Mimpi Ustadz Ridwan

Mimpi Ustadz Ridwan
149. Tak Bisa Lupa


__ADS_3

Di kamar Iis segera membuka pesan dari Anisa, takut ada hal penting yang ingin Anisa bahas tentang rencana pernikahannya yang akan segera dilaksanakan akhir bulan depan.


Iis sambil duduk selonjor di atas tempat tidur membaca pesan sahabatnya itu.


Iis, sudah tidur?


Aku tadi ingin mampir, tapi hujan turun deras.


Tulis Anisa dalam pesan singkatnya.


Iis terlihat tersenyum, lalu cepat mengetik untuk membalas,


Memangnya Nisa dari mana?


Harusnya mampir saja, kalau susah telfon aku saja Nis, kan aku bisa bawakan payung untuk Anisa misal turun dari mobil.


Pesan balasan Iis pun terkirim, namun tak langsung ada tanggapan karena Anisa sudah tidak sedang online.


Sekitar lima menit Iis menunggu jawaban Anisa namun tak juga kunjung datang, bahkan juga tidak dibaca, akhirnya Iis pun memutuskan untuk meletakkan saja hp nya.


Sementara itu, di luar sana hujan kembali turun, suara geluduknya cukup keras seolah hendak meruntuhkan langit.


Iis akhirnya memilih mengaktifkan mode silent pada hp nya, dan kemudian diletakkan di atas meja dekat tempat tidur dan mengganti dengan buku bacaan.

__ADS_1


Bagi Iis, saat akan tidur adalah waktu yang benar-benar untuk dirinya sendiri.


Waktu di mana ia bisa melakukan sesuatu yang paling ia sukai, dan sesuatu itu salah satunya adalah membaca buku.


Buku yang Iis baca saat akan tidur biasanya adalah buku-buku fiksi ringan, yang biasanya adalah tentang kisah romansa.


Seperti malam ini, Iis membaca sebuah buku yang menceritakan tentang kisah pengorbanan seorang sahabat yang pada akhirnya disesalinya.


Hujan di luar sana terdengar semakin deras, Iis menatap ke arah jendela kamarnya sejenak.


Iis menutup bukunya, rasa kantuk sudah membuat matanya terasa berat.


Dimatikannya lampu kamarnya, dan menggantinya dengan lampu tidur yang terlihat remang-remang saja.


Tirai jendela kamar Iis yang berwarna kuning kunyit kini terlihat transparan ditembus cahaya dari luar.


Ya...


Hari ini, setelah hujan deras mengguyur hampir sehari penuh, rasanya udara memang jadi jauh lebih dingin dari hari-hari biasanya.


Iis memejamkan matanya perlahan, seraya bibirnya membaca doa sebelum tidur.


Namun ketika membaca doa sambil memejamkan mata, Iis malah tiba-tiba ingat Ridwan saat tadi datang dan Iis sempat kerjai untuk menyuruhnya memanggil Iis dengan panggilan nama saja tanpa embel-embel Bu Guru.

__ADS_1


Ah' rasanya Iis jadi ingin senyum-senyum sendiri mengingat hal itu.


Mengingat bagaimana ekspresi Ridwan dan mengingat betapa gugupnya seta salah tingkah nya Ridwan kala akhirnya menuruti Iis untuk memanggilnya, rasanya sungguh membuat Iis jadi geli tapi sekaligus juga senang.


Ya, Iis sejatinya hari ini sangat senang, bahkan rasanya, saking bahagianya, Iis ingin terus tertawa.


Tapi...


Bagaimana mungkin Iis berani menunjukkan pada Ibunya jika hari ini ia sedang bahagia, sedangkan belum apa-apa saja Ibu terus menggodanya.


Iis jadi tersenyum sendiri lagi.


Ridwan, pemuda itu memang nyaris sempurna, baik dalam sikap dan juga caranya bertutur kata.


Ia mampu dengan baik membedakan kapan mereka bisa bercanda, dan kapan harus serius.


Iis menghela nafas,...


Ya Allah...


Tiba-tiba Iis merasa malu sendiri karena jadi berpikir aneh-aneh mengenai Ridwan.


Rasanya Iis jadi takut tiap kali harapannya akan Ridwan muncul.

__ADS_1


Ya, harapan ia dan Ridwan kelak bisa bersama.


**----------------**


__ADS_2