
Flashback setengah jam lalu,
Ridwan dan Pak Haji Imron tampak masih duduk di serambi masjid bersama marbot Masjid sambil mengobrol tentang rencana pembangunan gedung untuk yayasan minggu depan.
Ketika kemudian terlihat Wisnu keluar dari dalam masjid lalu ikut bergabung dengan Pak Haji Imron berserta Ridwan.
"Sampun Mas Wisnu?"
Tanya Pak Haji Imron berbasa-basi.
Wisnu mengangguk,
"Sampun Pak Haji,"
"Alhamdulillah,"
Pak Haji Imron tersenyum.
Sementara itu, Marbot masjid dan juga Ridwan melihat Wisnu yang seperti akan bicara serius dengan Pak Haji Imron pun akhirnya memutuskan untuk pamit pindah ke sisi lain karena takut mengganggu.
Tapi...
"Nak Ridwan di sini saja tidak apa-apa, ya kan Mas Wisnu? Ini Ustadz kampung kita yang baru mas Wisnu, pengganti Ustadz Sholeh."
Kata Pak Haji Imron memperkenalkan,
"Oh Pak Ustadz, Alhamdulillah."
Wisnu lantas mengulurkan tangannya untuk mengajak berjabat tangan pada Ridwan, yang tentu saja disambut Ridwan.
Jabat tangan itu erat dan hangat, penuh persahabatan dan juga persaudaraan sebagai sesama umat muslim.
Marbot masjid tampak berpindah tempat sendiri, memilih menuju ruangan tinggalnya dia samping Masjid.
Pak Marbot memang tadinya musafir yang luntang lantung dan hampir sakit jiwa, ia tak punya sanak saudara, maka oleh Pak Haji Imron ditampung di sana dengan diberi tanggungjawab mengurus masjid. Dan tahun ini adalah tahun ke tiga Pak Marbot berada di masjid Uswatun Hasanah, tinggal menetap di sana.
"Ngg... ini kebetulan juga ada Pak Ustadz nggih, biar saya jadinya bisa tanya lebih detail."
Wisnu membuka suara dan sekaligus juga pembahasan yang ingin ia bicarakan dengan Pak Haji Imron.
Pak Haji Imron mantuk-mantuk, sedangkan Ridwan tampak tersenyum,
"inshaAllah jika saya tahu ilmunya saya akan jawab Mas Wisnu, tapi misal tidak, saya tidak akan memaksakan diri untuk bisa menjawabnya, nggih."
Kata Ridwan selalu merendah,
"Nggih Pak Ustadz, tapi InshaAllah kalau ini perkara yang Pak Ustadz pasti tahu."
Ujar Wisnu.
Lalu...
"Begini Pak Haji Imron dan Pak Ustadz,"
Wisnu terlihat menggeser sedikit posisi duduknya, baru kemudian ia melanjutkan,
"Saya mencintai seorang perempuan, bisa dibilang dia adalah cinta pertama saya sejak saya kecil hingga sekarang, saya jatuh cinta padanya berawal dari rasa iba karena melihat ia menangis sendirian di rumahnya ketika saya berkunjung bersama dengan kedua orangtua saya ke rumah perempuan yang saya cinta ini di masa saya masih kecil itu, karena memang kebetulan kedua orangtuanya kami, selain masih ada hubungan saudara jauh, juga antara Ibu saya dan Ayah perempuan ini juga memiliki bidang usaha yang sama."
Tutur Wisnu.
Pak Haji Imron Dan Ridwan mantuk-mantuk,
"Singkat cerita, kami akhirnya memang dijodohkan, hanya saja perjodohan itu entah kenapa terkesan dibuat karena untuk urusan bisnis semata, dan perempuan yang saya cintai inipun melakukannya dengan terpaksa.
"Kenapa bisa begitu? Bukankah dia juga mencintai Mas Wisnu?"
Tanya Pak Haji Imron,
Tegas terlihat Wisnu menggeleng,
"Sayangnya tidak begitu Pak Haji, perempuan itu telah memiliki laki-laki idaman, laki-laki yang pastinya jauh lebih baik daripada saya."
__ADS_1
Ujar Wisnu begitu lapang dada,
Pak Haji Imron menghela nafas, begitupun dengan Ridwan.
"Jadi apa kiranya yang Mas Wisnu ingin tanyakan?"
Kata Pak Haji Imron,
Wisnu tampak menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan, baru kemudian melanjutkan,
"Dia tak direstui dengan laki-laki yang ia sukai, lalu perempuan itu akhirnya kabur lari dari rumah, tapi dia meminta saya yang menolongnya. Saya jelas tidak tega jika menolak permintaan tolong perempuan yang saya cintai itu Pak, apalagi saya tahu sekali bahwa kondisi fisik maupun jiwa perempuan itu sangat lemah."
Ridwan yang mendengarkan seluruh cerita Wisnu, entah kenapa bayangannya langsung kepada Anisa.
Ya sosok Anisa.
"Saya akhirnya membawanya ke rumah Pak Haji, membiarkan ia tinggal di sana. Tapi ibu saya sekarang keberatan karena kan kami tidak ada ikatan apa-apa, Ibu ingin kami menikah saja, supaya tidak terjadi fitnah. Saya bingung Pak Haji, apa yang harus saya perbuat."
Kata Wisnu.
"Ya saya mengerti Mas Wisnu."
Pak Haji Imron menepuk-nepuk pundak Wisnu.
"Apa dosa jika saya menentang Ibu dengan tetap menolong perempuan ini karena saya tidak bisa memaksa dia menikah dengan saya Pak Haji. Atau saya harus bagaimana?"
Wisnu terlihat bingung.
"Ngg... maaf ini Mas Wisnu, apa boleh saya tahu siapa gerangan perempuan ini?"
Tanya Pak Haji Imron,
Mendengar pertanyaan Pak Haji Imron pada Wisnu pun langsung membuat dada Ridwan berdetak lebih kencang.
Jangan... Jangan sebut nama. Batin Ridwan.
Tapi...
"Anisa... Namanya Anisa Larasati, putri bungsu Pak Haji Syamsul."
Flashback berakhir.
"------------------"
Plok!
Mbak Wening menabok paha Ajeng yang jadi kaget.
"Kok Ajeng di tabok Bu?"
Tanya Ajeng bingung,
"Itu ada nyamuk gede banget itu tadi, sana Ajeng ganti baju, trus cuci kaki sama tangan sebelum tidur, jangan lupa gosok gigi juga."
Kata Mbak Wening jadi gugup karena ketahuan Ridwan.
Ajeng pun tanpa tanya apa-apa lagi, dan juga tidak komen apa-apa lagi langsung menuju kamar.
"Paman, es krim nya enak, besok boleh Ajeng minta beli lagi?"
Tanya Ajeng.
Ridwan tentu saja mengangguk dan tersenyum,
"Iyo, besok Paman belikan lagi."
Kata Ridwan,
"Asiiiiik..."
Ajeng bersorak,
__ADS_1
Mendengarnya Mbak Wening menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ridwan kini tampak berjalan mendekati Mbak Wening dan Ibunya.
Setelah dekat, iapun lantas ikut duduk sila di dekat Mbak Wening.
"Mbak."
Panggil Ridwan pula sebelum Mbak Wening mendahului bersuara.
"Yo Wan,"
Jawab Mbak Wening,
Ridwan mengulurkan dua amplop ke arah Mbak Wening.
Tampak Mbak Wening pun mengerutkan keningnya melihat amplop di tangan Ridwan.
"Apa ini Wan?"
Tanya Mbak Wening.
"Ini pas aku di Jakarta Mbak, Alhamdulillah dapat rejeki dikasih Pak Bagas, ini mudah-mudahan bisa nambah modal usaha Mbak Wening."
Ujar Ridwan menyerahkan satu amplop pertama.
"Lah Wan, kamu kan juga butuh beli macam-macam pastinya, hp baru, apa leptop, apa deron."
Ujar Mbak Wening,
"Drone? Buat apa Mbak aku beli drone? Hehehe... Ada-ada saja Mbak Wening ini."
Ridwan jadi tidak bisa menahan tawa.
"Memangnya Guru tidak butuh deron ta Wan?"
Tanya Mbak Wening lugu,
Ridwan menggeleng,
"Tidak Mbak, tidak perlu, kalau laptop memang perlu, tapi Ridwan belum terlalu butuh, masih bisa kok pakai yang di sekolahan."
Kata Ridwan.
Lalu...
"Terus, ini tolong besok Mbak Wening saja nggih yang beli kulkas, katanya kan Ajeng pengin kulkas, tapi paling kebeli yang kecil Mbak."
Kata Ridwan.
"Aah ngopo nurutin Ajeng sih Wan? Wis ini tidak usah."
Mbak Wening mendorong tangan Ridwan yang akan memberikan amplop kedua.
"Ini biar Ibu juga jadi bisa nyimpan sayuran to Mbak, sama telur juga, cabe, tahu, tempe segala macam kan jadinya bisa lebih awet."
Ujar Ridwan,
Mbak Wening menatap Ibunya yang terlihat mengangguk.
"Wis besok kamu ke pasar Ning, sekalian belanja, Ibu nitip."
Kata Ibu,
"Kamu besok mengajar ngaji kan Wan?"
Tanya Ibu pula, tampak Ridwan mengangguk.
"Nggih Bu."
"Yo wisan,"
__ADS_1
Ibu mantuk-mantuk pula.
**---------------**