Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
48. Calon-Calon Isteri Yang Baik


__ADS_3

"Kok jauh sekali to jalan-jalannya?"


Mbak Wening terheran-heran begitu Ajeng mengulang cerita jalan-jalan dengan Mbah sampai rumah Bu Guru Iis dan bertemu Bu Guru les nya itu sedang menjemur cucian di depan rumah.


"Tadinya mau ke makam sekalian, tapi anakmu minta pulangnya beli serabi,"


Kata Ibu, membuat Mbak Wening tertawa.


"Kasih syarat ya Bu?"


Tanya Mbak Wening di sela tawanya.


"Ya kan capek to Mbah, itu kan masih jauh lagi, dekat pondok."


Kata Ajeng protes,


"Dasar bandel, tidak boleh begitu to, cuma menemani Mbah ke makam saja ada syarat beli serabi."


Mbak Wening memukulkan sendok ke atas ubun-ubun Ajeng tapi tidak dengan keras.


Ajeng nyengir sambil usap ubun-ubunnya.


"Jam segini sudah selesai nyuci ya Bu Guru Iis, rajin sekali ya dia Bu, benar-benar calon isteri yang baik itu."


Mbak Wening mengalihkan pembicaraan,


Ia sengaja menekan kalimat calon isteri yang baik sambil melirik Ridwan yang sudah mulai menyantap sarapan sederhana mereka pagi ini.


Ibu yang paham maksud Mbak Wening hanya terkekeh, meskipun pada akhirnya mengiyakan, karena memang begitu adanya.


Di jaman sekarang, di mana banyak anak perempuan hanya bisa bersolek dan manja dalam kesehariannya, Iis justru menjelma menjadi sosok yang berbeda dengan lainnya.


"Ibunya cerita padaku Bu, kalau Bu Guru Iis itu setiap hari sebelum berangkat mengajar akan memasak untuk sarapan dan makan siang Ibunya, malamnya ia juga akan tetap masak untuk Ibunya makan malam."


"Bu Guru Iis juga sejak kecil sangat menurut pada orangtuanya, sekolah selalu rengking satu, makanya kata Ibunya, Bu Guru Iis selama sekolah tidak pernah Ibunya pusing bayaran, karena Bu Guru Iis selalu dapat beasiswa."


Tutur Mbak Wening.


Ibu tampak mantuk-mantuk ikut terkagum-kagum.


"Oh dia juga membantu biaya sekolah anak tetangganya yang anam yatim itu lho Bu, yang Bapaknya meninggal sakit paru."


"Sapa to?"


"Itu, Pak Wahab, yang dulu tukang becak suka lewat depan, itu kan dia punya anak kecil lagi Bu, sebelum meninggal."


"Apa iya?"


Ibu terkejut karena merasa kurang aptudet.


"Iya, itu si Pak Wahab, anaknya ada yang masih kelas dua SD, dia setiap bulan dibantu sama Bu Guru Iis."


Mendengarnya Ridwan yang sejak tadi diam saja tiba-tiba menoleh ke arah Mbak Wening.


"Benarkah itu Mbak?"

__ADS_1


Tanya Ridwan akhirnya. Tentu saja, ini juga membuat Ridwan cukup terkejut mendengar sepak terjang Bu Guru Iis yang ternyata tidak biasa.


"Iyo lah, padahal Rumah Pak Wahab itu kan lebih dekat dengan rumah Pak Haji Syamsul, kan rumahnya Pak Wahab di belakang Pak Haji Syamsul persis, hanya sedikit masuk gang sempit."


Kata Mbak Wening.


"Ealah kamu malah menceritakan Pak Haji Syamsul, apa hubungannya."


Kata Ibu.


"Ya kan ini untuk menggambarkan kalau buat peduli dengan sesama manusia dan juga pada mahluk lain itu tidak selalu harus orang kaya saja, karena nyatanya itu Bu Guru Iis juga bisa."


Ujar Mbak Wening.


Ridwan menghela nafas.


Ada sisi hatinya mengagumi sosok Bu Guru Iis memang. Perempuan itu terlihat sangat cerdas, mandiri, dan ternyata juga sangat peduli dengan semua hal.


**----------------**


Di rumah Bu Guru Iis, tampak perempuan itu masih menyibukkan diri dengan bebenah rumah.


Ibunya sudah sampai lelah memintanya istirahat, tapi yang disuruh istirahat tetap Keukeh ingin bebenah saja.


Ia harus menyalurkan kesedihan dan perasaan yang menyiksanya itu ke hal yang positif, yaitu berbenah. Begitulah pikir Iis.


Iis yang sudah selesai membereskan dapur, mengelap kompor sampai kompor kinclong, sekarang mulai mengelap kaca jendela dan pintu.


Setelah ini, ia berencana mencuci motornya, lalu menyemir sepatu, lalu menyetrika, lalu memasak, baru mungkin begitu lelah ia akan istirahat.


Ibu menatap Iis dari dalam rumah, sebagai Ibu tentu ia merasa ada yang sedang berkecamuk pada diri anaknya meskipun sang anak belum menceritakannya.


Apalah yang bisa Ibu lakukan? Ibu hanya mampu mengamati Iis yang banyak diam sejak hari kemarin dan seolah memaksakan diri bebenah rumah tanpa henti dalam kondisinya yang sebetulnya kelihatan sedang kurang sehat.


Tak jauh berbeda dengan Iis yang hatinya sedang tak karuan, Anisa pun juga sama.


Anisa hari ini berangkat ke toko mas dengan perasaan yang masih dongkol dengan Mbak Faizah.


Ia merasa kakak perempuannya itu sejak dulu selalu berusaha mengatur kehidupannya.


Kesal rasanya hati Anisa pada Mbak Faizah yang sama sekali tak bersikap selayaknya kakak yang baik.


Ia begitu egois dan seperti selalu merasa lebih baik jika di depan orang tua.


Mbak Faizah selalu mendapatkan pujian dari orangtua dan selalu dibandingkan dengan Anisa.


Mbak Faizah juga pandai sekali mencari pujian dari orangtua mereka, terutama pada Abah yang memang sifat mereka mirip.


Banyak juga yang bilang bahwa Mbak Faizah itu memang anak Abah, karena mereka plek jiplek. Sedangkan Anisa lebih mirip dengan Umi.


Anisa turun dari angkutan di depan pasar dan langsung berjalan menuju deretan pertokoan yang mana di sana ada toko mas milik keluarganya.


Tampak tak jauh dari tokonya, ada toko mas lain yang sudah lebih dulu buka dan kini terlihat sudah ramai pembeli.


Kabarnya, pembagian bantuan memang sudah turun, maka tak heran jika banyak toko diserbu orang. Dari toko sembako, toko pakaian, bahkan toko mas.

__ADS_1


Anisa menghela nafas, karena melihat di dalam toko anak buahnya masih sibuk mengelap etalase.


Malas berada di dalam, Anisa pun duduk di luar saja.


Anisa sesekali melirik toko mas yang tampak ramai pembeli itu, karyawan mereka rajin sekali, hari masih sepagi ini sudah buka toko dan tokonya sudah ramai.


Anisa kemudian tanpa sengaja melihat si empunya toko mas itu ternyata justeru baru datang.


Pemilik toko mas itu usianya nyaris sama dengan Abah, malah sepertinya lebih sepuh lagi.


Beliau turun dari mobil dengan menggunakan tongkat.


Anehnya, begitu mobilnya berhenti dan beliau turun, banyak kucing liar di sekitar pasar mendatangi beliau.


Wajah pemilik toko itu berseri-seri, ia memang terkenal sangat ramah dan baik hati.


Seorang penjual ikan yang berjualan di dekat pintu masuk pasar dipanggilnya, si penjual yang sepertinya juga sudah hafal itu datang dengan satu wadah ikan.


"Berikan makan untuk mereka kesayangan Nabiku."


Kata si pemilik toko mas tersebut seraya memberikan selembar uang lima puluh ribu pada si penjual ikan.


Seekor kucing kecil kesulitan turun, si pemilik toko itu membantunya turun dan meletakkannya di dekat kaki penjual ikan yang sedang membagikan jatah makan untuk para kucing liar di sana.


Anisa terdiam, tiba-tiba ia ingat nasehat Ridwan.


Amal baik yang mendatangkan pahala, dan itu bisa dihadiahkan pada Uminya.


Ya...


Kenapa Anisa baru menyadarinya?


Kenapa Anisa tidak tahu sejak dulu?


Kenapa Anisa juga tak pernah belajar dari apa yang ia lihat dari sosok pemilik toko mas itu?


Anisa lantas berdiri dan beranjak dari tempatnya duduk.


Ia berjalan ke arah para kucing yang sedang makan itu, Anisa lalu mengambil satu anak bulu yang paling kecil yang sedang makan.


"Jangan diganggu Mbak."


Kata satpam toko mas yang pemiliknya baik itu,


"Oh tidak Pak, sebaliknya, saya ingin mengadopsi yang ini satu, boleh kan?"


Pak Satpam tampak ragu untuk mengiyakan, ia lalu pergi ke tokonya, seperti bertanya pada bos besarnya, setelah itu baru ia kembali,


"Selama dirawat dengan baik, tidak apa-apa Mbak."


Kata si satpam pada Anisa yang berjongkok dekat kucing kecil yang ia lepaskan dan makan lagi.


Anisa tersenyum,


"Terimakasih, inshaAllah akan saya rawat, untuk hadiah Umi."

__ADS_1


Kata Anisa yang bertekad akan menuruti apapun nasehat Ridwan.


**-------------**


__ADS_2