Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 83


__ADS_3

Di studio keempat orang yang masih ada di studio sedang menikmati gorengan yang tadi dibeli Dina.


"jarang ke sini sekalinya kesini bawa pacar cuma naruh gorengan lalu pergi lagi" ucap Anto sinis


"kalau tidak tahu lebih baik diam, sebenarnya masalahmu dengan Dina itu apa? Setahuku kalian satu kelas, dan kalian juga sudah dekat dari kelas dua " tanya Alex yang dari kemarin heran kenapa Anto begitu menyudutkan Dina.


Padahal Dina tidak pernah menyinggung mereka. Dina itu orang yang paling berhati-hati dalam bersikap. Lebih baik menghindar daripada menyakiti orang lain. Bahkan dengan orang yang sudah terang-terangan membencinya dan menyebarkan kabar tidak baik Dina masih tidak menanggapi apalagi membalasnya.


"tidak ada...." kilah Anto


"atau jangan-jangan kamu suka sama Dina tapi hanya dianggap teman makanya kamu seperti itu" Joni menimpali


Widi hanya diam, mendengarkan tanpa ikut menimpali dia hanya ingin kejujuran yang keluar dari mulut Anto.


"si..siapa yang suka Dina?" Anto mendadak gugup takut perasaannya terbongkar oleh teman-teman yang belum lama ia kenal itu


"sudah mengaku saja....aku juga suka sama Dina, siapa sih yang tidak suka sama Dina? Apalagi di tim ini dia cewek sendiri" Joni sedikit berbohong agar Anto mengaku kenapa mendadak memusuhi Dina


"benar kamu juga suka sama Dina?" ucap Anto yang secara tidak langsung dia mengakui kalau menyukai Dina


Alex dan Joni tertawa mendengar pertanyaan Anto, ternyata umpan yang dilempar Joni mengenai sasaran


"itu dulu... Waktu studio ini masih menjadi gudang" ucap Alex terkekeh


"kamu jangan macam-macam, jangan sekali-sekali menyakiti Dina, kalau Dina menolak kamu seharusnya kamu bisa iklas bukan malah memusuhinya" ucap Widi


"baik...baik...aku memang salah maafkan aku" Anto akhirnya menyadari apa yang ia perbuat justru akan membuatnya semakin jauh dari Dina


"jangan meminta maaf padaku, minta maaflah pada Dina" ucap Widi datar


"kamu harus mencontoh Widi, dia yang dari dulu menyukai Dina hanya dianggap sahabat masih tetap perhatian dengaj Dina" ucap Alex menepuk-nepuk punggung Anto


.


.


Dendy dan Dina berboncengan sangat mesra. Dina tidak tahu akan dibawa kemana karena dari tadi Dendy tidak memberi tahunya. Tapi jalanan yang ia lewati sepertinya menuju rumah Dendy hanya saja lewat jalan memutar yang lebih jauh.

__ADS_1


Mereka berdua telah sampai di depan rumah Dendy. Dendy mematikan mesin motornya dan menyuruh Dina turun dari boncengan.


"kenapa ke rumahmu Den?"


"tadi papa yang menyuruhku membawamu ke rumah, sebenarnya mau mengajak kamu makan siang di rumah" ucap Dendy sambil melepas helmnya


"kenapa tidak bilang tadi waktu jemput aku? " Dina mendadak tidak enak hati


"kamu tadi sibuk, aku tidak berani mengganggumu" ucap Dendy "sudah ayo masuk, tolong bukakan pintu pagarnya"


Dina membuka pintu pagar rumah Dendy kemudian melepas helmnya dan menaruhnya di kursi teras rumah Dendy. Dina hanya berdiri diam di teras tidak tahu harus berbuat apa.


Dendy yang melihat Dina berdiri diam di depan pintu rumahnya menghampirinya "ayo masuk...kenapa diam di sini" Dendy menarik tangan Dina agar mau berjalan masuk mengikutinya


"oh...sudah datang...." ucap mamanya Dendy yang sedang duduk menonton televisi


"iya tante...maaf datangnya kesorean tadi ada tugas yang harus saya kerjakan dulu" ucap Dina sambil merahi tangan mama Tari dan menjabatnya


"tidak apa-apa...ayo masuk langsung ke meja makan saja" mamanya Dendy menarik tangan Dina dan mengajaknya ke meja makan. Kemudian ia mulai membuka tudung saji yang berada di atas meja makan. Terlihat ada beberapa menu yang ada di meja makan tersebut.


"ada acara apa tante? Makanannya banyak sekali " Dina melihat satu per satu makanan yang tersaji di meja makan.


'untung tadi masih harus mengurus laporan di studio, kalau tadi langsung ke sini bisa ditaruh dimana mukaku, ketemu keluarga besar Dendy' batin Dina


"loh..kok malah bengong" mama Tari menepuk bahu Dina


"eh....iya tante...ini bingung mau makan apa dulu" kilah Dina


"Dina itu paling suka makan bakso ma..." ucap Dendy dari depan televisi


sejak mamanya menarik Dina ke meja makan, Dendy lebih memilih untuk menonton televisi saja. Mamanya itu kalau sudah perhatian sama orang pasti anaknya diacuhkan jadi lebih baik dia duduk santai


"kamu temani Dina makan sana, kok malah ditinggal nonton televisi" ucap Papa Dendy yang baru keluar dari kamarnya.


"sudah ada mama, seperti tidak tahu mama saja " Dendy mencebik


"ya kamu harus temani, Dina nanti malu kalau cuma sama mamamu" Pak Doni mendorong bahu Dendy agar mau beranjak dari kursi malasnya.

__ADS_1


"iya...iya...harusnya yang ulang tahun juga harus kasih kuenya ke tamunya" Dendy menggerutu sambil berjalan ke meja makan


Dina yang merasa tidak enak hati karena datang terlambat, akhirnya berjalan menghampiri papanya Dendy yang masih berdiri di depan televisi


"selamat ulang tahun om...maaf Dina tidak sempat membeli kado, ini juga baru dikasih tahu tante kalau om hari ini ulang tahun" ucap Dina sambil menjabat tangan Om Doni


"iya terima kasih... Tidak perlu kado, asal kamu betah berpacaran sama anak om yang berandalan itu om sudah senang" ucap om Doni sambil tertawa


"papa ini ya...anak sendiri dibilang berandalan" Dendy mencebik


"sudah...sudah...ayo kalian makan dulu, ini baksonya sudah selesai mama panaskan" mama Tari menyela perdebatan ayah dan anak itu.


"om...makan dulu..." ucap Dina berjalan mundur meninggalkan om Doni


"tante tinggal ya kalian makan berdua, makan yang banyak jangan malu-malu " mamanya Dendy berjalan meninggalkan Dina dan Dendy di meja makan.


Dendy dengan telaten mengambilkan makanan untuk dimakan Dina. Menuang bakso ke dalam mangkok dan mengambilkan nasi untuk Dina.


"sudah...nasinya jangan banyak-banyak aku masih kenyang" ucap Dina


"iya..tapi baksonya yang banyak ya...ini mama sendiri yang masak" ucap Dendy menggeser mangkok yang berisi bakso ke tempat Dina duduk.


Mereka berdua makan sambil sesekali saling menyuapi, lebih tepatnya Dendy yang menyuapi Dina. Ketika bakso.di mangkok Dina habis Dendy menambahkan lagi-lagi dan lagi sampai Dina protes karena sudah terlalu kenyang.


Sejak tadi papanya Dendy yang duduk di kursi malas depan televisi mengamati Dendy dan Dina yang sedang makan. Ia tersenyum, merasa senang sejak Dendy mengenal Dina, Dendy menjadi anak yang lebih baik. Lebih sering di rumah, mau jika disuruh-suruh mamanya jarang keluar di malam hari. Sebagai orang tua Pak Doni hanya bisa berharap semoga perubahan perilaku Dendy bisa selamanya seperti itu.


.


.


.


B E R S A M B U N G


.


Dukung terus ya...pleas like komen dan votenya

__ADS_1


terima kasih sekebon bestie


__ADS_2