
Dendy begitu senang, mendengar Dina tidak malu kalau harus dibonceng dengan motor tua. Itu menunjukkan kalau Dina sederhana, apa adanya dan tidak gengsi.
"Benar.... kamu tidak malu kalau aku bonceng naik motorku Din?" tanya Dendy sambil berjalan ke arah motor Dina yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berbicara tadi
"kenapa musti malu Den, motornya bagus antik, lagipula naik motornya kan pakai baju kenapa musti malu" Dina tergelak sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya
"haish....kamu itu ada-ada saja " ucap Dendy terkekeh
Mereka berdua sampai di tempat parkir. Dendy mengambil helm nya Dina dan memakaikannya. Entah punya keberanian dari mana Dendy bisa melakukan itu. Dina terkejut karena tiba-tiba Dendy memakaikan helm di kepalanya. Tapi beberapa detik kemudian dia tersenyum dan mengucapkan terima kasih
Dendy menyalakan motor dan menyuruh Dina naik ke boncengannya. Dendy melajukan motornya dengam kecepatan agak rendah agar bisa berlama-lama berboncengan dengan Dina. Tidak ada pembicaraan di antara mereka. Mereka sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
Sedangkan Dendy sedari tadi sedang menahan debaran jantungnya yang tak beraturan, seakan mau lompat dari dadanya. Perjalanan yang harusnya ditempuh lima belas menit jadi lebih lama. Dua puluh menit kemudian mereka sampai di rumah Dendy.
Mereka sampai di depan pintu pagar besi bercat putih, rumah dua lantai yang tidak terlalu besar, halamannya pun tidak terlalu luas tapi begitu asri banyak tanaman hias di pinggir-pinggir pagarnya.
"Sudah sampai Din..." Dendy mematikan mesin motornya.
"oh...sudah sampai...ini rumahmu Den?" tanya Dina sambil turun dari boncengan
"bukan..." jawab Dendy
"kalau bukan terus rumah siapa donk?"
"rumah papaku..."Dendy tergelak
"haish....kamu itu...." ucap Dina sebal sambil meninju lengan Dendy
Sedangkan Dendy hanya terkekeh menanggapi protes dari Dina
"Kenapa sepi Den...?" Dina mengedarkan pandangan melihat setiap sudut rumah yang terlihat sepi
"Mama Papa sama adikku sedang ke rumah mas Gilang " ucap Dendy melepaskan helm nya. Dina juga melepaskan helmnya dan menggantungnya di kaca spion motornya.
"Ayo Din...kita masuk..." ajak Dendy membuka pintu pagar rumahnya
"oke..." Dina mengikuti langkah Dendy masuk ke halaman rumahnya
"Aku ambil barang dulu di dalam Din" Dendy membuka memasukkan anak kunci ke pintu rumahnya dan membuka pintunya
"iya...aku tunggu di sini saja ya..." ucap Dina menunjuk kursi taman yang ada di teras rumah Dendy
__ADS_1
"iya...aku masuk dulu, kalau ada apa-apa panggil saja ya.." Dendy masuk ke dalam rumahnya
Dina duduk di kursi taman di teras, mengedarkan pandangan ke setiap tanaman yang ada di halaman rumah Dendy. Banyak macam tanaman hias dan bunga-bunga yang ditanam di pot.
Melihat itu semua tidak sadar Dina tersenyum karena melihat keindahan tanaman berwarna-warni yang menyejukkan mata. Meskipun halaman tidak terlalu luas tetapi semua tanaman yang ada di sana terlihat sangat terawat.
Cukup lama Dina duduk di teras dan melihat-lihat koleksi tanaman mamanya Dendy
"Din..." Dendy keluar dari rumahnya
Dina menoleh ke arah datangnya suara, ternyata Dendy sudah berada di depan pintu.
"kamu melamun" tanya Dendy sambil duduk di sebelah Dina
"eh..tidak Den...sedang melihat-lihat tanaman " Dina menarik kedua sudut bibirnya ke atas
"itu mamaku suka berkebun... maklum halamannya kecil jadi semua di pot" ucap Dendy
"oh...mamamu ya... pantas rapi dan terlihat terawat, aku juga suka berkebun, sayangnya tidak ada waktu setiap hari pulang sore " terang Dina
"sudah Den? katanya ambil barang?" lanjut Dina
"enggak jadi Din, tadi Krisna telepon tidak usah dibawa" kilah Dendy padahal hanya alasan Dendy saja biar bisa berduaan dengan Dina
"itu tadi waktu aku mau masuk kamar tidak sengaja menyenggol mainan yang disusun adikku jadi ya aku bereskan dulu daripada nanti pulang-pulang dia marah" Dendy terkekeh
"oh...berarti kita bisa balik sekarang? " tanya Dina
"eh..iya...kenapa buru-buru Din?" ucap Dendy sambil mengunci pintu rumahnya
"aku harus segera pulang, tadi sudah janji pulang sebelum jam sebelas " ucap Dendy
"ini baru jam sembilan lebih empat puluh menit Din" ucap Dendy sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya
Dina tak lagi menjawab ucapan Dendy, dia berjalan ke arah luar mendekati motornya yang terparkir.
"Masih ada waktu Din, ayo kita jalan-jalan dulu kebetulan di dekat sini ada warung bakso enak" ajak Dendy
"apa tidak apa-apa, kamu kan masih harus balik ke alun-alun?" Dina mengernyit
"tadi waktu telepon Krisna bilang bala bantuan sudah datang semua jadi tidak apa-apa kalau kita jalan-jalan sebentar" Dendy kembali memakaikan helm ke kepala Dina
__ADS_1
"oh..baiklah...kebetulan aku suka makan bakso "ucap Dina sumringah
Dendy melanjutkan ke warung bakso yang berada tidak jauh dari rumahnya. Beruntung warungnya sudah buka, biasanya setiap hari minggu buka agak siang. Dendy memarkirkan motor dan berjalan ke arah gerobak bakso yang ada di depan warung. Memesan dua mangkok bakso dan dua mangkok es teler.
"Den tolong bilang es nya sedikit saja, aku tidak bisa minum es terlalu banyak" ucap Dina menarik bangku panjang untuk dia duduki
"oke Din.." Dendy kembali ke gerobak abang tukang bakso dan memberi tahu pesanan Dina
Dendy berjalan ke arah meja tempat Dina berada dan duduk di depan Dina. Tidak lama pesanan mereka berdua sudah tersaji. Dina mencicipi dulu kuahnya dan mulai menuang sujung sendok sambal dan memeras jeruk nipis yang sudah disediakan oleh pemilik warung. Dendy hanya memperhatikan apa yang dilakukan Dina.
"Kenapa bengong Den? " tanya Dina menatap Dendy yang sedang memperhatikannya
"setiap makan bakso kamu selalu begitu Din?" tanya Dendy
"oh...aku kalau makan bakso memang seperti ini, cicipi dulu kuahnya dirasa dulu apa yang belum pas terus tambahkan cuka, kalau ada jeruk nipis lebih segar, terus sambal sedikit saja biar tidak sakit perut" terang Dina sambil terkekeh
"oh begitu, kamau tidak pakai saos atau kecap Din?" tanya Dendy sambil mengambil botol saos yang ada di depannya
"aku lebih suka makan bakso yang kuahnya bening Den, tidak suka kuah yang berwarna-warni " Dina terkekeh dan mulai menyendokkan bakso ke mulutnya
"selera orang beda-beda ya Din" Dendy 'pun juga terkekeh
Mereka makan dalama diam, menikmati makanan favorit mereka dengan cara mereka masing-masing.
"enak juga Den baksonya " ucap Dina
"iya, mas Gilang juga suka makan di sini padahal dia tidak begitu suka bakso " ucap Dendy sambil menyeruputes telernya
"oh... es telernya juga pas manisnya " ucap dina sambil menyendokkan es teler ke mulutnya
.
.
.
.
*B E R S A M B U N G
*yuk...bestie digoyang jempolnya tolong di like dan komen ya... mumpung hari senin tolong votenya ya...
__ADS_1
Terima kasih sekebon bestie 😘😘😘