat menggoda.
__ADS_1
Gorengan buatan Mbok Yem yang terkenal garing, renyah dan gurihnya pas itu bisa dibilang memang salah satu gorengan paling enak di kampung Waru.
Mbok Yem juga masih setia menggunakan pawon untuk menggoreng gorengannya, itu sebabnya gorengan Mbok Yem juga bisa dibilang paling khas aromanya, dibandingkan dengan gorengan di tempat lain yang sudah memakai kompor gas.
"Ini Bu Guru yang pesan Mbok?"
Tanya Mbak Wening menunjuk baskom berisi gorengan yang sangat menggiurkan.
"Iya itu Mbak, buat dibawa ke sekolahan, setiap pagi pesan buat dibawa ke sekolahan."
Kata Mbok Yem,
"Oalah, lumayan ya Mbok,"
Mbak Wening ikut senang mendengarnya,
"Nggih Mbak, alhmdulillah, ini jadinya bisa untuk harian, lima puluh ribu kan buat saya uang besar Mbak."
Ujar Mbok Yem.
Mbak Wening mantuk-mantuk, lalu dilihatnya seluruh bagian ruangan tempat tinggal Mbok Yem, termasuk dipan kayu yang hanya digelari kasur lantai tipis yang sepertinya bekas entah siapa.
Entah bekas anaknya sendiri, atau jangan-jangan bekas salah satu tetangga yang iba melihat kondisi Mbok Yem.
Mbak Wening juga melihat atap yang sepenuhnya tampak hitam karena terkena asap dari pawon setiap hari.
Beberapa gentengnya terlihat melorot, yang jika turun hujan, maka bisa dipastikan ruangan itu akan kebanjiran, hingga lantas akhirnya disiasati Mbok Yem dengan meletakkan beberapa ember dan baskom di bawah beberapa genteng yang melorot.
Tak terasa mbok Yem sudah menyelesaikan pesanan Bu Guru Risma.
Ia lantas mengambil wadah dus kue yang selalu sudah disediakan oleh Bu Guru Risma dari rumah hingga Mbok Yem tak perlu repot menyiapkan bungkus.
"Mbak Wening mau berapa gorengannya?"
Tanya Mbok Yem.
"Tujuh ribu Mbok,"
Jawab Mbak Wening,
"Tumisannya apa Mbok hari ini?"
Tanya Mbak Wening seraya berdiri lalu berjalan ke arah meja kayu dekat Mbok Yem, dan bersebelahan dengan rak piring yang kakinya sudah patah dan harus di ganjal batu bata.
Mbak Wening membuka tutup-tutup wadah masakan, ada sayur nangka disantan warna kuning, ada tumisan kulit melinjo dicampur potongan tempe kemarin, dan juga satu lagi ada ikan pindang disambeli.
"Bungkus tumisan dan sayur nangkanya sekalian nanti nggih Mbok, sama ikan pindang sambalnya juga."
Kata Mbak Wening pada Mbok Yem yang kini mulai menggoreng lagi, sibuk memasukkan tangannya ke adonan lalu mengeluarkan tempe yang sudah dicampur adonan untuk masuk ke dalam minyak panas.
Lalu...
**---------------**
__ADS_1