
Setelah menurunkan Ajeng di depan rumah, Ridwan kembali melajukan motornya untuk mengantar Bu Guru Iis pulang.
Dan tentu saja, di sepanjang jalan, setiap kali berpapasan dengan orang, maka banyak orang akan melihat ke arah mereka dengan tatapan merasa mereka adalah pasangan.
Iis yang menyadari tatapan tak biasa banyak orang yang mereka temui di jalan jadi tak enak, meskipun tak bisa ia pungkiri jika ia bahagia, tapi tetap saja rasanya ia tak bisa berbohong jika hati kecilnya merasa tak enak dengan Ridwan.
Tak banyak yang Iis dan Ridwan bicarakan selama di jalan menuju pulang.
Selain karena memang Ridwan sedang mengejar waktu yang sebentar lagi akan Maghrib, Iis juga tak berniat mengawali pembicaraan lebih dulu sebelum Ridwan yang memulai.
Hingga lima menit sebelum masuk Maghrib, motor Ridwan akhirnya sampai di depan rumah Iis.
Iis turun dari boncengan, dari dalam rumah Ibu Iis yang sudah menunggu anaknya pulang tampak tergopoh-gopoh keluar rumah dan terkejut Iis justeru pulang dengan Ridwan.
"Oh, ada Ibu."
Ridwan yang semula akan langsung pamit pada Iis akhirnya jadi turun lebih dulu.
Tentu saja, tidak sopan jika ia langsung pergi tanpa menyapa dan bersalaman dengan orangtua.
"Ini Pamannya Ajeng kan nggih?"
Tanya Ibu, tampak Ridwan mengangguk.
"Tadi motor Iis mogok Bu di jalan, Alhamdulillah bertemu Ajeng dengan Pak Ridwan."
"Oalaaah..."
Ibu menganggukkan kepalanya.
"Jadi merepotkan nggih Pak Ridwan?"
Ibu pada Ridwan.
"Mboten Bu,"
Sahut Ridwan cepat.
Setelah berbasa-basi sebentar, Ridwan pun langsung pamit karena harus segera bersiap ke masjid.
Ibu dan Iis mengiringi kepergian Ridwan dengan motornya sampai Ridwan benar-benar menghilang.
"Sebentar lagi maghrib Bu, ayo masuk."
Kata Iis sambil menggamit lengan Ibunya untuk diajak masuk ke dalam rumah.
Ibu menghela nafas, sambil masih menatap jalanan.
"Suka sekali melihat nak Ridwan itu ya Is, sopan, baik, sholeh. MasyaAllah, semoga bisa jadi jodohmu."
Kata Ibu.
Iis tampak hanya terdiam, bingung harus bereaksi apa.
"Kalau ada orangtua mendoakan yang baik itu mbok diaminkan lho,"
Ujar Ibu.
"Beliau itu laki-laki yang dicintai Anisa, Bu."
Lirih Iis sambil melepaskan tangannya dari lengan sang Ibu.
Ibu sejenak tampak terkesiap, kaget mendengar apa yang dikatakan Iis.
"Maksudnya Anisa..."
__ADS_1
Iis mengangguk,
"Ibu kan tahu kenapa Mbak Wening dihina-hina oleh Pak Haji Syamsul karena Pak Ridwan itu."
"Ah iya, benar juga."
Iis menghela nafas,
"Ibu terlalu kagum dengan Pak Ridwan, sampai lupa semua masalah Anisa."
Kata Iis lagi, membuat Ibu jadi terkekeh.
Iis lantas masuk ke dalam kamar untuk melepas jilbab dan switernya, ia juga hendak bersiap ke kamar mandi.
"Terus tadi bagaimana jadinya? Tidak ketemu Anisa nya?"
Tanya Ibu yang mengikuti Iis sampai masuk kamar dan tampak Iis sedang membuka jilbabnya di depan meja rias kamarnya.
"Tidak Bu, bahkan Iis tanya-tanya ke orang di perempatan besar juga tidak ada yang lihat Anisa hari ini."
Kata Iis.
"Oalah kasihan sekali dia, ke mana ya dia Is?"
Ibu jadi kembali cemas,
"Entah Bu, hp Anisa juga belum aktif, susah melacak keberadaannya jika hp nya saja tidak aktif."
Kata Iis.
"Tadi waktu kamu pergi Mbok Rat ke sini lagi, katanya kalau sampai besok sore tidak ketemu ya Pak Haji Syamsul mau minta polisi yang cari."
Tutur Ibu, Iis mengangguk.
Ibu mantuk-mantuk, lalu...
"Nak Ridwan tahu kalau Anisa pergi tidak tahu ke mana?"
Tanya Ibu pada Iis, yang lantas terlihat Iis menggeleng pelan,
"Tidak tahu Bu, sepertinya beliau tidak tahu karena beliau memang pergi tadi hanya antar Ajeng beli sate ayam saja."
Kata Iis.
**---------------**
"Tidak usah cerita pada Ridwan, Ning. Biar saja, nanti salah-salah Ridwan ikut cari malah jadi masalah besar lagi."
Kata Ibu yang tampak membantu Mbak Wening membungkus keripik.
"Nggih Bu, memang Wening juga tidak berencana menceritakan soal mbak Anisa kepada Ridwan. Apalagi Ridwan sebentar lagi akan sibuk mengurus banyak hal penting, amanah yang diberikan oleh keluarga Pak Suhadi tentu bukan amanah ringan,"
Kata Mbak Wening, tampak Ibu menganggukkan kepalanya tanda setuju,
Bersamaan dengan itu terdengar sayup-sayup suara motor Ridwan memasuki halaman depan rumah, yang tak lama berselang Ridwan kemudian juga mengucap salam sambil masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Ibu dan Mbak Wening nyaris bersamaan,
"Waalaikumsalam... Pamaaan..."
Terdengar pula suara Ajeng yang muncul dari dalam kamarnya sambil membawa buku bacaan yang ia suka pinjam dari perpustakaan sekolah.
__ADS_1
Ajeng memang gemar membaca, ia begitu diturunkan dari motor dan Pamannya mengantar Bu Guru Iis lebih dulu, maka Ajeng lebih memilih membaca buku di kamar dan akan makan sate setelah Pamannya pulang.
"Belum di makan satenya?"
Tanya Ridwan melihat bungkusan sate yang belum dibuka kini tampak tergeletak di atas meja.
"Nunggu Paman pulang."
Sahut Ajeng sembari nyengir lucu, Ridwan mengusap kepala Ajeng sambil tersenyum.
"Ajeng makan saja dulu, Paman mau mandi lalu ke masjid, mungkin pulangnya akan sedikit malam karena ada acara."
"Yaaaah..."
Ajeng tampak kecewa.
Di saat yang sama Ibu dan Mbak Wening muncul dari arah dapur membawa satu kantong kresek ukuran besar berisi bungkusan-bungkusan keripik pisang.
"Sudah Wan, mandi dulu sana, sudah mau maghrib itu."
Kata Mbak Wening,
Ridwan mengangguk, lalu pergi ke kamarnya sebentar untuk menyimpan kunci motornya.
"Makan sendiri dulu Ajeng, Pamanmu mau ada acara."
Kata mbak Wening lagi yang kali ini pada Ajeng.
Mbak Wening meletakkan kresek besar berisi bungkusan keripik di atas kursi panjang yang ada di ruang TV.
"Sholat dulu, nanti makan sate sama Mbah."
Kata Mbak Wening lagi saat Ajeng mendekati meja makan.
Mendengar kata-kata Ibunya, Ajeng jadi geleng-geleng kepala sambil menengok ke arah Mbah nya yang duduk di salah satu kursi di ruang makan.
"Tadi disuruh makan, sekarang disuruh sholat ya Mbah..."
Mendengarnya Mbah jadi terkekeh-kekeh,
Mbak Wening yang mendengar anaknya julid akhirnya mendekati Ajeng dan Ibunya di ruang makan,
"Makannya nanti sendirian tanpa Paman maksudnya, tapi makannya habis sholat maghrib tanggung."
Kata Mbak Wening akhirnya menjabarkan lebih jelas apa maksud dari perkataannya.
"Tapi Ajeng mau maem satu tusuk."
Kata Ajeng nyengir, lalu tangan kecilnya berusaha mengeluarkan bungkusan sate ayam kesukaannya dari dalam kresek.
"Sini Ibu saja, nanti malah tumpah semua."
Ujar Mbak Wening yang lantas membuka bungkusan sate dan meletakkannya di atas piring bekas gorengan siang tadi yang sudah habis.
"Satu tusuk saja, lainnya nanti makan pake nasi."
Kata Mbak Wening.
"Siaaaaap Maaaaam..."
Sahut Ajeng.
"Hmm..."
**------------**
__ADS_1