
Anisa duduk di kamarnya dalam kesendirian yang menyedihkan, sungguh kini rasanya ia tak tahu harus bagaimana.
Keputusannya untuk pulang, nyatanya seperti sebuah kesalahan besar, mengira semuanya akan menjadi baik, ternyata Mbak Faizah dan Abah tetap dalam kekerasan hatinya yang seolah sulit sekali untuk menjadi lunak.
Anisa begitu sedih memikirkan keluarganya yang memiliki sifat angkuh dan arogan, padahal mereka pasti tahu dan sadar, bahwa mereka bukanlah satu-satunya orang kaya di dunia ini.
Bahkan harusnya mereka ingat, pemilik toko emas yang ada di dekat toko mereka saja di pasar jauh lebih kaya dan bahkan ia lebih disukai orang-orang pasar karena sifatnya yang baik.
Bukan hanya gemar memborong dagangan para pedagang yang ada di sekitar toko, memberi makan kucing yang ada di pasar membuat pedagang ikan laris, namun juga rutin memberi uang setiap awal bulan untuk tukang parkir, tukang becak, tukang ojek, sampai para pedagang kecil yang hanya berdagang dengan keranjang di sekitar pasar.
Tentu semakin menyedihkan manakala melihat ia adalah orang yang tak memiliki gelar haji dan umat agama lain. Ini sungguh untuk Anisa semakin sedih karena Abahnya yang telah berhaji malah jauh dari semua sifat baik itu.
Anisa melihat kandang kucing yang kini kosong, kucingnya dibawa mbok Rat pulang ke rumah karena takut di rumah Anisa kucing itu akan terlantar.
Satu tetes bening melesat mulai membasahi pipi Anisa lagi.
Rasanya begitu sesak hati dan dadanya, ketika Anisa semakin menyadari bahwa dirinya kini benar-benar sendirian di rumahnya.
Setelah Mbak Wening pergi, kini Mbok Rat juga pergi.
Anisa masih menangis sendirian, ketika ia mendengar suara hp miliknya. Hp yang ia letakkan di atas meja itu memberitahukan bahwa ada panggilan telfon yang masuk.
__ADS_1
Mungkin itu Iis, ia pasti ingin segera tahu kabarku karena nomorku baru aku aktifkan sekarang. Batin Anisa.
Tapi...
Anisa melihat jam di dinding kamar, yang baru mendekati angka setengah sembilan pagi.
Annisa mengerutkan keningnya, jelas tidak mungkin jika yang menelfonnya adalah Iis jika di jam seperti ini.
Siapa ya?
Didorong rasa penasaran sekaligus juga karena panggilan itu terus berulang, maka Iis pun berdiri dari duduknya dengan malas.
Wisnu. Anisa membaca nama Wisnu di layar hp.
Ah yah, Wisnu, sungguh mustahil jika Ridwan yang menelfonnya bukan? Batin Anisa pula.
Anisa lantas mengangkat panggilan Wisnu, sambil kemudian membawa hp nya duduk di atas kursi depan meja yang menghadap jendela kaca kamar.
Sinar matahari pagi menyorot ke arah Anisa yang ada di balik kaca jendela, cahayanya yang berkilau-kilau terasa hangat, meskipun cukup menyilaukan mata juga.
"Anisa, apa kabar?"
__ADS_1
Tanya Wisnu,
Nada suaranya seolah penuh rasa khawatir, namun mendengar Wisnu begitu, entah kenapa membuat Anisa dadanya begitu sakit karena sedih.
Ia juga lantas tak kuasa menahan tangis.
Ya, Anisa padahal sekuat tenaga telah berusaha untuk menahan diri agar tidak sampai menangis.
Tapi herannya makin ditahan, air matanya malah seperti semakin bercucuran tanpa bisa dikendalikan.
"Anisa... Anisa..."
Suara Wisnu semakin cemas, pemuda itu bahkan menjadi panik ketika mendengar lamat-lamat Idak tangis Anisa.
Anisa tak sanggup mengatakan apapun, ia terlalu malu bicara pada Wisnu, tapi jika bukan pada Wisnu, gadis itu juga rasanya tak tahu harus lari pada siapa lagi.
"Kamu kenapa Anisa? Ah... Tunggu, tunggu saja di rumah, tenang ya, aku akan ke sana, aku akan jemput kamu, jangan khawatir Nisa, sabar... Kamu masih di rumah kan? Aku akan ke sana, oke..."
Kata Wisnu sambil langsung bersiap pergi ke rumah Pak Haji Syamsul untuk menjemput Anisa lagi.
**------------**
__ADS_1