
Gilang sedari tadi menunggu Dendy ingin melakukan apa, ternyata tidak melakukan apa-apa. Dendy hanya duduk diam dan senyum-senyum sendiri. Gilang yang melihat itu bergidik ngeri, jangan-jangan setan penunggu sekolah sedang merasuki adik sepupunya itu.
"Den...sudah belum...ayo buruan, sudah malam ini" ucap Gilang menepuk bahu Dendy
"iya...iya..." Dendy mendengus
Gilang merasa bulu kuduknya merinding, ia bergegas menyeret adik sepupunya itu keluar kelas. 'Sudah tahu malam-malam begini pasti meyeramkan berada di sekolah, kenapa malah pakai acara duduk-duduk di kelas' gerutu Gilang dalam hati
"eehhh....sebentar mas..." Dendy mengehentikan langkahnya ketika sudah sampai di depan papan tulis
"apalagi sih Den...kamu tahu di sini makin malam makin seram heh?" kesal Gilang
Dendy mengabaikan gerutuan kakak sepupunya itu. Ia berjalan mendekati papan tulis dan mengambil kapur. Menuliskan sesuatu di papan tulis tersebut. Gilang yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala.
Dia dari tadi sudah menahan rasa takutnya, adik sepupunya itu entah punya rasa takut atau tidak dengan seenaknya mengulur waktu untuk pulang hanya untuk mencorat-coret papan tulis di kelas Dina.
"ayo Den...kamu mau pulang atau tidak, aku tinggal" habis sudah kesabaran Gilang, rasa takutnya mengalahkan segalanya.
"iya...iya mas sebentar" Dendy membuang sisa kapur yang ia pegang tadi sembarangan kemudian ia mematikan lampu kelas dan keluar dari kelas Dina
"jangan lupa pintunya kamu tutup lagi" ucap Gilang yang wajahnya sudah mulai pucat karena merasa takut
Dendy menutup pintu ruang kelas Dina dengan rapat. Saat ia berbalik ternyata kakak sepupunya itu sudah berjalan meninggalkannya sendirian di lorong yang gelap.
Dendy melihat kiri kanan yang semua gelap, entah semua lampu sengaja dimatikan atau memang tidak ada lampunya, tapi di situ benar-benar gelap. Tiba-tiba ia bergidik ngeri membayangkan yang tidak-tidak. Dengan langkah lebar ia menyusul Gilang yang sudah lebih dulu sampai dimana motornya terparkir.
.
.
Di rumah Dina, malam-malam ia merasa bosan, biasanya setiap malam ia habiskan dengan belajar atau membaca buku- buku pelajaran. Tapi sejak ujian akhirnya selesai ia sengaja tidak menyentuh buku-bukunya untuk beberapa hari ke depan. Ia ingin beristirahat sejenak sebelum mulai lagi belajar untuk persiapan tes masuk perguruan tinggi negeri.
Dina menyalakan radionya, sudah menjadi kebiasaan radio di kamarnya itu jarang sekali mati. Dia memutar frekewensi radionya mencari frekwensi SMAX fm. Ia hanya ingin mendengarkan apakah malam-malam begini masih ada yang siaran.
Setelah dia dengarkan ternyata ada Alex dan Joni yang masih berada di studio. Dia menaikkan volume radionya, kemudian ia tidur-tiduran sambil membaca majalah remaja yang ia beli kemarin siang sebelum ke rumah Dendy.
"selamat malam pendengar setian SMAX fm dimanapun kalian berada, kembali lagi bersama Alex di sini . Bagaimana lagu yang tadi Alex putar ? Lagunya sedih banget ya...lagu tadi request dari teman Alex Gilang yang dikirimkan untuk Maya yang sekarang berada jauh di kota seberang, sebentar...sebentar...memangnya radio kita ini bisa sampai kota seberang ya? Semoga saja ya Maya bisa mendengarkan siaran ini.
Setelah ini Alex akan putarkan lagu favorit teman kami, lagu yang selalu dia putar di saat dia sedang siaran atau berada di studio ini. Lagu ini tadi direquest oleh Dendy untuk Dina tersayang yang sedang berada di rumahnya semoga Dina sekarang sedang mendengarkan siaran ini.
__ADS_1
Oiiya...untuk Dina besok kami tunggu kedatangannya di studio untuk siaran menggantikan Joni yang akan pulang ke kampung halamannya.
Pasti sudah pada enggak sabar ya menunggu lagunya diputar, oke...Alex akan putarkan sekarang lagu Sampai Nanti dari BIP spesial untuk Dina tersayang dari Dendy, mari kita dengarkan"
Dina kaget mendengar namanya disebut-sebut. Ia berbunga-bunga mendengar Dendy mengiriminya lagu melalu radio sekolahnya. Sederhana memang, tapi itu sangat berkesan untuk Dina. Hanya dengan hal yang sangat sederhana seperti itu Dina merasa bahagia.
Dina keluar kamarnya dan berjalan ke meja telepon. Dia menekan nemor telepon studionya.
Tutt...tutt....tutt....
^^^☎️halo selamat malam dengan Joni di sini ada yang bisa dibantu?^^^
"Halo, Jon...ini Dina"
^^^☎️eh...Din...ada apa?^^^
"Tadi Dendy ke situ jam berapa? "
^^^☎️hmmmm....sekitar setengah jam yang lalu, dia ke sini mengantar Gilang^^^
"oh...terima kasih ya Jon..."
Setelah selesai menelepon studio, Dina menekan nomor rumah Dendy. Dina berharap Dendy sudah sampai rumah karena menurut Joni Dendy sudah setengah jam yang lalau pergi dari studio
tutt...tutt...tutt...
Setelah lama menunggu teleponnya diangkat, akhirnya terdengar suara merdu seorang wanita di seberang sana
^^^**☎️**halo selamat malam^^^
"Selamat malam tante, Dendy ada?"
^^^☎️ini dari siapa ya?^^^
"ini Dina tante"
^^^☎️oh...Dendy sedang keluar sama Gilang Din..ada pesan?^^^
"ah...tidak tante terima kasih, selamat malam"
__ADS_1
^^^☎️malam^^^
Dina meletakkan gagang teleponnya, dan berjalan masuk ke kamarnya. Seketika ia merasa cemas, kenapa Dendy belum sampai rumah, padahal kalau dihitung-hitung waktunya seharusnya Dendy sudah sampai rumah. Dina tidak tahu saja kalau Dendy sedang uji nyali di dalam ruang kelasnya.
Karena lelah memikirkan Dendy, akhirnya dia tertidur tanpa mematikan radionya. Keesokan harinya Dina bangun lebih awal, karena hari ini dia harus ke sekolah untuk mengembalikan buku-bukunya. Dina sengaja berangkat agak siang, karena sudah tidak ada kewajiban untuk datang pagi-pagi.
Sesampainya di sekolah, setelah memarkirkan motornya ia berjalan ke kelasnya. Teman-teman sekelasnya melihat Dina dengan tatapan aneh, Dina yang merasa sedang diperhatikan tidak terlalu memikirkannya. Ia masuk ke dalam kelasnya, ketika berada di depan pintu ia berpapasan dengan Yuni.
"mentang-mentang sudah punya pacar lagi, pamer terus...." Yuni mencibir sambil berlalu
Dina menautkan kedua alisnya, tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Yuni. Dina berjalan ke meja yang menjadi tempat duduknya selama ini.
Di sana sudah ada Putra yang menunggunya dengan wajah masam. Entah apa yang terjadi Dina tidak tahu apa yang membuat wajah Putra menjadi masam begitu.
"anak-anak kenapa Put?" tanya Dina meletakkan tasnya di meja dan duduk di kursinya.
"entah..." ucap Putra datar sambil menatap papan tulis. Tidak biasanya Putra bersikap seperti itu. Biasanya saat Dina datang Putra selalu menyambutnya dengan senyuman.
Dan kadang melontarkan candaan-candaan kepadanya. Tapi tidak hari ini, ia merasa dari sebelum masuk kelasnya teman-teman sekelasnya menatapnya dengan tatapan seolah-olah sedang menelanjanginya. Waktu di depan kelas Yuni juga berucap seperti itu. Ketika sudah duduk 'pun wajah Putra begitu masam.
Dina merasa jengah, kenapa di saat-saat terakhir dia memakai seragam putih abu-abu ada saja yang masih membuatnya tidak nyaman. Bahkan Putra yang selalu menjadi dewa penghiburnya 'pun mendadak diam.
.
.
.
.
B E R S A M B U N G
.
.
Dukung othor terus ya...please like, komen dan votenya
Terima kasih sekebon bestie
__ADS_1