
Mobil yang dikendarai Pak Karto akhirnya sampai di depan sebuah hotel bintang lima yang top markotop.
Ya, tentu saja, apalagi kalau bukan Alpha Centauri Hotel. Sebuah hotel bintang lima bertaraf Internasional pastinya, yang sengaja dipilih oleh Pak Bagas, putra dari Pak Sahudi yang ingin menyambut dengan sebaik mungkin Ustadz Ridwan dan Pak Haji Imron..
Ya, bagi orang seperti Pak Bagas dan saudara-saudaranya yang awam tentang agama, tentu rasanya mengenal orang-orang seperti Ridwan dan Pak Haji Imron adalah satu kebanggaan tersendiri.
Mereka merasa bahwa sebagai orang awam adalah wajib memberikan penghormatan kepada mereka yang ilmu agamanya tinggi.
"Ini hotelnya?"
Tanya Pak Haji Imron pada Pak Karto sang driver.
Tampak Pak Karto menganggukkan kepalanya,
"Nggih Pak Haji, Alpha Centauri Hotel kan?"
Pak Karto seolah memastikan, sambil membawa mobil ke parkiran.
"Iya betul, Alpha Centauri Hotel."
Pak Haji Imron membaca tulisan di pesan singkat yang dikirim Pak Bagas.
Sementara Pak Karto sibuk mencari tempat untuk memarkirkan mobil mereka, hp Pak Haji Imron berdering ada panggilan dari Pak Bagas,
"Assalamualaikum..."
Pak Haji Imron cepat mengangkat panggilan Pak Bagas.
"Waalaikumsalam Pak Haji."
Jawab Pak Bagas santun, sebagai laki-laki yang sukses di Ibukota, Pak Bagas dan saudara-saudaranya memang sama sekali tak menunjukkan sikap arogan.
Seperti halnya Pak Sahudi saat masih hidup juga beliau terkenal sangat ramah, meskipun memang di titik kesuksesan hidupnya yang luar biasa, beliau seolah sama sekali tak ada niat pergi ke tanah suci.
"Pak Haji Imron, posisinya saat ini sudah di mana nggih kalau boleh tahu?"
Tanya Pak Bagas,
"Oh kebetulan kami ini baru saja sampai di Alpha Hotel."
Jawab Pak Haji Imron.
"Oalah, sudah sampai to?"
"Nggih Pak Bagas, sudah ini, sudah sampai dan sedang mau parkir."
"Wealah, berarti Pak Haji nanti tunggu di lobbi nggih, ini nanti asisten saya yang langsung ke tempat, kebetulan barusan memang ada rapat, jadi agak repot. Tunggu sebentar nggih."
"Nggih Pak Bagas, tidak apa-apa, kami maklum sekali."
__ADS_1
"Ngapunten sanget lho ini Pak Haji, padahal hari Sabtu tapi memang ya begitulah."
Pak Bagas terkekeh, begitupun dengan Pak Haji Imron.
Mobil diparkirkan Pak Karto di dekat sebuah mobil mewah yang di samping nya juga berjejer mobil-mobil super keren.
Beberapa laki-laki dengan setelan jas rapi dengan rambut cepak dan tubuh tinggi tegap terlihat berdiri seolah mengawasi sekitar.
"Itu apa ya, seperti di film-film hongkong."
Ujar Pak Haji Imron setelah panggilan Pak Bagas berakhir,
"Nggih Pak Haji, dari tadi juga saya memperhatikan mereka, sepertinya mereka ini bodyguard atau semacam itu."
Kata Ridwan.
"Sepertinya benar, mereka itu bodyguard,"
Pak Karto menimpali, Pak Haji Imron pun mantuk-mantuk.
Ridwan lantas keluar lebih dulu dari dalam mobil, beberapa laki-laki berpakaian rapi itu menatap tajam pada Ridwan yang langsung membungkuk sopan.
Melihat sikap Ridwan yang membungkuk sopan, tentu saja para laki-laki itu hanya tersenyum, apalagi jika melihat penampilan Ridwan yang terlihat sekali ia seorang ustadz, yang celananya di atas mata kaki, atasnya kemejanya seperti baju koko, dan kepalanya yang memakai peci rajut macam Kyai Haji Arifin Ilham.
Setelah Ridwan turun, Pak Haji Imron kemudian juga turun, baru kemudian Pak Karto.
Penampilan mereka bertiga yang mirip-mirip terlihat sekali mereka dari kampung.
Tanya Pak Haji Imron bingung.
Pak Karto celingak-celinguk, ia juga bingung tadi ia datang dari arah mana, lalu sekarang mereka harus ke mana.
"Haduuh Pak Karto... Pak Karto... Ini lho kan jadi bingung kita harus ke mana, wong tempat parkir saja seluas ini lho."
Pak Haji Imron pusing tujuh keliling, Pak Karto yang sok tahu sekarang jadi cengar-cengir,
Melihat tiga orang yang jelas dari kampung itu kebingungan, jalan ke kanan lalu balik lagi ke kiri, akhirnya satu dari beberapa laki-laki yang berpenampilan rapi itu mendekat.
"Maaf Bapak-bapak, ini pada mau ke mana ya?"
Tanya si laki-laki berpenampilan rapi yang di bagian kiri jas nya terlihat pin berwarna keemasan.
"Oh nggih Mas, maaf, ini kita mau ke Lobi, tapi bingung ini kita harus ke mana nggih?"
Tanya Pak Haji Imron akhirnya,
"Ooh ke lobi,"
Laki-laki itu tersenyum sambil mengangguk mengerti, ia lalu mengarahkan Pak Haji Imron, Ridwan dan Pak Karto menuju ke sebuah pintu yang mereka tadinya mengira itu pintu darurat atau apa.
__ADS_1
Laki-laki itu kemudian menekan tombol yang pintu di sana terbuka,
"Silahkan itu ada dua lift, silahkan pilih salah satu semuanya berfungsi dengan baik, untuk ke lobbi cukup turun satu lantai."
Kata si laki-laki berambut cepak dengan penampilan rapi tersebut.
"Waaah keren sekali ya di sini, ini seperti kita masuk ruang rahasia ya Pak Haji."
Ujar Pak Karto pada Pak Haji Imron yang terkekeh.
"Terimakasih Mas... Terimakasih."
Ujar Pak Haji Imron,
Ridwan juga sama mengucapkan terimakasih pada laki-laki tersebut,
"Sama-sama Pak Kyai."
Kata si laki-laki sambil tersenyum lalu pamit meninggalkan mereka bertiga untuk kembali bergabung dengan teman-temannya.
Ridwan sempat melihat laki-laki yang baik itu. Buat Ridwan penampilan para laki-laki yang memakai jas hitam dengan pin kecil berwarna keemasan itu sangatlah keren.
"Nak Ridwan, tadi katanya ke mana kita kalo mau ke lobbi?"
Tanya Pak Haji Imron pada Ridwan,
"Turun satu lantai Pak Haji, ini sepertinya kita memang parkir di lantai dua, tadi Pak Karto muter sambil nanjak."
Ujar Ridwan.
"Walah Pak Kartoooo... Pak Karto."
Pak Haji Imron geleng-geleng kepala sambil menatap Karto yang lagi-lagi hanya bisa cengar-cengir.
Mereka akhirnya masuk lift dan menurut turun satu lantai.
Begitu sampai lantai satu, benarlah mereka langsung berada di lobby.
Mereka baru akan berjalan menuju sofa set yang ada di lobbi untuk menunggu asistennya Pak Bagas, saat tiba-tiba serombongan orang masuk ke dalam hotel.
Seorang laki-laki muda yang sangat tampan berjalan beriringan dengan seorang bule, mereka tampak berbincang dengan begitu serius.
Sementara itu, di samping kanan dan kiri mereka tampak beberapa laki-laki berpenampilan rapi mengawal.
Beberapa di antara mereka juga ada yang bule, sepertinya yang bule itu adalah pengawal bule yang kini berjalan melewati Ridwan dan yang lain.
Mereka bicara begitu serius, Ridwan mengikuti mereka dengan matanya.
Orang kaya di Ibu kota auranya saja sudah beda ya? Luar biasa. Batin Ridwan.
__ADS_1
**-----------**