
"Kalau boleh tahu, sinten nggih Ustadz Ridwan, gadis yang beruntung itu? Yang sudah mampu membuat hati seorang pemuda saleh seperti Ustadz Ridwan ini tertambat."
Pak Haji Imron tampak penasaran, Ridwan tersenyum seraya tertunduk, karena ia sebetulnya belum siap untuk menceritakan pada banyak orang.
Pak Haji Imron tersenyum,
"Tidak apa-apa kalau memang belum ingin memberitahu saya, maaf sekali malah jika orangtua ini seperti usil ingin banyak tahu."
Kata Pak Haji Imron membuat Ridwan cepat menggeleng,
"Oh tidak Pak Haji, sama sekali bukan seperti itu."
Ridwan cepat-cepat menyanggah,
"Ngg... Saya hanya belum percaya diri Pak Haji, jika sekarang harus menyebutkan nama, sedangkan belum ada peresmian apapun atas hubungan kami.
Kata Ridwan kemudian.
Pak Haji Imron mengangguk memahami,
"Yo saya paham, panjenengan sebagai laki-laki yang tahu agama pasti memang sangat menjaga daripada mudahnya mulut mengucap sesumbar. Panjenengan tentu juga lebih ingin apa-apa sudah jelas dulu, baru mau mengatakannya."
Ujar Pak Haji Imron, yang tentu diiyakan oleh Ridwan.
"Pokoknya, siapapun gadis itu, saya doakan memang dia adalah gadis yang paling baik dan tepat untuk panjenengan Ustadz."
"Aamiin ya Allah, inshaAllah beliau memang gadis yang baik Pak Haji."
"Alhamdulillah, saya ikut senang mendengarnya Ustadz, panjenengan termasuk laki-laki istimewa, tugas panjenengan juga akan lumayan berat nantinya di tengah ummat. Tentu, panjenengan butuh pendamping yang bukan hanya bagus penampilan atau baik tampak luar saja, namun yang panjenengan butuhkan tentu adalah perempuan yang istimewa pula."
__ADS_1
Ridwan terlihat tersenyum.
Sejatinya ia tak pernah merasa dirinya seistimewa yang dielukan banyak orang, tapi, untuk memahami bahwa ia adalah orang yang memiliki beban tanggungjawab besar, Ridwan memang tahu betul ia memang demikian.
Jika selama ini fokus Ridwan hanyalah pada Anisa sebagai perempuan satu-satunya yang ingin ia nikahi, itu jelas murni karena perasaannya saja yang terpenjara di sana sejak belia dulu.
Namun...
Bilamana saat ini ia kembali pikirkan lagi dengan baik dan lebih dalam, maka jelaslah bahwa yang Ridwan butuhkan adalah sosok perempuan yang juga mampu menjadi pendampingnya sebagai pengajar, dan juga sebagai pengabdi ummat.
"Nanti, kalau sudah dekat, kabari saya kapan kira-kira akan diadakan acara peresmian lamaran dan kemudian pernikahannya. Tentu saya ingin hadir sebagai salah satu keluarga Ustadz Ridwan, itupun kalau memang panjenengan menganggap saya ini keluarga Ustadz."
Kata Pak Haji Imron merendah.
Sungguh memang, karakter Pak Haji Imron ini jelas sangat bertentangan jauh dengan karakter Pak Haji Syamsul yang merupakan Ayah Anisa.
Pengusaha toko perhiasan emas itu, selain angkuh, juga cukup keras dan bahkan terkenal pelit.
"Pak Haji, justru saya yang harusnya berkata demikian, bahwa apalah saya ini, yang hanya anak seorang janda kurang mampu, dan bekerja pun masih sebagai Guru honorer,"
"Ah Ustadz, jangan begitu, tingginya ilmu panjenengan, sudah jelas adalah jauh lebih berharga dari seluruh harta yang dimiliki oleh saya."
"Aduh Pak Haji, ilmu apa, saya juga masih tahap belajar, saya baru hanya menguasai ilmu tapi belum praktek,"
Ridwan terlihat sangat tidak nyaman setiap kali di puji ia memiliki ilmu yang tinggi.
Ridwan jelas bagaikan padi yang semakin berisi semakin merunduk.
Ia sangat rendah hati dan juga apa adanya.
__ADS_1
"Ya, tapi paling tidak panjenengan secara teori sudah sangat mumpuni to Ustadz, berbeda dengan orang awam seperti saya, yang teori saja sepertinya masih sepuluh persen pun belum ada dibandingkan ilmu Ustadz Ridwan."
Pak Haji Imron terdengar merendah, Ridwan jadi makin tidak enak.
"Kalau begitu, nanti kita jadikan saja Pak Haji, membuat acara pengajian khusus untuk bapak-bapak dan Ibu-ibu juga di masjid."
Kata Ridwan,
Pak Haji Imron lagi-lagi mengangguk setuju.
"Oh iya, bagus itu Tadz, kegiatan pengajian rutin setiap hari Jum'at, nanti bisa Ustadz jadikan momentum itu untuk mengajar tentang tata cara ibadah yang baik dan benar sesuai hukum islam dan seperti apa sebaiknya seorang muslim dalam kesehariannya, baik bapak-bapak maupun Ibu-ibunya."
Ridwan tampak menyambut dengan senang apa yang telah disampaikan Pak Haji Imron.
"InshaAllah Pak Haji."
Kata Ridwan.
"Ya, mumpung panjenengan masih bujangan, nanti kalau sudah menikah pasti tidak terlalu banyak waktu di luar rumah."
Kata Pak Haji Imron kembali ke pembahasan sebelumnya, membuat Ridwan benar-benar jadi malu,
"Aduh Pak Haji, inshaAllah meskipun sudah menikah saya kan ingin tetap mengabdi pada Umat."
Kata Ridwan pula, Pak Haji Imron tersenyum, lalu menyeruput wedang teh nya lagi.
"Saya aminkan Ustadz Ridwan, semoga semuanya dimudahkan oleh Allah."
"Aamiin, maturnuwun Pak Haji."
__ADS_1
Ucap Ridwan.
**------------**