Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 129 Mengerjai Wilson


__ADS_3

Sebulan berlalu, kini Dina tengah bersiap-siap untuk pindah ke kosnya. Wilson kakak sepupunya sudah mencarikannya kos-kosan yang letaknya hanya di belakang kampus. Jadi Dina bisa hanya berjalan kaki saja jika ke kampusnya.


Semua barang-barang yang akan ia bawa sudah ia masukkan ke dalam sebuah tas besar. Ia juga sudah berpamitan kepada Dendy dan mamanya, meskipun berat tapi ini harus ia jalani.


Dina berangkat tiga hari sebelum masuk kuliah, ia ingin membiasakan dirinya dulu untuk tidur di kamar kos barunya. Dina tergolong sulit untuk tidur di tempat yang baru.


Apalagi sebelum masuk kuliah dia harus mengikuti briefing untuk masa pengenalan kampus bagi mahasiswa baru.


Dina sudah diantar mama dan papanya serta adik-adiknya ke tempat kosnya yang baru ditemani wilson yang sudah mencarikan kos-kosan untuk Dina.


"Wil...kos ini khusus perempuan kan?" tanya pak Joni papanya Dina


"iya om...khusus perempuan, laki-laki dilarang masuk, kecuali kakak, adik atau papanya" jawab Wilson


"ya sudah kalau begitu....terima kasih sudah membantu Dina" ucap papanya Dina


"iya om...sama-sama, sebenarnya papa inginnya Dina tinggal di rumah saja, tapi katanya Dina ingin kos saja ya saya carikan tempat kos dekat kampus" ucap Wilson


"terima kasih Wil... titip Dina ya...apalagi Dina ini belum terlalu mengenal lingkungan sini" ucap papanya Dina


"pasti om...nanti saya sering-sering main ke sini" ucap Wilson


"om mau pulang dulu, sudah sore, takut kemalaman di jalan, om tidak mampir ke rumah, titip salam untuk papamu ya.." ucap papanya Dina sambil masuk ke dalam mobil


"iya om...nanti saya sampaikan, hati-hati di jalan" ucap Wilson sopan


"Wil...titip Dina ya..." ucap mama Vera dari dalam mobil


"iya tante pasti..."jawab Wilson


"dada kak Dina...dada kak Wilson" ucap adik-adiknya Dina melambaikan tangan dari dalam mobil


Dina dan Wilson melambaikan tangannya mengiringi mobil papanya Dina yang mulai berjalan meninggalkan tempat kos Dina.


"kakak tidak usah terlalu sering ke sini, Dina bisa sendiri kok...Dina bukan anak TK yang harus diawasi terus-terusan" ucap Dina bersungut-sungut karena tadi mendengar pembicaraan antara Wilson dan papanya


"siapa yang mau sering-sering ke sini...idih...malas...!." ucap Wilson


"ya sudah kalau kakak sadar" ucap Dina terkekeh "kecuali kakak ke sini mau tebar pesona dengan anak kos sini"

__ADS_1


"di kampus kakak lebih banyak yang bening-bening Din..." ucap Wilson tidak mau kalah


"ya sudah...sekarang antar aku beli makan, aku lapar.... " rengek Dina


"tadi katanya bisa semuanya sendiri....sekarang kenapa minta diantar cari makan?" ucap Wilson sambil naik ke motornya dan memakai helmnya


"aku tidak tahu warung yang enak dan murah dimana kak..." ucap Dina "sebentar tunggu aku, aku ambil helm dulu" Dina masuk ke dalam tempat kosnya dan mengambil helm yang ia bawa dari rumah


"ayo kak..." Dina berjalan sambil memakai helmnya kemudian naik ke boncengan kakak sepupunya "aduh...ini motor kenapa tinggi sekali, mana boncengannya nungging" gerutu Dina yang masih didengar Wilson


"tinggal bonceng saja banyak protesnya" ucap Wilson menyalakan mesin motornya kemudian melajukannya ke tempat makaan biasa dia mengantar teman-temannya


Sesampainya di sebuah rumah makan, Wilson memarkirkan motornya. Dina turun dari boncengan dan membuka helmnya


"aduh... Kakiku pegal gara-gara bonceng motor ini" gerutu Dina "mana tempat makannya jauh pula..." Dina masih menggerutu


"siapa suruh minta diantar? Aku tahunya cuma di sini, kamu tahu sendiri kampusku bukan di sini, jadi aku tidak tahu" ucap Wilson tak kalah menggerutunya. Dia heran biasanya adik sepupunya itu biasanya tidak pernah protes dan cenderung jadi anak yang penurut, sekarang lebih cerewet dari mamanya.


"pokoknya kakak harus traktir aku" Dina berjalan masuk ke rumah makan itu.


"kenapa aku yang disuruh bayar?" gerutu Wilson sambil mengikuti Dina masuk


Dina mengambil makanan untuknya, setelah sampai di kasir ia menunggu Wilson yang dengan santainya duduk di meja dekat pintu masuk


"aku kira makanannya dibungkus, lagipula aku tidak makan kenapa aku disuruh bayar..." Wilson beranjak dari duduknya dan berjalan ke kasir membayar makanan Dina


"kakak tidak makan?" tanya Dina berjalan ke meja yang tadi diduduki wilson


"nanti di rumah saja" ucap Wilson "oh...ya...kamu simpan nomor ponselku ini...kalau ada apa-apa kamu hubungi aku" ucap Wilson sambil menulis nomor ponselnya


"wow....ponsel baru kak? Dibelikan oleh paman?" tanya Dina berbinar melihat Wilson memegang ponselnya


"iya... Kamu juga harus punya ponsel, agar kalau ada apa-apa mudah dihubungi"ucap Wilson menyerahkan kertas yang berisikan nomor ponsel Wilson


"iya aku menabung dulu" jawab Dina sekenanya " ini nomor ponsel kakak, nomornya lumayan mudah diingat, jadi kalau ada apa-apa aku boleh menghubungi nomor ini?" Dina melipat kertas yang diberikan oleh Wilson


"iya...tapi kalau minta ditraktir seperti ini aku tidak akan datang" ucap Wilson sebal


"iya...iya...Dina tahu kak....kakak kan sudah punya pacar siapa itu namanya...aku lupa, kalau aku sering-sering menghubungi kakak nanti dikira aku pacarnya kakak" terang Dina

__ADS_1


"itu tahu....oh...iya yang tempo hari itu bukan pacarku, dia hanya TTM" ucap Wilson sedikit bangga


"TTM itu apa kak?" tanya dina sambil makan


"teman tapi mesra...." Wilson tergelak


"halah...bilang saja selingkuhannya kakak " Dina mencebik "oh...iya mana ponselmu? Bisa buat menyimpan nomor kan?" Dina menengadahkan tangannya


"buat apa Din?" tanya Wilson


"buat nimpukin kucing" Dina melihat ke arah kucing yang ada di depan pintu rumah makan itu


"sadis kamu Din...belum juga sebulan, ponselku dipakai untuk mengusir kucing, tidak mau ah..." Wilson menggerutu tapi juga memberikan ponselnya untuk Dina


Dina menerima ponsel yang diberikan oleh Wilson "tapi jangan sampai tergores ya..." ucap Wilson


"iya...iya..." ucap Dina sambil mengetikkan nomor telepon tempat kosnya


"ini...sudah....nomor kos-kosanku sudah aku simpan di situ mungkin saja kakak mau mentraktir aku kakak bisa telepon aku" Dina mengembalikan ponselnya Wilson


"namanya kenapa begini Din...nanti kalau pacar kakak tahu bisa perang dunia ke sepuluh..." gerutu Wilson sambil mengotak-atik ponselnya mengganti nama Dina di ponselnya.


Dina dan Wilson cukup dekat meskipun mereka jarang bertemu. Mereka bisa dekat karena sewaktu SMA Wilson dipindahkan orang tuanya untuk bersekolah di kotanya Dina karena waktu itu Wilson terlibat pertemanan tidak sehat.


Wilson jarang masuk sekolah, pagi dia pamit berangkat ke sekolah tapi sewaktu di jalan ia tidak jadi ke sekolah melainkan mampir ke tempat teman-temannya yang putus sekolah dan menjadi preman jalanan. Bahkan ia sampai mencuri perhiasan mamanya untuk diberikan ke teman-temannya itu.


Orang tuanya Wilson menitipkan Wilson pada papanya Dina. Selain itu sejak kecil mereka berdua memang paling dekat diantara sepupu-sepupu Dina yang lain.


Bersama Wilson Dina menjadi sosok yang manja, karena waktu kecil ketika rumah mereka berdekatan, Wilson selalu menjaga Dina ketika bermain, bahkan ketika ada anak-anak yang dengan sengaja mengganggu Dina Wilson yang membelanya.


.


.


.


B E R S A M B U N G


mumpung hari senin...ditunggu votenya ya...

__ADS_1


Ditunggu kopi dan bunga juga


Jangan lupa like dan komennya ya, terima kasih sekebon bestie


__ADS_2