
"Makan Wan..."
Kata Ibu sambil melongok dari tirai pembatas pintu kamar Ridwan.
Tampak, Ridwan sudah sibuk di depan meja belajarnya untuk membaca beberapa pesan lewat email yang baru sampai.
Di antaranya adalah laporan keuangan pertama dari bendahara Yayasan, terkait kebutuhan finishing pembangunan terakhir.
Rencananya, Ridwan akan meminta Iis membuatkannya dalam bentuk laporan yang lebih rapi nantinya, agar bisa segera Ridwan sampaikan kepada anak-anak Almarhum Pak Sahudi.
"Nggih Bu, sebentar, tek kirim email ke Iis dulu."
Kata Ridwan, Ibu pun mengangguk,
"Ya baiklah, setelah itu makanlah bersama,"
Ujar Ibu,
Ridwan tersenyum pada Ibunya seraya kemudian mengangguk,
Ibu kemudian berbalik untuk berjalan menuju ruang makan di mana di sana sudah ada Ajeng yang sedang mengupas jeruk.
Ajeng tadi sudah mengaji sampai lima puluh ayat surah Al Kahfi, dan besok ia akan melanjutkannya dengan Mbah karena Pamannya tidak setiap hari ada di rumah di waktu maghrib hingga isya.
Mbak Wening kemudian juga terlihat keluar dari kamar, ia baru selesai sholat setelah lebih dulu mandi dengan air hangat, ia tampak tergopoh-gopoh ke dapur, untuk merebus air mengganti air panas dalam tremos yang ia pakai sebelumnya untuk mandi.
Sampai dapur, Mbak Wening kemudian terlihat terkejut, karena melihat ceret air sudah ditumpangkan di atas kompor yang menyala.
"Makan sekalian Ning, perut kosong mudah masuk angin."
Ujar Ibu yang muncul dari pintu masuk dapur, Mbak Wening agak terkejut karena Ibu tiba-tiba saja sudah ada di sana.
"Ibu yang rebus air? Maaf nggih Bu, tadi Wening buru-buru ngejar waktu sholat lebih dulu."
Kata Mbak Wening,
Ibu tersenyum sambil berjalan ke arah rak piring mengambil beberapa piring kosong,
"Wening saja Bu, nanti Wening yang bawa, ini Wening sekalian tunggu air mendidih, sepertinya sebentar lagi."
Kata Mbak Wening pula,
"Wis tidak apa-apa, ini piring Ibu saja yang bawa, itu nanti kamu buatkan saja adikmu teh tawar,"
Ibu pun berpesan,
"Ibu dibuatkan juga tidak?"
__ADS_1
Tanya Mbak Wening,
"Tidak usah, tadi sore Ibu sudah minum teh manis dengan Iis, biar Ridwan saja yang dibuatkan teh, dia suka makannya kurang lahap kalau makan tapi minum airnya air putih."
Ujar Ibu,
Mbak Wening pun mengangguk,
Ibu lantas berjalan membawa piring-piring kosongnya ke ruang dalam lagi, di mana akan dibawanya ke ruang makan,
Kebetulan Ridwan juga baru keluar kamar, Ridwan hendak ke meja makan di mana Ajeng sekarang sedang makan jeruk, namun ia ingat harus bicara dengan Mbak Wening lebih dahulu.
Ridwan tampak celingak-celinguk sebentar mencari Mbak Wening, saat kemudian dilihatnya Ibunya muncul dari dapur membawa piring kosong, Ridwan pun bertanya,
"Mbak Wening di dapur Bu?"
Tanya Ridwan.
Ibu menganggukkan kepalanya,
"Iyo, di dapur itu sedang rebus air untuk seduh teh."
Kata Ibu.
Ridwan pun mengangguk, lantas berjalan menuju ruang dapur, Ajeng sempat kembali mengekor Ridwan dengan matanya,
Namun karena kemudian dia melihat Mbah nya membawa piring kosong, Ajeng pun lebih memilih melompat dari duduknya untuk lantas membantu Mbah nya membawa piring-piring kosong untuk ia dan yang lain santap malam.
Sambil mematikan kompor dan meraih tremos untuk diisi air panas, Mbak Wening terus bersenandung tanpa menyadari kehadiran Ridwan di sana.
"Mbak..."
Panggil Ridwan saat akhirnya ia berada di dapur dan mendekati Mbak Wening,
Melihat Ridwan tiba-tiba muncul, Mbak Wening kembali terkejut, dan wajahnya langsung terlihat takut-takut.
Ada kekhawatiran di raut wajahnya, melihat Ridwan yang memasang wajah tegas itu jelas akan mengatakan sesuatu yang Mbak Wening rasanya tak siap dengar,
Tapi...
Ah sudahlah, pasti memang sudah jelas Ridwan akan membahas ini. Membahas soal bagaimana ia pulang dari rumah bu Lurah bersama seorang laki-laki.
Mbak Wening sudah mbatin lebih dulu.
"Mbak aku mau bicara sebentar."
Kata Ridwan.
__ADS_1
Mbak Wening kemudian tampak berdiri menghadap Ridwan,
"Kenapa Wan?"
Tanya Mbak Wening berpura-pura tenang saja, tak mau terlihat panik,
Ridwan menghela nafas, lalu kemudian bicara lagi,
"Mbak, aku saat ini ingin bicara sebagai adik laki-laki yang bertanggungjawab atas keselamatanmu, dan juga kehormatanmu. Kau tahu bukan, jika apapun yang ada padamu, adalah sama seperti ibu, menjadi kewajibanku menjaganya?"
Ridwan memandang Mbak Wening, yang lantas kemudian mengangguk,
"Aku, tidak akan melarangmu jika ingin menikah lagi nantinya, ingin memulai kehidupan baru dengan laki-laki lain setelah Mbak sekian lama hidup sendiri. Aku paham betul bahwa kebutuhanmu tentu bukan hanya tentang hal-hal yang bisa aku bantu penuhi, tapi..."
Ridwan menghentikan sejenak kalimatnya, ia menatap lebih tajam kakaknya,
"Tapi, aku mohon, demi kehormatanmu sebagai perempuan yang pernah menikah dan kini memiliki anak pula, jagalah perilakumu Mbak, janganlah kamu dekat-dekat dengan laki-laki yang bukan mahrom seperti tadi."
Kata Ridwan.
"Tapi kami tidak melakukan apapun Wan, Mas Amin hanya menjemput ke rumah Bu Lurah, lalu kami langsung pulang tanpa mampir ke manapun dulu, pulangnya terlalu terlambat, memang karena Mas Amin pergi mengantar pulang anaknya lebih dulu ke rumah orangtua mantan isterinya."
Ujar Mbak Wening,
"Ya yang sudah terjadi ya sudah Mbak, bukan aku tidak percaya, bukan aku buruk sangka, tapi aku sebagai adik yang sangat menyayangimu, tentu menginginkan kehormatanmu terjaga."
Kata Ridwan.
"Iya Wan, Mbak berterimakasih."
"Jika Mas Amin memang berniat serius, mintalah dia duduk menemuiku dan Ibu untuk membicarakan niatnya padamu Mbak. Bagaimanapun kalian juga sudah bukan anak SMP dan SMA bukan? Tentu sudah tidak pantas berpacaran. Jika dulu saat Mbak Wening masih gadis saja bisa menjaga diri dari berpacaran karena tahu itu bisa mendekatkan diri pada zina, semoga hari ini, setelah Mbak Wening pernah menikah, Mbak Wening bisa lebih mampu menjaga diri."
Kata Ridwan penuh harap,
Mbak Wening mengangguk, matanya berkaca-kaca,
Ia sudah buruk sangka tadi Ridwan akan bicara kasar padanya, tapi ternyata sedemikian lembutnya Ridwan bicara, hingga hati Mbak Wening malah jadi dipenuhi rasa haru.
Ya, sungguh memang, satu keberuntungan tersendiri pastinya, mendapatkan perhatian dari seorang adik laki-laki yang teramat sayang.
Sayang sang adik laki-laki yang karena Allah itu, yang ia tahu dan sadar betul bahwa menyayangi kakak perempuannya adalah bagian dari kewajibannya.
Menyayangi dengan melindunginya, menjaga kehormatannya, membantu ekonominya jika ia susah, mengurusnya jika ia hidup sendirian hingga tua.
Kakak perempuan adalah semacam Ibu pula, dan Ridwan yang belajar agama dengan baik, tentu saja ingin mengamalkannya pula.
Dan...
__ADS_1
Kasih sayang yang terbesar adalah tentu saja, menjaga semua anggota keluarganya dari kelak bisa masuk api neraka.
**--------------**