
Adzan maghrib berkumandang seiring dengan redanya hujan yang mengguyur kota, saat Ridwan akhirnya tiba di depan rumahnya dengan satu kantung kresek penuh kue dan buah.
Ridwan masuk ke rumah,
"Assalamualaikum..."
Ucapnya,
Ridwan memang tak pernah melupakan mengucap salam saat masuk ke dalam rumah maupun ke tempat lain.
Ini tentu sesuai ajaran Nabi.
Bahkan sejatinya, umat muslim bukan hanya saat memasuki rumah, melainkan juga saat bertemu saudara sesama muslim.
Gunanya mengucap salam adalah untuk saling mendoakan keselamatan, bukan hanya keselamatan di dunia, namun juga di akhirat.
Dan bilamana kita telah mengucapkan salam untuk orang lain, tentu saja seharusnya kita juga berlaku baik pada mereka, baik di depan, juga baik di belakang.
Janganlah baik hanya di depan tapi busuk di belakangnya.
"Waalaikumsalam..."
Jawab Mbak Wening.
Ridwan masuk ke dalam rumah yang lantas langsung menuju ruang tengah di mana di sana terbagi untuk ruang nonton TV dan juga untuk makan.
Mbak Wening tampak ada di ruang makan, sedang makan pisang goreng hangat dan juga minum teh.
"Mbak."
Sapa Ridwan seraya menyalami Kakaknya, lalu meletakkan kresek berisi kue dan buah.
"Apa ini Wan?"
Tanya Mbak Wening.
"Dari Pak Haji Imron, tadi jenguk sahabatnya sakit beli oleh-oleh, kita dibelikan juga."
Kata Ridwan.
"Masya Allah, banyak amat."
Mbak Wening membuka kresek berisi kue dan buah tersebut,
Ridwan sendiri akan bersiap ke kamar mandi untuk segera mandi dan melaksanakan Sholat, karena tadi di jalan lumayan macet, akhirnya Ridwan dan Pak Haji Imron akhirnya terpaksa pulang terlambat dan tak bisa ikut jamaah maghrib di masjid.
"Tek mandi dan sholat dulu Mbak."
Ujar Ridwan.
Mbak Wening yang juga akan beranjak dari ruang makan untuk ke dapur mengambil wadah buah dan juga piring ceper untuk menaruh kue tampak mengangguk.
"Kalau mau mandi pakai air hangat, pakai saja air panas di termos, nanti gampang Mbak rebus air lagi."
Kata Mbak Wening.
"Iya Mbak."
Ridwan mengangguk.
__ADS_1
Alhamdulillah, kebetulan memang badan mulai tak enak. Batin Ridwan.
Ridwan masuk kamar sebentar untuk ambil handuk yang ia gantung di paku belakang pintu.
Bersamaan dengan itu, Ajeng keluar dari kamar Mbah nya masih menggunakan mukenah berwarna pink.
"Paman."
Sapa Ajeng manakala Ridwan keluar dari kamar lagi.
Ajeng mendekati Pamannya dan menyalami sang Paman.
Ridwan mengelus kepala Ajeng dengan lembut,
"Sudah sholat?"
Tanya Ridwan.
Ajeng mengangguk,
"Sudah sama Mbah, kalau Ibu katanya libur sholat, masa sholat boleh libur sih Paman, kok Mbah tidak pernah libur? Paman juga tidak libur sholatnya."
Kata Ajeng.
Mbah yang mendengar keluar kamar tampak terkekeh-kekeh,
"Dari tadi dia terus begitu, bisik-bisik ngomongin Ibunya sering libur sholat,"
Kata Mbah.
Ridwan tersenyum, ia lalu berjongkok sebentar agar wajahnya bisa sejajar dengan wajah Ajeng.
Tak membuat mereka harus terus mendongakkan wajah hanya karena untuk mendengarkan kita memberitahu dia tentang satu ilmu, atau nasehat.
Ridwan meletakkan kedua tangannya di bahu Ajeng.
"Ajeng tahu? Kalau perempuan adalah mahluk Allah yang sangaaaaat di cintai oleh Allah. Sangaaaat diperhatikan hak-hak nya oleh Allah."
Kata Ridwan.
Ajeng menatap Ridwan dengan kedua matanya yang bulat dan bulu matanya yang lentik macam boneka.
"Perempuan setelah baligh akan diberi karunia berupa datangnya tamu, dan saat tamu itu datang, perempuan boleh libur sholat dan libur puasa jika pas datang di bulan Ramadhan."
"Baligh? Tamu?"
Ajeng mengerutkan kening.
"Ya, tamu itu adalah tanda seorang perempuan sudah masuk baligh. Masa di mana perempuan sudah mulai dicatat amal baik dan buruknya, masa di mana perempuan sudah wajib menutup aurat, harus menjaga diri dari laki-laki yang bukan keluarganya."
"Tamunya itu siapa Paman? Kenapa ada tamu boleh tidak sholat?"
Tanya Ajeng.
"Karena tamunya itu berupa darah, sesuatu yang kotor yang harus dikeluarkan karena jika tidak nanti perempuan akan sakit. Karena Allah sayang, maka para perempuan dijadikan oleh Allah bisa mengeluarkannya agar nantinya bisa sehat, bisa mengandung dan melahirkan anak-anak baik, manis serta penurut seperti Ajeng."
Ujar Ridwan.
Ajeng mantuk-mantuk, meskipun belum sepenuhnya paham di mana tamu itu.
__ADS_1
"Nanti kalau Ajeng sudah besar, Ajeng boleh bertanya lagi soal tamu para perempuan. Sekarang, yang penting Ajeng sudah mengerti, bahwa memang perempuan diberikan keistimewaan oleh Allah dengan adanya hari libur untuk sholat dan puasa."
"Wih enak."
Ajeng tertawa senang.
"Tapi, kalau puasa tetap harus di qodho, harus dihitung berapa jumlah puasa yang libur saat Ramadhan, harus di ganti di bulan berikutnya."
Kata Ridwan lagi.
Ajeng mantuk-mantuk.
"Dasar bocah, apa saja penasaran."
Mbak Wening muncul dari arah dapur membawa wadah buah dan piring ceper untuk menaruh kue.
"Tidak apa-apa wong anakmu memang cerdas kok."
Kata Ibu.
Ridwan tersenyum sambil mengusap kepala Ajeng.
"Paman mau mandi lalu sholat, Ajeng mau ngaji tidak?"
Tanya Ridwan.
Ajeng tentu saja langsung mengangguk cepat.
"Tapi Paman, Ajeng makan kue dulu boleh?"
Tanya Ajeng kemudian.
Tampaknya Ajeng melirik Ibunya yang kini tengah membuka kotak kue brownies kesukaannya di ruang makan.
Ridwan menganggukkan kepalanya.
"Boleh dong,"
Ujar Ridwan.
Ajeng senang sekali, ia lalu cepat lari ke kamar untuk melepas mukenah dan menyimpannya lagi, baru kemudian kembali keluar dari kamar menuju ruang makan untuk naik ke kursi agar bisa menikmati kue brownies oleh-oleh Ridwan dari Pak Haji Imron.
Ridwan berjalan menuju ke belakang rumah, di mana kamar mandi ada di sana.
Hujan sudah sama sekali reda, hanya tinggal sisa tetes-tetes air yang jatuh dari genteng dan ujung-ujung daun di pepohonan.
Ridwan masuk kamar mandi, tentu sebelum masuk ia baca basmallah dan menggunakan kaki kirinya lebih dahulu.
Ridwan baru akan menutup pintu kamar mandi yang terbuat dari seng, saat ia kemudian ingat air panas di termos yang akan ia gunakan sebagai campuran untuk mandi.
Ridwan akhirnya keluar kamar mandi lagi, berjalan masuk lagi ke rumah, tepatnya ke dapur untuk ambil satu termos berisi air panas.
Langit terlihat sudah mulau gelap, dengan bulan serta bintang yang belum tampak menghias.
Mungkin, karena mendung masih banyak yang tersisa, masih banyak yang bergelayut di wajah-wajah langit hingga akhirnya menutupi bulan serta bintang untuk bisa dilihat dari bumi.
Ridwan menghela nafas, ketika angin bertiup cukup dingin dan terasa lembab.
Musim hujan yang sepertinya masih akan berlangsung lama ini, semoga menjadi rohmat bagi seluruh alam.
__ADS_1
**-------------**