
Hari sabtu di akhir pekan ini, Ridwan selepas subuh telah siap untuk pergi bersama Pak Haji Imron ke Jakarta.
Ibu dan Mbak Wening sampai tidak tidur lagi sejak bangun sholat malam karena menyiapkan bekal untuk Ridwan.
"Sebetulnya tidak usah repot-repot Bu, Mbak... Kan di jalan banyak warung."
Kata Ridwan.
"Ini bisa dimakan saat kamu sampai di Jakarta juga, supaya tidak usah bingung cari makan, apalagi di Jakarta itu katanya lho harganya mahal-mahal sekali."
Ujar Mbak Wening sambil menata ayam goreng ke dalam rantang.
Ridwan menghela nafas,
Ya bagaimanapun niat Mbak Wening dan Ibunya adalah niat tulus untuk membuat Ridwan tidak kesulitan cari makan nantinya.
Ridwan akhirnya mengangguk pasrah sambil tersenyum saja, lalu begitu Mbak Wening memberikan rantang susun tiga pun, Ridwan menerimanya dengan ucapan terimakasih.
"Mau oleh-oleh apa nanti dari Jakarta Mbak?"
Tanya Ridwan.
"Aduh tidak usah memikirkan oleh-oleh, pokoknya urusanmu lancar, sukses, kamu pulang lagi dengan selamat, wis itu cukup buat Mbak dan Ibu, ya to Bu?"
Mbak Wening pada Ibunya, yang tentu saja Ibu tampak mengangguk mengiyakan.
Ridwan menyalami Ibu dan Mbak Wening.
"Saya pergi dulu Bu, Mbak..."
Pamit Ridwan.
Mbak Wening dan Ibu mengangguk, lantas kemudian mengantar Ridwan keluar rumah sampai ke teras, bahkan Mbak Wening sampai ke halaman depan,
"Nanti Ajeng pasti nangis kamu sudah berangkat, biar saja daripada nangis minta ikut."
Kata Mbak Wening.
Ridwan tertawa kecil,
"Nanti Ridwan akan cari oleh-oleh untuk Ajeng supaya senang besok malam Ridwan pulang."
Mbak Wening mengangguk.
Ridwan lalu pamit lagi, ia ke rumah Pak Haji Imron dengan berjalan kaki.
Mbak Wening dari halaman rumah, dan Ibu dari teras mengikuti dengan tatapan mata haru dan doa yang tak putus-putusnya agar Ridwan kelak bisa sukses dan tak lagi akan dihina oleh orang-orang sombong seperti Pak Haji Syamsul.
Ridwan berjalan menyusuri jalanan kampung menuju rumah Pak Haji Imron.
Sampai di sana mobil Pak Haji sudah siap di pelataran, driver pribadi Pak Haji sedang mengelap mobil saat Ridwan tiba.
"Assalamualaikum..."
Ridwan mengucap salam,
"Waalaikumsalam..."
Driver Pak Haji Imron, yang namanya pak Karto itu menjawab salam Ridwan.
"Pak Haji nya masih mengaji, duduklah dulu Mas."
Kata Pak Karto pada Ridwan.
Tampak Ridwan mengangguk,
"Sudah sarapan mas? Di dalam disediakan sarapan oleh keluarga Pak Haji."
__ADS_1
Kata pak Karto pula.
Ridwan tampak menunjukkan rantang kecil susun tiga miliknya.
"Saya dibawakan bekal Pak Karto."
Ujar Ridwan.
Pak Karto mengacungkan kedua ibu jarinya.
"Mantap."
Ujar Pak Karto.
"Barangkali mau nyicipi Pak karto, ini masakan Mbak Wening dan Ibu."
Ridwan lantas meletakkan rantang susun tiga miliknya di bangku panjang yang ada di pelataran rumah pak Haji Imron.
Pak Karto mendekat, dan saat rantang itu dibuka, tampak ayam goreng yang menggoda seolah memanggil ingin dicicipi.
"Boleh nih makan satu?"
Tanya pak Karto.
"Lho, monggo Pak, silahkan silahkan, lebih juga tidak apa-apa."
Ridwan malah senang sekali Pak Karto bersedia mencicipi.
"Waduh jadi enak, kebetulan di dalam ada nasi goreng, tek ambil nasi gorengnya dulu, ini ditambah ayam goreng kan mantap."
Ujar Pak Karto.
Ridwan mantuk-mantuk.
"Mas Ridwan mau tek ambilkan sekalian? Sama minumnya opo? kopi? Teh?"
Tanya Pak Karto.
"Ooh teh tawar yo? Oke tek ambilkan dulu, sekalian mau cuci tangan."
Ujar Pak Karto.
Ridwan mengangguk, lalu duduk di kursi plastik di pelataran itu.
Pelataran rumah Pak Haji Imron memang sudah biasa dipenuhi kursi karena setiap malam di sana ramai orang duduk-duduk.
Pak Haji memang menyediakan makanan dan kopi serta teh gratis di depan rumah, jadi siapapun kalau malam orang kampung belum makan, atau misal baru pulang kerja lapar tidak ada makanan di rumah, mau beli ke warung tutup, mereka boleh saja makan di tempat Pak Haji.
Makanan yang disediakan tidaklah mewah, hanya nasi saja di magicom, lalu lauk seadanya, macam gorengan dan oreg tempe, atau sambal lalab dan tempe tahu goreng, kadang juga hanya kerupuk dan kering kentang.
Tapi jika selama bulan maulid dan Ramadhan, biasanya pak Haji akan menambah menu dengan dendeng daging sapi setiap malam satu toples.
Pak Haji Imron memang sejak sebelum jadi kepala desa, bahkan sejak kakek buyutnya sudah terkenal sekali dermawan, maka tak heran bagi warga kampung dan sekitar jika sangat mencintai sosoknya.
"Nak Ridwan sudah sampai?"
Tiba-tiba Pak Haji Imron muncul di pintu utama, melongok keluar di mana Ridwan tampak duduk.
"Oh nggih Pak Haji."
Ridwan tampak sedikit gugup karena sempat melamun memikirkan betapa beruntungnya pak Haji Imron memiliki sifat baik, dan Allah juga memberikan kesempatan untuknya bisa berbagi serta memang beliau sangat amanah atas hartanya.
Pak Haji Imron yang merupakan lulusan pesantren jelas menunjukkan bahwa orang dengan tingkat ilmu agama yang baik dan dipraktekan dengan istiqomah akan menjadi pribadi yang sangat mengagumkan.
"Nak Ridwan sarapan dulu monggo Nak, nanti supaya di jalan tidak masuk angin."
Kata Pak Haji.
__ADS_1
Ridwan mengangguk,
"Pak Karto sedang menyiapkan Pak Haji."
Ujar Ridwan.
"Ooh Alhamdulillah, nggih nanti sarapan dulu, saya juga mau sarapan dulu."
"Nggih Pak Haji, maturnuwun..."
Bersamaan dengan itu Pak Karto sang driver muncul di pintu samping rumah membawa nampan dengan dua piring nasi goreng dan dua gelas besar wedang teh, serta tak lupa kerupuk.
"Pak Haji, bade sarapan rumiyin niki pak."
Kata Pak Karto.
"Nggih Pak Karto, monggo monggo..."
Pak Haji mempersilahkan.
Pak Haji Imron, laki-laki paruh baya yang sholeh itu lantas masuk ke dalam rumahnya, sementara Pak Karto mendekati Ridwan yang berdiri menyambutnya untuk membantu mengambil piring-piring berisi nasi goreng dan juga gelas wedang teh yang dibawa Pak Karto menggunakan nampan.
"Ayam gorengnya Pak, monggo."
Ridwan mempersilahkan.
Selain ayam goreng, di rantang juga ada dendeng jeroan sapi, dan kering kentang pedas.
Pak Karto mencicipi semuanya karena terlihat lezat.
Dicampur aduk dengan nasi goreng entah apa rasanya bagi Ridwan, tapi tampaknya bagi Pak Karto itu enak saja.
Ridwan dan Pak Karto menikmati sarapan mereka dengan lahap, setelah sarapan, Pak Karto merokok satu batang sebelum nantinya pak Haji Imron keluar dan mengajak mereka berangkat.
"Tidak merokok ya mas?"
Tanya Pak Karto.
Ridwan menggeleng,
"Mboten Pak,"
Pak Karto mantuk-mantuk,
"Kalau saya tidak bisa Mas kalau tidak merokok, pusing bawaannya."
Ujar Pak Karto.
"Nggih sudah kecanduan Pak, semua yang jadi candu memang sulit ditinggalkan."
Kata Ridwan.
Pak Karto mengangguk sambil tersenyum,
"Isteri sih ribut terus supaya berhenti, katanya mubazir, tapi tidak merokok juga saya tidak semangat kerjanya."
Kata pak Karto sambil kemudian tertawa.
Ridwan mesem tipis,
"Nanti akan ada masanya pak Karto menemukan semangat kerja bukan karena rokok, kalau untuk saat ini semangatnya karena rokok ya apa boleh buat, tapi tetaplah berusaha meninggalkan yang sekiranya memang lebih banyak mudhorotnya. Pelan-pelan, yang dari dua bungkus cukup satu bungkus, yang satu bungkus jadi setengah bungkus."
Kata Ridwan halus.
Pak Karto mengangguk,
"inshaAllah Mas."
__ADS_1
**-------------**