
"Suci..."
Mbak Wening memanggil Suci begitu sampai di rumah Pak Haji Syamsul.
Suci yang sudah terlihat siap mengaji bersama teman-temannya langsung menyambut kedatangan Mbak Wening.
"Ayuk ke ruang mengaji, Ustadz Ridwan sudah datang."
Kata Mbak Wening.
Suci dan teman-temannya mengangguk semangat, lalu cepat membawa Al-Qur'an mereka menuju ruang di mana mereka mengaji.
Mbak Wening kemudian menuju ruang belakang rumah untuk mengambil sapu dan alat pel.
Di dapur, tampak Mbok Rat sedang membuat bumbu, sedangkan di atas dapur di dekat dia, beberapa wadah terlihat berisi udang, potongan sosis dan potongan baso, ada juga sawi dan kocokan telur.
Mbak Wening pun jadi kepo.
"Masak apa sih Mbok? Lengkap amat."
Ditanya masak apa, Mbok Rat tampak menoleh pada Mbak Wening,
"Ealah kamu sudah datang to Ning?"
Mbok Rat malah balik tanya.
"Iyo kan sekalian ikut Ridwan."
Sahut Mbak Wening.
"Oh jadi ya mengajar ngajinya?"
Tanya Mbok Rat.
"Jadi Mbok, sekarang lagi mulai."
"Dibuatkan minum to sama makanan, ada banyak itu di kulkas juga ada kalau mau buah atau kue."
Kata Mbok Rat.
Mbak Wening menggeleng.
"Wislah, tidak usah Mbok, wong Ridwan tadi sudah sarapan di rumah, sudah minum kopi juga."
"Yo di rumah di rumah, di sini di sini..."
"Ya nanti saja wis Mbok, tek bebersih dulu."
"Iya wis sana bebersih, aku ini juga mau masak nasi goreng, Mbak Nisa lagi ingin makan nasi goreng yang kayak biasa dulu Umi nya suka masak."
__ADS_1
"Ooh nasi goreng, kok lengkap sekali ada sosis, baso, udang, telor..."
Mbak Wening geleng kepala, seingatnya dia kalau masak nasi goreng paling banter cuma ditambah telur saja, dan baru setelah itu kerupuk.
"Ini juga masih kurang ayam,"
Mbok Rat terkekeh.
Mbak Wening lagi-lagi geleng kepala.
Sudah jelas terlihat kasta mereka begitu jauh, dari isian nasi goreng saja seperti bumi dan langit.
"Mau diantar lagi buat bekal makan siang Mbok?"
Tanya Mbak Wening bersiap akan keluar dari dapur,
"Mbak Nisa lagi di gudang kok dari pagi, katanya lagi cari apa itu, tidak tahu."
Ujar Mbok Rat.
"Oh di gudang, coba nanti tek bantu cari apa."
"Bebersih rumah dulu saja Ning, nanti kena marah Mbak Faizah."
Kata Mbok Rat.
"Iya Mbok, iyaaa..."
Mbok Rat sendiri kembali sibuk melanjutkan memasak nasi goreng request Anisa.
Sementara itu, Anisa di dalam gudang terlihat mulai putus asa, sudah lebih dari tiga jam Anisa membongkar semua dus berisi barang lama nya, tapi semua nihil.
Ah padahal ia ingin bisa bicara dengan Ridwan saat ini juga, dan jika surat itu jelas masih ada, tentu Anisa akan punya alasan untuk mengajak bicara Ridwan.
Jelas terlalu aneh jika tiba-tiba Anisa mengajak bicara Ridwan tentang perasaannya, lagipula pasti akan sangat memalukan, bukan?
Anisa menghela nafas, rasanya ia ingin putus asa melihat banyak sekali tumpukan dus yang entah berisi apa saja, meski yang jelas sudah pasti barang - barang lama yang tak terpakai.
Anisa duduk sejenak di atas tumpukan dus yang sudah ia bongkar dan belum membuahkan hasil.
Ternyata tak semudah yang aku bayangkan. Batin Anisa.
Gadis cantik itu yang lama-kelamaan merasa pengap di dalam gudang akhirnya memutuskan untuk mundur sebentar, dan mungkin akan kembali lagi nanti setelah makan nasi goreng yang sudah ia pesan pada Mbok Rat.
Dan lagi, ia ingat pesan Mbak Faizah agar mengawasi Suci mengaji, dan mengambil videonya.
Ah jangan-jangan Ridwan sudah sampai. Bagaimana ini? Batin Anisa lagi.
Rasanya membayangkan Ridwan akan melihatnya dalam kondisi masih belum rapi membuat Anisa tiba-tiba jadi panik sendiri.
__ADS_1
Ia lantas segera keluar dari gudang, tak merasa bahwa ada sesuatu yang jatuh terselip di sela-sela kardus yang ia bongkar.
Anisa terburu menutup pintu gudang, dan cepat berjalan menuju kamarnya melalui pintu samping.
"Mbak Nisa..."
Terdengar suara Mbak Wening menyapa, saat akhirnya Anisa memasuki ruangan TV yang setelah itu Anisa hanya butuh belok sebentar untuk menuju anak tangga untuk sampai ke kamar Anisa.
"Mbak... Su... Sudah datang?"
Tanya Anisa gugup saat disapa Mbak Wening.
Mbak Wening mengangguk,
"Sampun Mbak, dari tadi malah."
Sahut Mbak Wening.
Apa?
Dari tadi?
Anisa makin kelimpungan, ia langsung benar-benar menuju kamar untuk cuci muka dan ganti baju serta jilbab
Bagaimana ini?
Apa yang harus ia katakan begitu bertemu dengan Ridwan?
Tidak mungkin Anisa akan langsung bisa bicara pada Ridwan.
Ah Anisa menghela nafas lagi.
Anisa memilih baju untuk salin, setelah dirasa cukup tapi, begitupun dengan jilbabnya juga ganti, barulah Anisa keluar kamar lagi untuk menuju ruang yang disediakan khusus belajar ngaji Suci dan teman-temannya.
Anisa tampak mengintip dari balik jendela kaca saat ia sudah ada di depan ruangan yang berdiri agak terpisah itu dari bangunan utama rumah.
Ridwan tampak ada di sana.
Duduk di kursi menghadapi anak-anak yang sepertinya dipanggil satu per satu.
Anisa makin mendekati pintu yang daun pintunya terbuka, dan ketika Anisa mengetuk pintu, Ridwan dan semua anak yang sedang belajar mengaji menoleh.
"Assalamualaikum..."
Ucap Anisa..
"Waalaikumsalam..."
Sahut Suci dan teman-temannya, tak terkecuali tentu saja Ridwan.
__ADS_1
**---------------**